Modest Style

‘Topless Jihad Day’ Memicu Kampanye Tandingan

,

Sebuah hari internasional yang menyerukan perempuan untuk bertelanjang dada atas nama kebebasan melahirkan gerakan oposisi. Afia R Fitriati punya cerita.

Bayangan seorang aktivis hak perempuan dari kelompok Femen tampak dari balik bendera selama protes di luar kedutaan Tunisia di Stockholm pada 4 April 2013. AFP PHOTO/JONATHAN NACKSTRAND
Bayangan seorang aktivis hak perempuan dari kelompok Femen tampak dari balik bendera selama protes di luar kedutaan Tunisia di Stockholm pada 4 April 2013. AFP PHOTO/JONATHAN NACKSTRAND

Pada pertengahan Maret, warga Tunisia yang bernama Amina Tyler, 19 tahun, menjadi berita utama ketika ia memasang gambar dirinya bertelanjang dada di Facebook dengan kalimat ‘Persetan dengan moral Anda’ tertulis di dadanya. Amina mengatakan kepada surat kabar Tunisia Jadal bahwa ia ingin ‘membuat suara perempuan Tunisia terdengar dan melindungi mereka dari penindasan’. Amina berafiliasi dengan Femen, sebuah kelompok aktivis yang sering menggelar kampanye telanjang dada untuk mengarahkan perhatian masyarakat pada topik keprihatinan mereka.

Tindakannya memancing perhatian nasional. Foto setengah telanjang Amina di halaman Facebook Femen Tunisia segera disusul dengan foto-foto telanjang dada lainnya yang mengusung pesan yang sama. Menyusul pemajangan gambar-gambar tersebut, halaman Facebook itu diretas dan foto-foto di dalamnya diganti dengan ayat-ayat Alquran. Seorang ulama Tunisia mengutuk tindakan berani Amina dengan mengatakan bahwa dia harus dihukum dengan cambukan atau dilempari batu sampai mati. Amina sendiri menghilang menyusul kecaman luas terhadap dirinya.

Menghilangnya Amina kemudian mendorong gelombang protes di seluruh Eropa oleh para aktivis Femen. Femen menyelenggarakan petisi yang menyerukan penuntutan terhadap mereka yang telah mengancam keselamatan Amina, dan pada hari Kamis mengadakan ‘Topless Jihad Day’. Di Paris, Berlin, Stockholm, Milan dan Kiev, puluhan aktivis Femen menggelar protes dengan menggunakan dada telanjang mereka sebagai papan pesan untuk menampilkan slogan-slogan seperti ‘Bebaskan Amina’, ‘Dada bugil melawan Islamisme’, dan ‘kebebasan telanjang’.

Dalam menanggapi protes tersebut, sekelompok perempuan muslim yang menyebut diri mereka Muslim Women Against Femen telah mulai mengadakan kampanye tandingan bertajuk ‘Hari Harga Diri Muslimah’. Kelompok ini mengimbau para pendukungnya untuk mengirim foto yang menjawab pernyataan Femen serta men-twit dengan tagar #MuslimahPride. Dua gambar di antaranya di bawah ini:

Foto 1: Zarah Sultana/Muslim Women Against Femen
Foto 1: Zarah Sultana/Muslim Women Against Femen

 

Foto 2: Sofia Ahmed/Muslim Women Against Femen
Foto 2: Sofia Ahmed/Muslim Women Against Femen

Di Twitter, Mariam Mansour berkicau, ‘Apa yang perlu disesali? Kalian ingin saya bertelanjang dada untuk membuktikan bahwa hijab tidak menindas saya? Saya merasa tertindas diminta untuk melakukan itu.’ Pengguna Twitter lainnya dengan nama Elle Armageddon berkomentar, ‘Saya senang tak terkira atas protes tanggapan #MuslimahPride terhadap Femen. Saya gembira melihat wanita memperjuangkan diri mereka sendiri.’

Sementara itu, berembus berita bahwa Amina dirawat di rumah sakit jiwa oleh keluarganya, namun pengacaranya mengatakan kepada para wartawan bahwa dia aman, ‘baik-baik saja dan akan segera bersekolah lagi.’

Leave a Reply
<Modest Style