Modest Style

Waspadai diabetes sejak dini

,

Kenali faktor-faktor risiko dan gejala-gejala awal penyakit mematikan ini. Oleh Faizah Abdullah.

Gambar: Fotolia
Gambar: Fotolia

Dahulu, diabetes lebih umum terjadi di negara- negara maju. Namun, modernisasi dan perubahan gaya hidup telah meningkatkan angka kejadian diabetes di negara-negara berkembang.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat ini hampir 80% kasus kematian akibat diabetes terjadi di negara dengan tingkat pendapatan rendah dan menengah. WHO juga meramalkan bahwa 346 juta orang di dunia kini mengidap diabetes. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat dua kali lipat di tahun 2030.

Diabetes dan komplikasinya mempunyai dampak ekonomi yang signifikan bagi individu, keluarga, sistem kesehatan dan negara. Sebagai contoh, menurut data yang dihimpun WHO, dari tahun 2006 hingga 2015 Tiongkok akan mengalami kerugian pada pendapatan nasional sebesar $558 juta sehubungan dengan kejadian penyakit jantung, stroke dan diabetes.

Di Asia Tenggara, angka kejadian diabetes pada tahun 2000 adalah sebanyak 46,903,000 dan diprediksikan akan terjadi peningkatan hampir tiga kali lipat pada angka kejadian ini dalam 30 tahun, menjadi sekitar 119,541,000 – kira-kira setengah jumlah penduduk Indonesia saat ini!

Diabetes mellitus adalah sebuah kondisi di mana kadar glukosa dalam darah sangat tinggi sehingga menyebabkan kerusakan jaringan. Terdapat dua tipe diabetes. Diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi insulin. Tipe ini tidak dapat dicegah karena diakibatkan faktor genetik. Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak cukup memproduksi insulin atau tubuh menjadi kebal terhadap insulin. Kejadian diabetes tipe ini bisa dicegah.

Meskipun diabetes tipe 2 biasanya berkaitan erat dengan masalah obesitas, namun ternyata bukan hanya berat badan yang menjadi persoalan di sini, tetapi juga di mana kelebihan berat badan itu berada. Orang yang memiliki timbunan lemak di perut dan lingkar perut yang besar memiliki risiko lebih tinggi terhadap diabetes dibandingkan mereka yang mempunyai timbunan lemak di pinggul, pantat atau paha. Karenanya, pria – yang cenderungan menimbun lemak di area perut – memiliki tingkat risiko sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita untuk menderita diabetes.

Namun kaum wanita juga perlu waspada. Tingkat risiko diabetes pada wanita meningkat jika ia memiliki kebiasan merokok. Wanita perokok berat memiliki tingkat risiko sebesar 75% lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak merokok.

Olahraga merupakan salah satu cara terbaik untuk mengontrol diabetes, serta menurunkan resiko diabetes tipe 2. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, aktifitas fisik dengan intensitas sedang yang dilakukan selama 30 menit dan teratur setiap hari, serta diiringi dengan pola makan sehat, dapat membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2.

Diagnosis sejak dini sangat penting untuk menghindari diabetes dan berbagai komplikasi serius yang disebabkannya. Gejala awal diabetes biasanya ringan dan tidak spesifik, sehingga banyak orang yang tidak mempedulikan gejala tersebut atau mengaitkannya dengan faktor stress. Anda perlu berkonsultasi dengan tim medis jika mengalami keluhan sering ingin buang air kecil (termasuk di tengah malam), mengalami rasa haus yang terus-menerus, menderita sariawan yang sering kambuh, borok, atau infeksi kulit ringan, serta sering merasa lelah dan kehabisan energi.

 

Faizah Abdullah adalah seorang fisioterapis dan dosen di Universitas Indonesia.

Leave a Reply
<Modest Style