8 poin pranikah bagi Muslimah mualaf

,

Pindah agama dan memasuki pernikahan terlalu cepat tanpa persiapan yang cukup bisa menghasilkan bencana.  Oleh Theresa Corbin.

young arabian businesswoman
(Gambar: Fotolia)

Dari mengucap syahadat ke janji nikah, Muslimah mualaf baru seringkali langsung memutuskan untuk menikah sebelum mengetahui lebih banyak tentang Islam atau siapa diri mereka sebagai Muslim. Meski hal ini mungkin tidak masalah bagi beberapa orang, bagi beberapa lainnya ini bisa berarti bencana saat mualaf baru sedang memantapkan diri dalam beragama.

Situasi setiap orang berbeda. Beberapa Muslimah mualaf baru menemukan pendamping yang menguatkan mereka dalam merengkuh keyakinan dan membantu mereka menyesuaikan diri dalam jalan yang baru. Sementara lainnya menyadari bahwa mereka terlalu cepat menikah, dan dengan seseorang yang tidak terlalu agamis pula. Dan tentunya ada pula yang menyadari bahwa pernikahan mereka sama sekali tidak seperti yang mereka bayangkan.

Saat Muslimah mualaf baru mempertimbangkan soal pernikahan, ia harus mempersenjatai dirinya dengan pengetahuan tentang Islam, pemahaman tentang dirinya, dan apa yang ia inginkan untuk masa depannya. Sebelum merencanakan bulan madu penuh kegembiraan atau memilih gaun pengantin yang indah, Muslimah baru harus mempertimbangkan hal-hal berikut:

1. Kontrak pernikahan

Ini yang tidak disadari oleh kebanyakan wanita yang menikah ketika baru menjadi mualaf. Di dalam pernikahan yang Islami, calon istri memiliki hak untuk menambahkan sebanyak mungkin persyaratan di dalam kontrak. Calon suami harus menyetujui dan menjalankan persyaratan-persyaratan tersebut, atau pernikahan akan dianggap tidak sah.

Kontrak pernikahan Islami adalah semacam perjanjian pranikah yang melindungi kepentingan wanita. Jika apa yang tertera di artikel ini Anda rasa penting untuk ditambahkan ke kontrak pernikahan, maka lakukanlah.

2. Kewarganegaraan

Banyak Muslimah yang telah mengalami masalah tragis ini. Ceritanya sama: si wanita menjadi mualaf, jatuh cinta atau menerima tawaran menikah dari seorang pria yang tujuan satu-satunya adalah mendapatkan kewarganegaraan di negara si wanita. Segera setelah status kewarganegaraan didapatkan, si pria pergi meninggalkan si wanita – terkadang bahkan sekaligus membawa anak-anak dan kekayaan atau properti apapun yang dimiliki si wanita.

Memang tidak menyenangkan untuk dipikirkan, tetapi Anda harus sadar bahwa hal itu terjadi – dan sering. Saat Anda dihadapkan dengan kemungkinan pernikahan dengan seseorang yang bukan warga negara namun ingin pindah dan tinggal di negara Anda, waspadalah. Jawaban paling baik yang bisa Anda berikan adalah jika Anda mempertimbangkan menikahi seorang pria yang bahkan tidak memiliki visa adalah ia harus mendapatkan visa melalui atasannya dan bukan melalui Anda.

3. Tempat tinggal

Sisi lain kewarganegaraan adalah banyaknya Muslimah baru yang menikahi pria yang menolak tinggal di tanah air mempelai wanita. Jika calon suami Anda ingin Anda tinggal dengannya di negaranya, Anda harus memahami apa-apa saja yang akan Anda hadapi. Akankah Anda mampu beradaptasi? Kenyamanan apa saja yang akan Anda tinggalkan?

Melakukan riset tentang negara yang dituju juga akan berguna. Anda bisa mempertimbangkan situs-situs gaya hidup ekspatriat, di mana orang-orang dari negara atau wilayah asal Anda membahas pengalaman mereka pindah dan tinggal di negara baru.

4. Ambisi masa depan

Memahami apa yang pendamping Anda inginkan di masa depan itu penting. Apakah ia ingin Anda menjadi ibu rumah tangga tetapi Anda berencana kembali bersekolah dan mengejar gelar master? Apakah ia ingin Anda sekolah kedokteran dan menunda memiliki anak padahal yang paling Anda inginkan adalah menjadi ibu rumah tangga?

Apakah suami Anda akan menjadi penyemangat terbesar Anda, atau hambatan Anda? Pertanyaan-pertanyaan ini harus Anda pikirkan. Jawabannya bisa saja membantu Anda menghindari keharusan membuat banyak keputusan sulit dan sakit hati ke depannya.

5. Harapan pasangan

Sementara Anda sedang membahas apa yang Anda inginkan di masa depan (nomor 4), cari tahu harapan calon Anda tentang urusan rumah tangga, asmara, dan isu lainnya yang penting bagi Anda. Akankah Anda berdua sama-sama bertanggung jawab atas urusan rumah tangga, atau mungkinkah Anda berdua lebih suka bernegosiasi perihal pembagian tugas? Jika memiliki anak atau binatang peliharaan, apakah pembagian tugas rumah tangga akan berubah?

Apa yang Anda harapkan dari satu sama lain dalam hal asmara? Apakah Anda akan melakukan kencan nonton atau makan malam rutin? Apakah Anda menginginkan hadiah di waktu-waktu istimewa? Apakah Anda bisa membicarakan masalah intim dengan satu sama lain dan membicarakan keinginan dan kesukaan Anda?

6. Tingkat keimanan

Banyak Muslim melakukan yang terbaik untuk menyenangkan Allah dalam setiap perbuatan mereka; beberapa lainya mungkin hanya Muslim KTP. Sebagai mualaf baru, perbedaannya mungkin tidak terlalu jelas terlihat, tetapi hal ini penting.

Saat Anda mulai mempelajari keyakinan baru Anda, Anda mungkin akan kehilangan rasa pada suami yang tidak begitu taat berislam. Meski Anda memiliki kesempatan untuk mendorong pasangan Anda agar menjadi lebih baik, keputusan untuk berubah tetap menjadi keputusannya.

Tanyakan calon suami apakah ia shalat lima waktu sehari, apakah ia berpuasa saat Ramadhan juga di hari-hari lain, apakah ia berzakat, apakah ia telah atau berencana berhaji (dengan Anda mungkin?). dan tanyakan apakah ia bersedia mengajari Anda belajar bersama Anda (tidak ada orang yang sempurna).

7. Tabrakan budaya

Pelajari harapan-harapan budaya calon keluarga baru Anda. Seringkali, jika Anda menikah dengan seseorang dari kebudayaan berbeda, Anda akan mendapat tekanan untuk membaur. Beberapa mempelai wanita tidak merasa masalah dengan ini; sementara beberapa lainnya tidak ingin memiliki apa yang mereka lihat sebagai identitas kedua.

Setiap keluarga berbeda. Bicarakan dengan calon suami Anda apa yang diharapkan dalam tradisi budayanya. Dan tanyakan apakah ia atau keluarganya akan mengharapkan Anda mengikuti kebiasan-kebiasaan tersebut.

8. Poligami

Meski pria Muslim bisa menikahi hingga empat wanita, bukan berarti Anda harus menjadi bagian dari hubungan poligami jika Anda tidak menginginkannya. Tanyakan pada calon apakah ia sudah menikah atau berniat menikahi wanita lain nantinya.

Jika ia sudah menikah atau berniat menikah lagi, dan Anda tidak bisa menerima hal itu, pegilah. Jika Anda tidak merasa bermasalah menjadi salah satu dari dua, tiga, atau empat istri, maka terserah Anda. Meski begitu, jika Anda tinggal di negara di mana poligami ilegal, jangan mau melanggar hukum. Poligami adalah pilihan, bukan keharusan. Kita harus mematuhi hukum di tempat kita tinggal.

Sebagaimana halnya dengan mengucap syahadat, mengucapkan janji nikah adalah keputusan yang mengubah hidup. Pernikahan dengan orang yang tepat membuat hidup lebih bermakna, lebih bergairah, dan lebih menyenangkan. Jadi pastikan Anda memilih orang yang tepat dengan bersikap apa adanya dan memastikan harapan-harapan Anda berdua dijabarkan dengan jujur.

Leave a Reply
Aquila Klasik