Modest Style

Ramadhan di London yang Penuh Kenangan

,

Setelah kini bermukim di AS, Alayna Ahmad dengan penuh sukacita mengenang kembali Ramadhan di London bersama orang-orang terkasih.

London yang dipenuhi dengan jembatan – yang tidak sekadar arsitektural, tapi juga penuh makna kultural dan religius. (Gambar: SXC)
London yang dipenuhi dengan jembatan – yang tidak sekadar arsitektural, tapi juga penuh makna kultural dan religius. (Gambar: SXC)

Ramadhan tahun ini akan menjadi Ramadhan yang menarik bagi saya, karena saya akan menghabiskannya jauh dari keluarga dan kekasih saya, yang saat ini berada di London.  Di belahan bumi mana pun saya berada atau berapa lama pun saya pergi, kenangan akan London – terutama saat-saat Ramadhan – akan saya ingat sepanjang hidup saya.

Tinggal dan bekerja jauh dari rumah telah membuat saya rendah hati dan menghargai kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan keluarga saya selama bulan suci.

Di waktu sahur, bahkan sebelum alarm saya berbunyi,  suara riuh kesibukan ibu saya memasak di dapur dan aroma masakan yang sedang disiapkan lebih dulu membangunkan saya. Itu adalah aroma paratha (roti pipih khas Asia Selatan), telur dadar, milkshake pisang segar dan bubur, dan masih beberapa lagi  – sebuah jamuan makan pagi. Saya selalu menjadi salah seorang yang bangun lebih dulu dan sudah menjadi tugas saya untuk membangunkan adik-adik lelaki saya. Meski dengan selera makan yang berbeda-beda, kami semua makan bersama di waktu fajar sebagai satu keluarga. Ibu saya selalu menegaskan untuk memakan kurma dan susu. Kurma, demikian katanya, kaya akan kandungan mineral dan akan memberikan kita suntikan energi. Segera setelah itu kami shalat subuh bersama dan kembali ke kamar kami masing-masing untuk bertafakur dan melanjutkan tidur.

Sepanjang hari di tempat kerja rasanya cukup berat. Tumbuh di negara yang bukan mayoritas muslim ada kelebihan dan kerugiannya. Seringkali, rekan-rekan sekerja tidak memahami esensi dari Ramadhan atau tidak mengerti makna di balik kehadiran bulan suci. Rapat dijadwalkan di sekitar waktu-waktu shalat, yang artinya saya harus tergesa menuju ruang shalat sebelum waktunya habis.

Meski begitu, saya cukup beruntung diberi kesempatan untuk melakukan ibadah shalat. Perusahaan tempat saya bekerja menghormati perbedaan dan oleh karenanya menyediakan sebuah ruangan ibadah yang luas, terbuka untuk mereka yang berkeyakinan apa pun dan dapat digunakan setiap saat. Perjuangan harian ini menjadi bagian dari perjalanan Ramadhan saya.

Orangtua saya seringkali kedatangan sanak keluarga dan teman-teman yang berkunjung untuk berbuka puasa bersama (iftar). Biasanya, para tamu akan membawa penganan manis atau hidangan penutup. Kami akan mengawali berbuka puasa bersama dengan memakan kurma. Kurma favorit saya adalah kurma medjool karena selalu ranum dan basah – kurma medjool almond sungguh lezat!

Kendati cukup menggiurkan untuk makan sebanyak mungkin saat berbuka puasa, saya memilih untuk shalat maghrib terlebih dulu. Setelah makan banyak makanan biasanya kita menjadi malas dan tak bertenaga, yang akan berdampak pada shalat seseorang. Oleh karenanya, saya memutuskan untuk selalu makan setelah shalat. Setelah itu saya bisa bersantai dan menikmati kebahagiaan bersama orang-orang terkasih di sekeliling saya.

Di akhir pekan, saya dan keluarga berikhtiar lebih keras untuk shalat berjamaah di Masjid Taman Regent, terutama untuk tarawih. Ini adalah masjid favorit saya di London karena keberagamaan jamaahnya. Banyak muslim yang datang dari berbagai belahan dunia yang bersembahyang bersama-sama di sana. Tidak ada perbedaan ras, etnis atau status sosial. Yang ada hanya muslim di antara muslim lainnya.

Mayoritas teman-teman saya adalah non-muslim. Meski demikian, mereka tak pernah ketinggalan menikmati suka-cita Ramadhan bersama saya. Beberapa bahkan berpuasa selama sehari untuk merasakan pengalaman menjalani Ramadhan sebagai orang luar. Hasilnya, seperti yang mereka sampaikan kepada saya, adalah selalu menghadirkan kerendahhatian dan kesederhanaan.

Berbuka puasa bersama teman-teman menjadi pengalaman yang betul-betul berbeda. Kami seringkali mengunjungi resto atau kafe Eropa favorit kami yang ramai dan riuh, penuh dengan kumpulan muda-mudi yang kelaparan. Kami memesan fish & chips, pizza, atau ravioli ricotta dan bayam, yang tak bisa saya tolak.

Pemandangan kota London dilihat dari beberapa restoran ini sungguh luar biasa. Saya sering menatap Katedral Santo Paul atau Sungai Thames dan membayangkan umat muslim generasi awal dahulu. Saya bertanya-tanya apakah mereka pernah meramalkan bahwa Islam akan menjadi demikian beragam dan merambah hampir semua belahan bumi. Hal ini membuat saya berbangga hati menjadi muslim yang bermukim di Barat.

Umat muslim hari ini tidak dikenali dari gaya busana atau etnis tertentu, karena kita datang dari beragam latar belakang profesi dan sosial. Kita menjadikan dunia berwarna-warni dan menjadi bagian dari beragam kultur dan asal-usul. Tradisi Ramadhan berbeda-beda dari daerah satu dengan lainnya, negara satu dengan lainnya, kota satu dengan lainnya dan keluarga satu dengan lainnya. Apa yang menyatukan kita adalah hasrat untuk berlomba-lomba dalam hal spiritualitas selama Ramadhan dan menikmati suasana suka-cita bersama teman dan keluarga.

Bagi mereka yang, seperti saya, terpisah jauh dari orang-orang terkasih mereka, ingatlah hal ini: Sang Pencipta sangat mencintai kita dan selamanya menyatu di dalam hati kita. Tiap kali mengingat hal ini, saya tak pernah lagi merasa sendiri.

Selamat merayakan Ramadhan bagi Anda semua.

Leave a Reply
<Modest Style