Modest Style

Lebaran yang (tidak terlalu) saya nantikan

,

Datangnya Lebaran justru dapat menimbulkan beban lebih bagi sebagian orang. Tulis Miranti Cahyaningtyas.

WP Lebaran (iStock)
(Gambar: iStock)

Datangnya Lebaran bagi saya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, selalu menjadi saat-saat yang penuh pertentangan pribadi. Saya tahu, utamanya pada Idul Fitri, inilah saat bagi umat Muslim untuk berbahagia dalam kesucian dan kemurnian, untuk mengadakan pesta makan, untuk merasakan manisnya memberi dan menerima maaf dari orang-orang terkasih.

Jika harus jujur, sudah agak lama saya tidak benar-benar menantikan kedua hari raya ini, maupun menjadi bagian di dalamnya. Entah mengapa, dengan datangnya kedua perayaan ini, status saya saat berada di tengah keluarga bertambah dari sepupu, keponakan atau cucu menjadi pengasuh bayi dadakan.

Begini, kakek saya memiliki sembilan anak yang telah berumah tangga dan masing-masin sudah memiliki anak. Bahkan tanpa adanya acara keluarga besar pun, saya sudah sering mendapat “kehormatan” untuk melakukan tugas-tugas domestik. Adanya acara keluarga berarti “kehormatan” yang berlipat-lipat.

Saya ingat ada satu pertanyaan dari tunangan saya yang saya tanggapi dengan tertawa kecil. Suatu saat sebelum Idul Fitri ia sedang bersilaturahim ke tempat kakek sebelum ia sendiri mudik. Memang ia jadi mendapat kesempatan untuk berbincang dengan keluarga, namun tujuannya datang bukan hanya untuk silaturahim dengan keluarga tetapi juga bertemu saya setelah sekian lama tidak bersua. Seharian saya merasa tidak enak karena ia telah mengorbankan waktu yang seharusnya dapat dipergunakan untuk mudik dengan mengunjungi saya di rumah kakek, sementara saya tidak pernah memiliki kesempatan untuk menemaninya lebih dari beberapa menit saja karena harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah.

Di akhir kunjungannya, ia bertanya, “Dari tadi saya tidak melihatmu duduk, kenapa sih semua orang terus-menerus memanggilmu?”

Saya tertawa dan berkata, “Yah, begitulah setiap tahun.”

Apakah saya sedang mengeluh? Tentu, sebut saja saya mengeluh. Apakah saya tidak ikhlas membantu? Pada awalnya saya ikhlas, sebelum menyadari akhirnya bahwa niat baik saya untuk membantu malah dimanfaatkan dan justru menjadi beban bagi saya sendiri.

Padahal, ada sepupu-sepupu seusia saya yang dapat bersantai seharian tanpa gangguan bersama ponselnya. Saya bukan berharap dapat bersantai-santai dan dilayani orang lain. Saya hanya berharap mereka dapat meringankan tangan untuk ikut membantu membuat rumah kakek lebih layak huni dan membuat semua orang di rumah merasa nyaman, sehingga bukan saya saja yang harus menjadi martir pengasuh bayi dadakan.

Saya bukannya tidak pernah berusaha membicarakan hal ini baik-baik; hanya saja tampaknya suara saya tidak cukup bernilai untuk dipertimbangkan. Begitu sulitkah, jika memang tidak bisa bersikap peka, untuk setidaknya bertanggung jawab atas diri sendiri? Memang sesekali ada yang ikut membantu, namun jika untuk mereka hal ini merupakan soal pilihan, bagi saya ini merupakan kewajiban, entah sejak kapan persisnya.

Jangan lupa, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa seorang Muslim yang meringankan beban saudaranya akan diringankan bebannya pada Hari Penghakiman dan Allah akan membantu umatnya yang membantu saudaranya.[i]

Bagaimana pun, kita tidak mungkin dapat melarikan diri begitu saja dari acara semacam ini. Jadi jika Anda mungkin memiliki pengalaman yang sama dengan saya, saya harap Lebaran Anda tahun ini lebih baik dari sebelumnya dan Anda dapat menikmati hari kemenangan kali ini dengan lebih leluasa.

________________________________________

[i] Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam kitab At-Tirmidzi. Dapat dilihat di sini.

Leave a Reply
<Modest Style