Modest Style

Antara Piala Dunia dan Ramadhan

,

Beberapa pihak menyeru kepada umat Muslim untuk tidak menonton Piala Dunia. Namun keluarga, pekerjaan, teman, hobi, dan minat tidak lantas menjadi tidak penting karena kita berpuasa. Oleh Fatimah Jackson-Best.

0701-WP-Worldcup-by-Fatimah-iStock-sm1
Gambar: iStock

Saya bukanlah penggemar berat acara olahraga, namun tolong jangan usik Piala Dunia saya. Saya sangat suka melihat atlet dari seluruh dunia bersaing, dan menyaksikan penonton merasakan kebanggaan atas negara yang bahkan mungkin bukan negara mereka. Saya merasakan kesenangan tersendiri manyaksikan pertandingan yang berlangsung selama 90 menit yang melibatkan beragam pria dari agama, ras, dan etnis berbeda.

Jadi bayangkan kebingungan saya menemukan mim dan pesan buatan umat Muslim yang menyebutkan Ramadhan dan Piala Dunia sebagai dua hal yang bertentangan. Mim dan pesan tersebut menyiratkan bahwa menonton pertandingan sepakbola menghalangi umat Muslim yang sedang berpuasa dari merasakan dampak Ramadhan seutuhnya karena mengalihkan perhatian dari puasa kita dan tidak memiliki manfaat spiritual. Pernyataan tersebut dibuat tanpa mengindahkan kenyataan bahwa ada banyak pemain Muslim dalam industri sepakbola dan banyak yang akan bertanding sambil menahan diri dari makan dan minum.

Gagasan semacam itu tidak aneh lagi bagi umat Muslim; bulan ini kemungkinan besar kita akan menemukan orang yang menghindari televisi, musik, dan kesenangan lainnya selama 30 hari dengan harapan dapat mencemplungkan diri mereka secara penuh dalam semangat Ramadhan. Hal tersebut merupakan pilihan pribadi dan tidak seorang pun dapat menentukan benar tidaknya kecuali mereka yang membuat batasan-batasan ini sendiri.

Meski begitu, di bulan di mana introspeksi pribadi harus menjadi bagian dari keseharian, saat ini juga menjadi waktu yang tepat untuk mengaji kembali mengapa kita berpikiran bahwa “berpuasa yang baik” sama dengan tidak menonton Piala Dunia dengan tujuan membuktikan komitmen kita terhadap Ramadhan.

Secara realistis, kehidupan tidak berhenti bagi kebanyakan orang saat Ramadhan – terutama bagi kita yang tinggal di negara-negara dengan non-Muslim mayoritas. Mungkin ada beberapa tempat kerja yang akan meringankan beban kerja pekerja Muslim di bulan ini, dan mungkin teman dan keluarga yang tidak berpuasa akan menjadwalkan acara sosial setelah puasa berakhir. Namun bagi banyak lainnya, kehidupan akan terus berjalan dengan kecepatan yang sama. Kita harus belajar menyelaraskan diri dengan perut kosong dan tenaga minim.

Tantangan semacam ini telah lama menggambarkan bulan Ramadhan. Kita hanya perlu melihat Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, yang kita ketahui berperang dan berlatih untuk tiga perang (Perang Badar, Khandak, dan Tabuk) pada bulan Ramadhan. Kita juga tahu bahwa ada ketentuan khusus bagi Muslim yang bepergian saat berpuasa.

Contoh ini memperlihatkan bahwa umat terdahulu menahan diri dari makan dan minum sekaligus menangani masalah hidup. Contoh tersebut juga merupakan bukti bahwa Allah, yang Maha Mengetahui, tahu betul bahwa hidup akan terus berjalan saat kita memenuhi kewajiban kita hingga memberikan petunjuk untuk membantu kita menghadapi tantangan-tantangan ini.

Tentu saja, berperang dan bepergian tidak sama dengan menonton pertandingan sepakbola. Namun saat kita menganggap kegiatan ini sebagai kegagalan memanjatkan doa atau beribadah, maka kita termakan pemahaman bahwa tidak ada kehidupan di luar tindakan berpuasa. Ini berarti kita mengabaikan keluarga, pekerjaan, teman, hobi dan minat yang tidak lantas menjadi tidak penting saat kita berpuasa.

Sebaliknya, saya percaya mempelajari cara mengatur beragam tanggung jawab dan peran untuk 30 hari merupakan bagian penting dari Ramadhan – yang berpontensi memperkuat keyakinan dan membantu kita menjadi mukmin dan individu yang lebih baik.

Bagi saya, setiap Ramadhan merupakan kesempatan bagi penyadaran dan refleksi spiritual – begitu pula setiap hari dalam hidup kita. Daripada melihat Ramadhan sebagai kesempatan tahunan untuk menjadi Muslim yang ideal, kita akan mendapat manfaat dengan menjadikannya sebagai kesempatan unik dan istimewa untuk mencari sumber kepuasan lain. Dalam mencapai hal ini, bisa jadi kita melibatkan olahraga dan hiburan, yang mungkin tidak sekaligus terjadi dalam satu bulan.

Namun memahami bahwa Ramadhan merupakan titl awal mungkin dapa membantu mengangkat beban dan batasan-batasan tidak mendesak yang kite beri pada diri sendiri dan orang lain. Dalam 30 hari, banyak hal bisa terjadi, namun ada baiknya memahami bahwa bagi sebagian orang, perubahan tidak terjadi dengan cukup cepat.

Entah Ramadhan Anda melibatkan pertandingan Piala Dunia atau tidak, mari ingat bahwa 11 bulan yang datang sebelum dan sesudahnya juga merupakan kesempatan kita untuk mengingat Allah dan mendorong batasan keimanan kita.

Leave a Reply
<Modest Style