Modest Style

Buka bersama: silaturahmi atau pemborosan?

,

Miranti Cahyaningtyas merasa ada yang kurang pas dari tren buka bersama saat ini.

WP Buka bersama (Dreamstime) 02
Gambar: Dreamstime

Tanpa terasa, sudah lebih dari setengah bulan Ramadhan terlewati. Kini kita memasuki sepuluh hari terakhir saat orang-orang berlomba-lomba dalam beribadah dan beramal serta berharap mendapat kesempatan untuk bertemu lailatul qadar serta sibuk menyusun jadwal mudik.

Kesibukan lain yang umumnya orang Indonesia lakukan di bulan Ramadhan adalah iftar jama’i (buka puasa bersama). Kegiatan ini nampak semakin menjadi tren belakangan ini dengan semakin banyaknya perkumpulan, perusahaan atau organisasi yang mengadakan acara ini.

Saya tergolong orang yang agak terbawa arus. Tiba-tiba saya tersadar bahwa ada sesuatu yang saya lakukan secara salah pada tiap Ramadhan terkait tren tersebut.

Awalnya, saya menyangka Ramadhan adalah saat yang tepat bagi saya untuk berhemat – ternyata salah besar. Dulu, sebagai anak kos saya selalu mengganggarkan jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan sehari-hari (sewa kos, listrik, pangan, amal), pendidikan (fotokopi, tinta printer), dan lain sebagainya. Saat sedang minim order pekerjaan atau jarang menginap di rumah kakek, maka dapat dipastikan saya tidak memiliki anggaran tambahan untuk bersenang-senang selain nonton bareng di komputer bersama teman-teman.

Karenanya, kedatangan Ramadhan – yang seharusnya mengurangi alokasi anggaran untuk pangan – menumbuhkan harapan tersendiri bagi saya untuk berhemat. Nyatanya, justru kebalikannya. Entah mengapa, Ramadhan membuat orang-orang jadi terlalu bersemangat untuk berbuka atau makan malam bersama di luar.

Tidak masalah sebenarnya jika makan di luar bukan berarti makan di food court atau restoran dengan harga di atas rata-rata harga warung makan. Terkadang, lokasi buka bersama yang jauh dan asing juga mengharuskan saya mengeluarkan biaya ekstra untuk transportasi.

Belum lagi, seringkali buka bersama hanya menitikberatkan pada aspek-aspek makan bersama dan silaturahim, namun kemudian melupakan ibadah lain yang lebih utama dilaksanakan di bulan Ramadhan.

Audit keuangan pada akhir Ramadhan kemudian menunjukkan bahwa saya ternyata justru sudah mengeluarkan uang secara lebih boros di bulan ini dibandingkan di bulan-bulan lain, terlepas dari diikutinya bulan ini dengan kemunculan THR. Kalau saja boros itu karena lebih banyak beramal sih tidak masalah; tapi nyatanya tidak. Setelah menyadari hal ini, saya sering merasa setengah hati namun tidak dapat menolak saat mengiyakan ajakan buka bersama yang datang dengan bertubi-tubi.

Akhirnya, untuk meringankan beban moral saya saat mengikuti acara buka bersama, saya mengajukan sebuah ide pada seorang teman SD, “Daripada kita buka bersama sekadar ‘haha hihi’, perut kenyang, dompet menipis, mengapa tidak sekalian berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang mungkin tidak seberuntung kita dapat berbuka bersama?”

Ide saya seperti ini: Kumpulkan uang dengan jumlah sesuai kesepakatan, lalu siapkan makanan berbuka bagi supir angkot, tukang becak, tukang ojek, tukang parkir, atau pemulung yang akan disebarkan bersama. Tunjuk seorang bendahara yang bertugas menerima, mengeluarkan, dan audit uang keluar masuk; penanggung jawab konsumsi yang bertugas menyediakan makanan dan minuman yang akan disebarkan dan penanggung jawab mobilisasi yang bertugas menentukan lokasi dan pembagian tugas penyebaran. Bagikan makanan satu atau setengah jam sebelum azan maghrib, dan segera menuju ke masjid setelahnya untuk berbuka bersama, shalat berjamaah, makan bersama, bahkan mungkin sekaligus tarawih bersama.

Ide ini sebenarnya disambut dengan semangat. Namun sayangnya, belum dapat direalisasikan karena kebetulan semua teman-teman SD, termasuk saya sendiri, sedang sibuk-sibuknya pada Ramadhan tahun ini. Semoga tahun depan keinginan ini dapat terwujud, jika saya diberikan kesempatan untuk kembali bertemu dengan Ramadhan Karim.

Sekurang-kurangnya, saya ingin mengedarkan “kencleng” (kotak amal) di setiap acara buka bersama yang hasilnya akan disalurkan melalui badan amal sesuai pilihan bersama.

Dan jika penekanan buka bersama lebih pada acara makan bersama dan silaturahmi, sebenarnya tujuan ini dapat dicapai dengan membeli makanan di warung untuk makan beramai-ramai atau bahkan masak sendiri – tidak usah harus di food court atau restoran.

 

Leave a Reply
<Modest Style