Modest Style

Senandung di Hatinya

,

Amal Awad berbincang dengan Göknur Shanal, penyanyi opera dari Australia yang sedang mencari jalan untuk mewujudkan impiannya.

0201-WP-Song-by-Amal-sm

Tidak setiap hari Anda bertemu seseorang yang sendirian saja mampu secara dramatis mengubah suasana hati hadirin yang memadati sebuah ruangan.

Baru-baru ini, pada diskusi panel untuk kelompok komunitas lokal Justice and Arts Network (JAAN), terasa perubahan yang nyata saat seorang wanita di antara penonton bangkit dari duduknya, mengambil mikrofon dan mulai menceritakan kisahnya.

Wanita itu Göknur Shanal, biduanita bersuara sopran di dunia musik klasik dan Muslimah keturunan Turki. Dia adalah penyanyi opera nan piawai yang telah memenangi banyak sekali kompetisi sejak sekolah menengah atas, termasuk ajang Australian Singing Competition. Ia juga pernah mengikuti sejumlah kelas untuk siswa berbakat dengan para pengajar bereputasi internasional, seperti penyanyi opera terkemuka Australia, Dame Joan Sutherland, serta konduktor dan pianis Australia, Richard Bonynge.

Akan tetapi, di usia 35, dia baru mengulang pencariannya di dunia opera setelah sempat vakum beberapa tahun. Dia menjelaskan, alasannya adalah perpaduan antara tekanan (dia merasa tidak dibutuhkan) dan spiritualitas. Bisakah seorang perempuan Muslim tampil di depan publik untuk audiens yang beragam?

Tidak diragukan, ada banyak Muslim yang berkarier di bidang pertunjukan. Namun, bagi seorang wanita, menyanyi di depan khalayak ramai dan dikenal sebagai Muslim bukan hal yang sepele. Tergantung dari sudut pandang Anda memahami kitab suci, ada banyak Muslim yang sama sekali menolak untuk menikmati musik.

Kita telah menyaksikan Yuna, penyanyi berhijab dari Malaysia yang terbilang berhasil mengukir nama di dunia musik pop, menerima banyak komentar bernada kontra. Yusuf Islam, sebelumnya dikenal sebagai penyanyi dan pencipta lagu asal Inggris, Cat Stevens, meninggalkan musik sebelum kemudian memainkan gitar lagi, seraya tetap teguh terhadap keyakinannya.

Tetapi, Göknur, yang mengaku dirinya bukan seorang ‘Muslim yang taat secara tradisional’, dengan santai dan terus-terang menceritakan benturan antara agamanya dan penampilannya di depan umum—sesuatu yang dibicarakannya dalam nada spiritual.

Baginya, bernyanyi untuk penonton merupakan situasi metafisik yang membuat spiritualitas menjadi faktor yang penting baginya serta lagu-lagu yang dibawakannya.

‘Saat Anda merasa terhubung dengan ratusan orang di saat yang sama, ratusan orang itu tiba-tiba menjadi satu, dan kemudian Anda seperti mempunyai ikatan yang sangat kuat antara diri Anda dengan mereka. Bagi saya, perpaduan inilah makna sejatinya. Inilah yang benar-benar menjadikan menyanyi di depan publik pengalaman yang terbilang ilahiah untuk saya.

‘ Tidak heran bila Göknur menggambarkan dirinya dibesarkan dalam ‘keluarga yang sekuler’ pada masa kecilnya.

‘Biarpun saya tumbuh sebagai orang yang spiritual, secara religius saya tidak begitu sadar. Nenek sayalah satu-satunya yang menjalankan ajaran Islam di rumah kami.’

Bagi Göknur, Islam itu lebih sebagai identitas daripada gaya hidup. Namun demikian, di usia 20-an, dia melakukan pencariannya sendiri tentang Islam.

‘Saya kira Anda melewati masa remaja yang formatif, di mana Anda berjuang untuk menyesuaikan diri karena pertama, Anda seorang migran, dan kedua, Anda terperangkap di antara pengelompokan masyarakat. Anda ingin diterima di suatu tempat, tapi bisa dibilang Anda tidak dapat diterima di mana pun. Dan Anda berusaha sangat keras, sampai Anda melupakan identitas sendiri.’

Inilah isu yang terjadi di dunia opera, di mana, menurut Göknur, penyanyi asal Turki masih dianggap tidak lazim, apalagi yang beragama Islam.

‘Dalam hal karakter, penampilan yang eksotis memang dihargai, tetapi tidak banyak orang dari negara saya yang berkecimpung di bisnis ini,’ ungkapnya.

‘Ada satu penyanyi opera pria dari Turki yang terkenal dan mapan. Sebelumnya, ada penyanyi soprano bernama Leyla Gencer, dan dia memiliki karier yang hebat. Dia keturunan Turki, (tapi) dia tidak pernah menampilkan diri sebagai Muslim. Hal itu bahkan tidak pernah terlihat.’

Isu tersebut tidak menghentikan Göknur untuk mengejar karier di bisnis opera dengan sepenuh hati.

Sejak pertama kali belajar menyanyi pada konservatori di Ankara, Turki, saat umurnya enam tahun, Göknur menuturkan dirinya telah mencapai standar yang hanya bisa diimpikan oleh setiap murid vokal: memenangi kompetisi di usia yang masih belia.

Pencapaian lainnya adalah menerima beasiswa untuk belajar di Royal College of Music di London, tawaran untuk bergabung dengan Young Artist Program, menjadi pelatih di The Metropolitan Museum Art selama delapan bulan, dan pergi tur bersama perusahaan tur Opera Australia untuk menampilkan pertunjukan berjudul La Boheme.

Saat kembali tampil tahun lalu, Göknur mengatakan seorang mentor wanita Muslimlah yang sesungguhnya menjadi penyemangatnya.

‘Dialah yang telah menyaksikan perjalanan saya dari penyanyi profesional, untuk kemudian berhenti dan memulainya lagi. Dialah orang yang saya anggap sebagai pembimbing dan mentor spiritual. Saya perkirakan dia akan menjadi spesialis di bidang ini. Dia belajar dengan sangat keras, dan saya pikir komunitas ini pun melihat usaha kerasnya itu.’

Göknur mengungkapkan dirinya tidak mencari izin maupun pengesahan untuk menyanyi, namun mentornya melihat perang batin yang menghampirinya karena dia tidak menyanyi.

‘Anak perempuannya, yang sering menerjemahkan buku-buku karya para ulama, baru-baru ini selesai menerjemahkan seluruh ayat Al-Quran ke dalam bahasa Inggris. Dialah yang berkata kepada saya: ‘Semua orang memiliki keistimewaan dalam DNA-nya: bakat yang dianugerahkan kepada kita’,’ kenangnya.

‘Itu adalah bagian dari diri Anda. Bakat itu dipercayakan kepada Anda dan Anda perlu menggunakan potensi ini semaksimal mungkin. Bila Anda tidak melakukannya, Anda akan mengingkari kodrat sendiri dan apa yang telah dirancang untuk dilakukan oleh jiwa Anda.’

Dengan dukungan sang suami, ibu dua anak itu kini sedang menggarap sejumlah pertunjukan dan konser. Hal ini menandakan jalan membentang di hadapan Göknur, yang dalam lima tahun ke depan bercita-cita untuk menyanyi di berbagai festival musik dengan iringan orkestra simfoni.

‘Saya ingin merekam album CD, menyanyi di sebuah produksi dengan Opera Australia. Tetapi di titik ini, saya hanya ingin lebih sering tampil di depan penonton.’

Leave a Reply
<Modest Style