Menangkis benci dengan senyuman

,

Apa yang akan Anda lakukan bila diintimidasi dengan tindakan rasis? Shabana Diouri berbagi pelajaran berharga.

Image

Gambar: iStock

Awal tahun ini di jalanan sepi Edinburgh, Skotlandia, saat menunggu kedatangan pelatih mengemudi, sebuah mobil van putih berisi pria Kaukasia melintas, sambil meneriakkan kata-kata rasis pada saya. Saya mendengar banyak kata tak senonoh standar dan istilah rasis yang umum digunakan sebagai senjata lisan terhadap orang-orang Asia Selatan dan Muslim di sini. Ada tiga pria di dalam van tersebut, yang tampaknya masih cukup muda dan mengenakan baju kerja putih bernoda cat, jadi saya berasumsi bahwa mereka adalah tukang. Mereka semua berteriak bersahutan, namun “Hey, Pakis***!” dan “Kepala handuk!” merupakan dua frasa yang dapat saya tangkap saat itu. Wajah mereka dipenuhi ketegangan karena amarah dan teriakan.

Saya tidak tahu pasti mengapa, namun reaksi spontan saya adalah tersenyum lebar dan melambai seakan mereka adalah teman-teman saya! Mungkin efek mendengarkan ceramah online tentang Habil dan Qabil paginya. Saat saudara yang lebih tua Qabil mengancam saudaranya yang lebih muda dengan kekerasan, tanggapan si adik adalah, “Saya tidak akan membalasmu dengan kekerasan.”

Hal yang menakjubkan adalah reaksi mereka. Van putih tersebut berhenti total tepat di samping saya. Saya dapat melihat wajah kebingungan dan ketidak percayaan ketiga pria muda tersebut dengan jelas, dan mereka dapat melihat saya dalam balutan hijab merah muda tersenyum lebar dengan jelas.

Mereka tidak tampak akan segera sadar dari keterpanaan, jadi untuk memecahkan keheningan yang canggung saya berkata, “Tenang saja, saya memaafkan kalian. Semoga hari kalian menyenangkan ya!” Dan segera saya berlari menuju mobil pelatih mengemudi saya yang baru saja berhenti di belakang mereka.

Setelah latihan, saya mentadaburi ayat Qur’an yang menyampaikan bahwa saat kita dihadapkan dengan kejahatan, kita dapat membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik. Saya pikir, “Betul!” Dan mengapa tidak?

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fussilat 41:34)

Mereka tidak menyangka saya akan bereaksi sedemikian rupa dan sejujurnya, saya juga tidak menyangka. Mungkin mereka berpikir saya akan menciut, berharap ditelan bumi, atau mungkin merasa terintimidasi oleh mereka dan kehilangan kepercayaan diri. Namun tidak, saya sedang bahagia dan saya tidak ingin mereka merusaknya.

Berkaca ke belakang, saya pikir reaksi saya memiliki dampak dan pesan yang lebih besar ketimbang membalas perlakuan mereka dengan cara yang sama. Saya tidak mendukung tindak kekerasan (karena hal ini jelas bentuk tindak kekerasan), namun menghadapi dan menanggapi kekerasan dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Saya telah mencoba berkali-kali sebelumnya untuk membalas sekuat saya, namun setelahnya saya akan merasa marah, sebal, tertindas, dan minder – tanpa ada seorang pun yang dapat menghilangkan perasaan ini selain saya sendiri. Meski begitu, kali ini saya merasa bahagia, lebih kuat, dan memiliki kuasa atas sikap rasis mereka. Siapa yang akhirnya terlihat bodoh? Bukan saya.

Kalau-kalau kalian bertanya-tanya, saya juga mencatat plat nomor mereka dan melaporkannya ke polisi setempat. Reaksi saya tidak menghilangkan kebutuhan saya untuk bertindak. Namun saya sangat senang bahwa menyerap nilai dan petunjuk dari kisah nabi dapat dijadikan bekal saat dibutuhkan. Saya merasa lebih siap menghadapi situasi menyebalkan yang dihadapi kebanyakan kita.

Dan secara tidak langsung bekal tersebut menjadi lebih berbekas pada pelaku kekerasan daripada bekas yang ditinggalkan pelaku pada korban. Alhamdulilah.

 

Postingan ini pertama kali terbit di blog penulis, Muslimah Uninterrupted

Leave a Reply
Aquila Klasik