Modest Style

Pesan para nabi membimbing saya pada Islam

,

Theresa Corbin mengisahkan perjalanannya menemukan Islam.

WP-Message-by-Theresa-iStock
Solusi yang indah. (Gambar: iStock)

Sebagaimana kebanyakan kejadian yang mengubah hidup, pengalaman saya terjadi di dalam mobil. Mobil hatchback tahun 80an bobrok berwarna cokelat, lebih tepatnya. Semua barang-barang saya telah dipak dan dimasukkan paksa ke bagian belakang mobil, hingga dari luar tas-tas kami seakan berada di dalam ruang kedap udara.

“Saya percaya Tuhan itu ada, oke? Saya hanya belum menentukan letaknya maupun fungsi jelasnya,” ujar saya pada teman sekamar, yang memberi saya tebengan pulang kampung dalam rangka libur musim panas di dalam mobil penuh barang-barang kamar kami.

Kami berhasil bertahan melalui tahun pertama perkuliahan, namun iman kami berdua tidak. Teman sekamar saya dulunya beragama Kristen Baptis dan saya Katolik. Namun percakapan tanpa henti, kelas-kelas, dan riset mandiri kami tentang agama, kebudayaan, dan sejarah dengan sukses mengubah cara pikir kami tentang Kristen tahun itu.

Mengenang tahun lalu, saya menyadari betapa berbedanya saya saat pertama kali memasuki universitas. Saya memandangi teman sekamar saya yang duduk dalam rengkuhan terik musim panas berbalut celana longgar, kemeja lengan panjang longgar, dan kerudung yang menutupi rambutnya. Saya sadar perjalanannya tahun itu jauh lebih dramatis.

Dalam pencariannya, ia menemukan sesuatu yang sangat berbeda, namun anehnya familiar – sesuatu yang disebut Islam.

Dalam semua diskusi kami tentang asal mula Yesus (Isa) dan Tuhan, ilmu pengetahuan, dan bagaimana budaya membentuk apa yang orang percayai, kami belum membicarakan tentang para nabi.

Sampai saat kami berada dalam perjalanan tersebut.

Kebosanan mengantarkan kami kembali pada diskusi tentang keyakinan. Ia ingin mengetahui apa yang saya percayai setelah meninggalkan Kristen. Dan saya sampaikan padanya bahwa saya memiliki kecenderungan pada Judaisme, dan berpikir itulah kebenaran yang haq.

“Semakin jauh kau menelusuri, semakin jauh umat manusia mengubah pesannya,” balasnya menanggapi.

“Tuhan mengirimkan kita nabi-nabi. Mereka semua memiliki pesan yang sama: beribadahlah hanya pada Tuhan dan ikuti contoh Rasul. Dan setiap kali, umat manusia mengubah pesannya – baik dengan cara mulai menyembah dewa-dewa palsu maupun mengabaikan aturan yang dibawa oleh rasulnya – Tuhan akan mengirimkan rasul lain dengan kebenaran yang haq dan pesan untuk umat,” ujarnya.

Tidak sekali pun dalam pelajaran sekolah Katolik tentang para rasul atau di kebaktian Minggu yang saya hadiri saya pernah mendengar tentan pesan para rasul. Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa semua kisah dan pria tua di Injil dihubungkan oleh satu pesan.

Ia melanjutkan, “Pesan Musa, pesan Nuh, pesan Ibrahim, pesan Isa, dan pesan Muhammad semuanya sama. Rasul-rasul pendahulu membawa aturan yang berbeda karena mereka mendatangi kaum yang berbeda, namun pesannya sama: Beribadah hanya pada Tuhan, ikuti ajaran para rasul.

Ia menceritakan keislaman barunya. Ia berbagi pengetahuannya tentang seorang pria yang tidak pernah saya dengar sebelumnya – Nabi Muhammad SAW. “Rasul terakhir yang didatangkan untuk seluruh manusia dengan pesan yang sama dengan semua rasul sebelumnya. Dan sebagai nabi terkahir, aturan yang dibawanya adalah untuk seluruh umat manusia. Pria ini bernama Muhammad,” terangnya.

Teman saya bercerita tentang seorang pria yang datang dengan pesan yang sama dengan Ibrahim, Musa, Ishak, Ya’kub, Isa. Ia bercerita tentang seorang pria yang mencintai Tuhan, yang baik hati pada hewan, dan yang jujur, lembut, serta menghargai wanita. Ia bercerita tentang seorang pria yang menderita karena berusaha menyampaikan pesan Tuhan; pria yang mampu membuat keajaiban; pria yang peduli pada mereka yang miskin dan lemah.

Saya terpikir tentang saat berada di sekolah Katolik dan diajarkan tentang Nuh dan bagaimana umatnya mengabaikan pesannya (apa pesan Nuh, sebenarnya tidak pernah diceritakan) dan dihancurkan oleh banjir.

Saat itulah saya takut akan mengalami hal yang dialami oleh orang-orang pada masa Nuh. Mudah sekali rasanya menyebut utusan Tuhan gila. Jadi di kelas tersebut, saya berdoa dengan sepenuh hati dan jiwa raga agar Tuhan membimbing saya jika Ia mengirimkan rasul lain.

Kembali ke percakapan saya dengan teman sekamar di mobil tersebut, saya menyadari bahwa rasul yang saya maksud di dalam doa tersebut adalah Nabi Muhammad SAW. Doa saya terjawab di dalam perjalanan tersebut.

Leave a Reply
<Modest Style