Modest Style

Memberi atau Tidak Memberi?

,

Interaksi dengan seorang pengemis di Singapura membantu Maryam Yusof mengkaji nilai-nilai dan prasangkanya di momen Ramadhan.

Gambar: SXC
Gambar: SXC

 

Ia seperti muncul begitu saja. Ia tampak berusia sekitar tiga puluhan, dan sedang mendorong sebuah sepeda tua yang berderik saat berjalan. Mengenakan kaos kotor, dengan tato yang terlihat di lengan dan wajahnya. Saya teringat seorang teman bercerita bahwa beberapa anggota geng menato bagian tubuhnya untuk menandai diri, dan saya kira tato yang dibuat di wajahnya itu berarti ia adalah anggota dari salah satu geng.

Dengan suara lembut dan sopan yang terdengar kontras dengan penampilannya yang kasar, ia bertanya, ‘Permisi, apakah Anda bisa berbicara bahasa Inggris?’

Saya mengangguk.

Saya sedang berdiri di sebuah jalan yang mungkin paling menarik yang pernah kita temui di Singapura. Saya berada di pangkal jalan di sebuah area yang menjadi bagian dari daerah yang sebelumnya merupakan kantong Arab-Muslim, menunggu ibu saya menjemput setelah kelas agama (yang berakhir cukup larut malam saat itu). Di ujung jalan itu berjajar kafe-kafe yang unik dan tempat makan kelas-atas yang banyak dikunjungi para yuppies. Di antara dua bagian jalan ini adalah sebuah area yang dipenuhi dengan tempat karaoke mesum, kedai kopi dan hotel kelas bawah – juga dikenal dengan area tempat prostitusi beroperasi.

Berdiri seorang diri di bagian jalan yang sepi dan lengang membuat saya ketakutan. Tak seperti di bagian ujung jalan yang sibuk, hanya beberapa orang saja yang berjalan menuju halte bus terdekat dan beberapa mobil yang melintas di tempat saya berdiri.

Ketika laki-laki ini mendekati saya, respons lawan-atau-lari mulai merangsek.

Menyadari ketidaknyamanan yang tersirat di wajah saya, ia melanjutkan, ‘Tolong nona, saya tidak punya uang dan saya lapar karena belum makan hari ini. Saya mulai bekerja besok dan saya hanya perlu uang untuk makan hari ini.’

Saya bukan tipikal orang yang menghindari berderma. Lagipula, Islam mengajarkan kita untuk mau berbagi; dalam pelajaran yang baru saja saya terima, ustadz saya menyampaikan tentang berderma dan keutamaannya. Namun, ketika laki-laki itu meminta uang kepada saya, insting pertama saya adalah berbohong.

‘Oh, maaf, saya tidak membawa dompet hari ini,’ saya berbohong. Di saat itu, kisah-kisah yang banyak beredar dan terlalu banyak tontonan Criminal Minds dan Law and Order menghantui pikiran saya. Dalam kisah-kisah itu, para kriminal mengambil keuntungan dari empati korbannya – situasi yang saya hindari. Bagaimana jika ia merebut dompet saya ketika saya mengeluarkannya, dan kemudian pergi? Bagaimana jika kemudian ia menggunakan uang yang saya berikan untuk membeli alkohol, rokok atau untuk jasa prostitusi di ujung jalan?

Meski demikian, ia bersikeras dan bertanya, ‘Bisakah tolong Anda cek apakah ada koin dalam tas Anda?’ Saya merogoh tas dan meyakinkan bahwa saya tidak punya uang sama sekali. Ia mengangguk seolah menandakan ia sudah paham, berterima kasih kepada saya, dan kembali mendorong sepedanya pergi dengan kecewa.

Sambil memandang ia berjalan pergi, saya mulai mempertanyakan diri saya sendiri. Mengapa saya melakukan itu? Ia tidak meminta banyak. Sepiring nasi dari kedai kopi mungkin hanya berkisar S$3 paling mahal, sejumlah uang yang bukan menjadi masalah buat saya. Apakah reaksi saya akan berbeda jika seorang perempuan tanpa tato keanggotaan geng yang mendekati saya? Saya menyadari bahwa prasangka buruk dan pola pikir menghakimi ‘orang-orang seperti mereka’ telah mempengaruhi penalaran dan penilaian saya. Di saat itu, saya menyadari betapa bodohnya saya dan betapa saya malu atas sikap saya. Saat-saat sulit bisa dialami siapa saja; termasuk laki-laki yang mendatangi saya itu.

Dalam Islam, kita diimbau untuk membantu mereka yang membutuhkan. Anjuran ini hadir di saat yang tepat, saat Ramadhan menjelang. Selama Ramadhan, kita harus mengeluarkan zakat (pajak sosial), dan diimbau untuk memberikan sedekah (sumbangan sukarela) dengan harta kita. Nabi Muhammad (SAW) diriwayatkan pernah bersabda, ‘Sedekah yang paling baik adalah yang diberikan saat Ramadhan.’i Apalagi saya diajari bahwa pahala melakukan amal baik akan dilipatgandakan selama bulan Ramadhan.

Kejadian ini juga mengajarkan kepada saya untuk menghindari berprasangka buruk terhadap niat orang yang membutuhkan. Ketika laki-laki itu mendatangi saya, saya langsung berasumsi bahwa ia akan menyalahgunakan uang yang akan saya beri atau menipu saya. Ini menunjukkan prasangka buruk saya kepadanya sekaligus menunjukkan keburukan karakter saya. Saya tidak mengatakan bahwa seseorang harus bersikap lugu dan tidak berhati-hati, namun kadangkala seseorang harus selalu berprasangka baik. Keyakinan saya adalah bahwa sedekah harus dilakukan karena Allah: jika niat di balik amalan sedekah itu baik, maka kita mestinya tidak menghakimi si penerima.

Ketika ibu saya datang menjemput dan kami berkendara menyusuri jalan, saya melihat laki-laki tadi tak jauh dari kami, sedang mendorong sepedanya. Sembari meminta ibu saya untuk menghentikan mobil, saya mengambil sejumlah uang dan bergegas menyerahkan uang kepada laki-laki itu. Saya ingin mengucapkan permintaan maaf atas sikap saya sebelumnya, namun ia menukas, ‘Bagaimana saya membalas kebaikan Anda?’ Ia bisa saja membohongi saya, namun saya sadar bukanlah hak saya untuk menghakiminya.

Justru pada akhirnya sayalah yang harus berterima kasih kepadanya. Ia mengajari saya sebuah pelajaran berharga – ia membantu saya menyadari kekurangan saya dan apa yang saya butuhkan untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik di Ramadhan kali ini.

i Diriwayatkan oleh Tirmidhi.

Leave a Reply
<Modest Style