Paranoid babi? Mari memaknai ‘halal’ lebih baik

,

Menghindari babi telah menjadi masalah utama bagi banyak umat Muslim, meski terdapat pengecualian yang berbeda di berbagai tempat. Apakah kita salah memahami gambaran besarnya? Oleh Sya Taha.

Gambar: iStock

Lini masa media sosial saya dipenuhi paranoia terhadap daging babi. Berawal dengan dugaan ditemukannya DNA babi di pabrik Cadbury Malaysia, lalu di Singapura sebuah situs berita yang berasal dari dana patungan menerbitkan tulisan tentang dugaan seorang pelanggan menyaksikan papan talenan yang sama digunakan untuk memotong daging babi juga ikan di sebuah pasar setempat. Belakangan, situs tersebut menyatakan berfokus pada masalah “kontaminasi silang” kedua daging mentah dan dampaknya pada kesehatan.

Meski begitu, saya pikir jika seseorang melihat daging sapi dan ikan mentah dipotong di atas papan yang sama, hal tersebut tidak akan jadi berita. Begitu pula jika pabrik Cadbury menemukan DNA sapi atau ikan, kebanyakan Muslim tidak akan terkejut. Mereka juga tidak akan mendesak “pencucian” darah melalu transfusi maupun menyatakan bahwa mereka akan berkepala sapi atau ikan di Hari Kiamat.

Saat saya kecil, kata Melayu untuk babi digunakan sebagai hinaan terhadap anak lain. Sebagai seorang dewasa muda yang menyelami dunia keagamaan di dalam lingkaran sosial Muslim yang kian konservatif, kata Melayu tersebut digantikan oleh kata Arab dalam percakapan, seakan bunyi yang tidak akrab dapat meringankan apa yang kami rasakan saat mendengarnya dalam bahasa Melayu.

Sejak kapan babi menjadi simbol bagi musuh dunia Islam? Apakah pentingnya makanan dalam kehidupan sosial kita yang menentukan hal-hal mana saja yang termasuk ke dalam kelompok identitas kita dan yang tidak?

Dalam bukunya Purity and Danger (1966), antropolog Mary Douglas menyatakan bahwa sesuatu tidak dengan sendirinya menjadi (tidak) suci – kitalah yang memberi makna pada segala sesuatu dengan tujuan tertentu. Ia melanjutkan dengan pernyataan bahwa ke(tidak)sucian digunakan sebagai penanda batas antara “kita” dan “mereka”.

“Gagasan yang dimiliki pelanggaran tentang pemisahan, penyucian, pembatasan, dan penghukuman sebagai fungsi utama untuk memberlakukan sistem pada pengalaman yang pada dasarnya tidak seragam. Hanya dengan melebih-lebihkan perbedaan antara yang ada di dalam dengan yang ada di luar, di sekitar dengan di bawah, lelaki dengan perempuan, bersama dengan bertentangan, maka sesuatu yang menyerupai keteraturan dapat terbentuk.”

Bisa dikatakan bahwa dalam fikih Islam, babi diterima dan dimaknai sebagai sesuatu yang haram. Namun begitu, keledai peliharaan, ular, katak, dan bekicot termasuk pula di dalam daftar makanan yang harus dihindari dan hampir tidak dapat ditemui berita dengan judul yang mengandung kata “Muslim” bersamaan dengan satupun nama hewan tersebut.

Selain daging babi, tidak didapati lagi pemahaman yang sama tentang apa yang dianggap halal oleh umat Muslim seluruh dunia – berbagai mazhab atau aliran memiliki pemahaman masing-masing.

Sebagai contoh, bagi aliran Sunni, daging kuda dianggap makruh karena kegunaan hewannya sebagai moda transportasi (16:8). Fikih Hanafi memiliki dua sikap terhadap kehalalan kerang dan cumi, sementara aliran Sunni lainnya menganggap keduanya halal (dan nikmat). Fikih Sunni menghalalkan kelinci dan kepiting, sementara fikih Syiah mengharamkannya. Dan banyak lainnya. Suatu kali, seorang guru syariah menyampaikan pada kami bahwa ia akan melakukan taqliq (secara harfiah bermakna “mencontoh”) atau menggunakan pendapat mazhab lain saat ingin makan kepiting amfibi jenis tertentu.

