Modest Style

Perempuan Muslim dalam Olahraga: Budaya vs Agama

,

Dalam artikel tamu ini, Fatima Fakier mengupas tentang peran pengaruh budaya dan agama dalam masalah yang sering memecah belah opini ini dan menelaah konsekuensi dari meningkatnya pemisahan antara laki-laki dan perempuan.

WP muslim women in sport

Tubuh manusia dirancang untuk melakukan kegiatan fisik. Tubuh kita direkayasa secara sempurna untuk memenuhi kebutuhan dasar dan untuk mencapai apa yang perlu kita lakukan.

Olahraga teratur merangsang banyak jaringan dalam tubuh kita, yang bermanfaat terhadap semua proses di dalam tubuh, mulai dari fungsi sistem kekebalan tubuh sampai keseimbangan emosional. Selain menurunkan berat badan, mengusir depresi, dan menghalau PMS, wanita yang melakukan gerak badan secara teratur atau bermain olahraga cenderung memiliki citra tubuh yang lebih baik, terlepas dari bentuk atau ukuran tubuh mereka yang sebenarnya.

Wanita muslim menghadapi banyak hambatan untuk berolahraga, seperti larangan berhijab, kemiskinan dalam skala besar, dan intoleransi agama. Tapi salah satu hambatan terbesar berasal dari dalam komunitas mereka sendiri.

Pendapat yang meyakini larangan partisipasi perempuan dalam olahraga di muka umum berasal dari keinginan untuk melindungi laki-laki sekaligus alasan kesopanan perempuan. Baru-baru ini saya terlibat diskusi tentang sepak bola perempuan, di mana seorang perempuan berpendapat bahwa berlari dan melompat di depan laki-laki membahayakan martabat perempuan dan bahwa gerakan-gerakan itu terlalu mengekspose bagian tubuh perempuan.

Tapi, topik ini mengundang beberapa pendapat yang sangat berseberangan. Untuk memperoleh wawasan yang lebih luas dalam perdebatan ini, saya memutuskan untuk mewawancarai sejumlah perempuan muslim dari seluruh dunia.

Ruqayya, seorang remaja belia yang hidup di Amerika, memakai hijab dan bermain basket. Dia merasa tak ada yang salah dengan melakukan kegiatan atletik di luar ruangan jika seseorang berhijab.

Kulsoom Abdullah, 37 tahun, adalah atlet angkat besi Amerika yang terkenal karena kampanyenya yang berhasil melawan larangan berhijab dalam olahraga. Dia merasa aturan berpakaian tidak boleh dipaksakan pada siapa pun. ‘Saya pikir perempuan tidak boleh dipaksa untuk berpakaian dengan cara tertentu; saya ingin perempuan memiliki kesempatan untuk berkompetisi dan bersenang-senang dalam olahraga.’

Stephanie, seorang gadis Amerika berusia 21 tahun, menggemari panjat tebing. Sarah, gadis 23 tahun asal Inggris, menikmati olahraga seru roller-derby. Rania, perempuan 36 tahun dari Indonesia suka berenang dan bersepeda. Mereka semua menikmati kesegaran udara bebas saat melakukan olahraga, dan mereka melakukannya dengan berhijab.

Mumtaz, yang berumur 35 tahun dan tinggal di Botswana, memiliki pandangan yang agak berbeda. Meskipun dia aktif berolahraga, ia berhati-hati untuk melakukannya hanya dalam kelompok yang semua anggotanya wanita atau bersama suaminya. Dia juga bersepeda di luar dalam busana tertutup. Tapi dia tidak begitu sependapat dengan perempuan yang berkompetisi di stadion di depan khalayak laki-laki dan perempuan. Ia beralasan, ‘Saya pikir bukan ini tujuan perempuan berolahraga (dalam Islam).’

[Not a valid template]

Tampaknya, walaupun semua orang yang saya ajak bicara mengakui perlunya olahraga dan gerak badan, mereka berbeda pendapat dalam hal apa dianggap yang pantas dan tidak. Sebagian orang mengatakan, perempuan seharusnya diperbolehkan gerak badan hanya di dalam ruangan tertutup. Lainnya berpendapat, perempuan boleh berolahraga di luar ruangan dalam pakaian Islam yang benar, tapi tidak di depan ribuan orang laki-laki. Kelompok ketiga meyakini bahwa perempuan boleh berolahraga di luar ruangan atau di stadion, asalkan mereka menjalankan aturan berbusana yang Islami.

Saya merasa bahwa, meskipun perspektif budaya tidak boleh mengalahkan pandangan Islam, inilah alasan di balik beragam pandangan yang berbeda tentang apa yang pantas.

Dasar pemikiran dan praktik Islam berasal dari Al-Quran dan hadits. Tampaknya perbedaan dalam penafsiran kedua sumber petunjuk tersebut menjadi awal timbulnya perbedaan berbagai pendapat, di mana penafsiran mungkin dipengaruhi oleh tempat asal atau tempat tinggal.

Kepada para perempuan yang saya wawancarai, saya menyodorkan sebuah contoh kasus untuk dikomentari. Misalnya, seorang perempuan muslim dalam pakaian longgar dan hijab mengendarai skuter. Mereka sepenuhnya sepakat bahwa di negara-negara di mana skuter merupakan kendaraan yang lazim, hal ini tidak akan mengundang keheranan. Mereka juga setuju bahwa kemungkinan besar, hal yang sama akan sulit diterima oleh masyarakat di negara-negara yang jarang terdapat skuter. Narasumber-narasumber saya setuju bahwa budaya sering menjadi faktor utama dalam menetapkan standar sosial di komunitas muslim.

Tentu saja, jika partisipasi publik perempuan muslim dalam olahraga dianggap melanggar hukum di negara-negara yang saat ini memperbolehkannya, konsekuensinya akan mengikuti. Banyak kegiatan yang kita anggap biasa dan dapat diterima menurut Islam, seperti berjalan kaki, bersepeda atau berenang di laut, jadi tidak diizinkan.

Menerapkan hukum seperti itu akan menyebabkan pemisahan antara laki-laki dan perempuan sepenuhnya, merampas kesempatan pasangan suami istri dan keluarga untuk membangun ikatan melalui olahraga. Suami dan istri tidak akan bisa bermain tenis bersama karena tidak akan diizinkan masuk ke fasilitas yang memisahkan gender. Komunitas jalan santai tak akan punya peluang.

Membatasi ruang lingkup perempuan untuk berolahraga hanya di dalam ruangan menimbulkan banyak masalah dan sangat membatasi pilihan mereka. Perempuan harus membeli peralatan olahraga atau keanggotaan di pusat kebugaran khusus perempuan. Dan karena fasilitas olahraga khusus perempuan yang gratis atau disubsidi pemerintah cenderung di bawah standar, mereka yang sungguh-sungguh ingin berolahraga mungkin jadi harus membayar lebih atau bahkan terpaksa meninggalkan aktivitas mereka.

Menariknya, sebuah hadits spesifik tentang Nabi Muhammad (SAW) balap lari di gurun dengan istrinya Aisha digunakan oleh kedua belah pihak untuk mendukung dalil mereka mengenai boleh tidaknya perempuan berolahraga di depan umum. Hadits yang sama juga digunakan untuk menunjukkan keintiman senda gurau yang harus ada dalam pernikahan muslim, ikatan yang digambarkan hadits dengan jelas.

Namun, kurang jelas bagaimana hadits ini melarang perempuan berpartisipasi dalam olahraga di depan umum. Batas-batasnya tidak ditentukan dengan tegas. Tampaknya, ketika batasannya tidak jelas, masyarakat akan secara alami kembali ke apa yang sudah biasa bagi mereka – dalam hal ini budaya dan tradisi mereka. Tapi, hanya karena sesuatu itu tidak dapat diterima secara budaya, bukan berarti hal itu tidak Islami.

Islam itu agama sederhana dan alamiah yang mendorong gaya hidup yang dapat dilakukan oleh semua orang, tanpa menghiraukan standar buatan kaum laki-laki. Berjalan beberapa mil di bumi Allah adalah bentuk olahraga paling sederhana. Aktif di udara segar dan di bawah sinar matahari itu menyehatkan. Pemandangan di luar ruangan dapat memberikan dorongan motivasi yang tidak ditemukan di pusat kebugaran.

Ketika perempuan menjadi atlet profesional dan bersaing di arena olahraga, masalah dirinya dilihat oleh ribuan orang jadi tidak relevan. Lagi pula, standar kesopanan Islam berlaku sama, entah itu hanya satu orang yang duduk di tribun atau ada ribuan yang menonton di TV. Bagi saya, tidak ada perbedaan antara perempuan yang berolahraga, berpidato di TV, berjalan di pusat perbelanjaan yang ramai, atau bersepeda dalam perlombaan lokal. Para perempuan itu bersaing dengan menggunakan bakat alami mereka. Keberadaan kamera televisi seharusnya tidak membuat perbedaan dalam hal kesopanan mereka.

Kita harus terbuka terhadap kebenaran ini, karena ini akan membantu memperkuat hijab dan suara Islam di dunia. Ini akan memberi gadis-gadis muslim panutan untuk ditiru. Ini akan mempromosikan toleransi dan pemahaman agama serta dapat menghilangkan berbagai hambatan perempuan muslim dalam olahraga.

Adapun gagasan bahwa menendang bola mengekspose tubuh wanita, ketika saya menonton sepak bola, yang tampaknya membedakan laki-laki dan perempuan di lapangan hanya kibasan kuciran rambut. Perempuan memakai pakaian longgar yang sama dengan laki-laki, dan sering kali kita perlu memerhatikan tampilan wajah para pemain dari dekat untuk mengetahui apakah itu pertandingan laki-laki atau perempuan.

Sekalipun topik ini masih tidak jelas, persyaratan kesantunan dalam Islam sangat jelas. Ada aturan berpakaian untuk laki-laki dan perempuan, dan perilaku didefinisikan oleh sikap yang baik. Di luar hal itu, kepatutan perempuan berolahraga di depan umum tetap menjadi topik terbuka untuk didiskusikan.

Fatima Fakier adalah pendiri Friniggi Sportswear, sebuah perusahaan yang mengkhususkan dalam busana olahraga untuk perempuan muslim. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi website atau halaman Facebook mereka.

Leave a Reply
<Modest Style