Namun permasalahan ini bukan sekadar tentang apa yang kita makan, tetapi juga apa yang kita gunakan untuk makan. Peralatan makan yang telah bersentuhan dengan daging babi atau hal-hal haram lainnya seperti anggur, tradisi dan praktek memiliki cara yang berbeda. Qur’an menyatakan bahwa makanan milik Ahli Kitab (non-Muslim yang menerima kitab suci seperti Yahudi, Kristiani, dan Sabian) adalah halal (5:5). Ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu, Rasulullah SAW diriwayatkan memperbolehkan umatnya makan menggunakan peralatan milik non-Muslim (baik kaum pagan[i] dan Ahli Kitab[ii]) jika telah dicuci, meski hal ini harus dihindari jika ada peralatan makan lain. Namun intinya adalah Rasul memperbolehkannya.

Otoritas keislaman di negara-negara yang memperkenalkan sertifikasi halal seperti Singapura dan Malaysia akan melakukan ritual penyucian untuk memastikan peralatan masak dan makan di tempat-tempat makan ini menjadi halal. Namun saya belum pernah bertemu dengan satupun Muslim taat yang dengan senang hati makan bersama dengan teman Yahudi dan Kristiani tanpa dirundung rasa bersalah.

Kedua konteks di masa lalu dan masa kini menunjukkan bahwa hal-hal haram meninggalkan ketidaksucian ritual, berbeda dengan kebersihan fisik, yang dapat “mengontaminasi” makanan yang tadinya halal. “Sentuhan haram” membutuhkan ritual penyucian tambahan lebih dari sekadar sabun dan air. Terdapat berbagai daftar yang dapat Anda temukan online berisi daftar bahan-bahan aditif yang berasal dari sumber organik dan anorganik, yang didasari dengan pemahaman bahwa sesuatu yang haram selamanya haram, hingga ke hal-hal terkecil.

Namun dengan menggali hingga ke tingkat molekular membuat saya merasa bahwa kita melupakan gajah di pelupuk mata. Di negara-negara yang penduduknya memiliki ketergantungan parah pada sertifikasi dan logo halal, telah terjadi dua hal: umat Muslim enggan mendatangi restoran yang menyediakan pilihan organik atau vegetarian yang lebih sehat jika restoran tersebut tidak mampu membayar proses sertifikasi halal, dan umat Muslim mudah tertipu stiker halal palsu.

Saat dulu bekerja di sebuah masjid dan ditanyai pertanyaan standar: “Mengapa Muslim tidak boleh memakan daging babi?” inilah jawaban iseng kesukaan saya: sebenarnya, kami boleh memakan daging babi. Qur’an menyatakan:

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (2:173)

Jika kita memakan sesuatu yang sebenarnya haram, saat tidak memiliki pilihan lain atau tidak meniatkan, “maka kita tidak berdosa”. Meski kita harus berupaya sekuatnya untuk memastikan makanan kita dan proses pengolahannya halal, kita juga harus menambah wawasan tentang konsep halal agar tidak hanya mengacu pada metode penyembelihan. Kita juga harus memastikan bahwa makanan kita menyehatkan dan bahwa tukang daging kita menjaga kebersihan dan memiliki pemasok yang beretika.

 

________________________________________

[i] Diriwayatkan oleh Yahya, dalam kitab Muwatta Imam Malik, dapat dilihat di sini. Hadits ini menyatakan bahwa jika seorang Muslim menggunakan pisau miliki ornag pagan, hewan yang disembelih tetap dapat dianggap halal.
[ii] Narrated by Abu Tsa’labah Al-Khusyani, dalam kitab At-Tirmidzi, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik