Modest Style

Zubaidah Djohar, menolak diam dan melawan lupa

,

Lewat puisi-puisinya, Zubaidah Djohar menyampaikan kisah-kisah kekerasan dari Aceh. Oleh Khairina Nasution.

WP zubaidah djohar
Gambar: Twitter

Mereka menghampiriku
Dan berkata:
Ini gantirugi sakitmu
Untuk suamimu yang hilang
Untuk suamimu yang tak kembali

Tiga juta
Menghapus luka
 
Dan, untuk rahimmu yang diperkosa
Simpan dan suarakan di bilik mati
Karena ini aib negeri
Pandailah menjaga diri, kata mereka
Yang tak lagi kulihat
Seperti manusia

Puisi berjudul “Untuk Lelakimu Yang Tak Kembali” adalah salah satu puisi dalam buku antologi “Pulang, Melawan Lupa” (Coming Home, Resisting Forgetting) karya aktivis, peneliti, dan penyair Zubaidah Djohar. Buku berisi 30 puisiyang kini telah disusun ke dalam bahasa Inggris dengan judul Building a Boat in Paradiseini dengan kuat menggambarkan kepedihan sekaligus kekuatan perempuan Aceh.

Berbagai gejolak yang terjadi di Aceh, mulai dari konflik antarwarga, diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM), terjangan tsunami yang dahsyat, hingga masa diberlakukannya syariat Islam dalam pemahaman yang terlalu sempit banyak menyakiti dan merugikan perempuan Aceh. Mereka seringkali diperlakukan tidak adil.

Puisi-puisi Zubaidah Djohar berhasil memotret kondisi masyarakat Aceh dari sudut pandang perempuan. Karya-karyanya menggambarkan perempuan Aceh sebagai sosok kuat. Mereka lembut namun tidak rapuh, mereka menangis tapi tidak cengeng, dan mereka perempuan yang tak layak untuk dilupakan.

Sesungguhnya, Zubaidah bukanlah perempuan Aceh. Ia lahir dan besar di Bukittinggi, Sumatera Barat. Kontak pertama Zubaidah dengan Aceh adalah saat ia berkawan dekat dengan seorang pria Aceh saat mereka sama-sama bersekolah di Padang Panjang, Sumatera Barat. Setelah menikah di usia 27 tahun dengan sang pujaan hati, Fazran Zain, Zubaidah tinggal di Aceh selama beberapa tahun. Ia dikaruniai dua putra, Fayyaz Mullana Zain dan Fata Mallika Zain.

Sejak kecil, Zubaidah suka menulis puisi. Kesukaannya menulis puisi sempat terhenti saat ia pindah ke Jakarta dan kembali berkobar saat ia tinggal dan banyak melakukan aktivitas kemanusiaan di Aceh. Pertemuannya dengan perempuan Aceh serta pengalamannya melakukan riset dan mendampingi beragam komunitas di 300 desa di seluruh Aceh membangkitkan lagi gairahnya menulis puisi.

Zubaidah melihat bahwa meskipun bantuan pasca tsunami maupun pasca konflik banyak mengalir ke tanah rencong, banyak korban – khususnya perempuan dan anak-anak – belum belum terlayani hak-haknya dengan baik.

Semua kekecewaan dan harapan terhadap Aceh yang ia rasakan setelah bertemu dengan perempuan, laki-laki dan anak-anak Aceh yang terpinggirkan ia tuangkan dalam puisi. Itu sebabnya, puisi-puisi Zubaidah seolah telanjang memotret kondisi sesungguhnya yang dialami masyarakat Aceh. Zubaidah menjadi penyambung lidah kaum yang dibungkam dan tak boleh bersuara. Puisi-puisi Zubaidah menjadi “alat pelawan lupa”.

Salah satu puisi yang berjudul The Old Well ia tulis setelah bertemu seorang perempuan buta yang diperkosa tentara selama konflik. Perjanjian damai pada 2005 tidak mengubah kondisi perempuan itu; ia masih saja miskin dan mengalami trauma. Perempuan itu menghabiskan hari-harinya di sumur untuk membersihkan badan mensucikan diri. Ia merasa kotor karena perkosaan itu.

Kekritisan dan kepekaan Zubaidah tak lepas dari didikan masa kecilnya. Zubaidah menempuh jenjang pendidikan dasar dan menengahnya di madrasah. Saat kecil, ia sempat tidak bisa menerima keputusan orang tuanya itu. Namun, seperti dituturkannya kepada Projecting Indonesia [i], saat dewasa ia justru bersyukur mengenyam pendidikan di madrasah.

Di madrasah, Zubaidah mempelajari Islam. Ilmu agama memberinya dasar yang kuat tentang filosofi hidup dan mengajarinya sikap yang kritis dalam menanggapi sikap manusia yang cenderung menggunakan kekerasan atas nama agama atau menggunakan agama untuk memperoleh kekuasaan.

Sebagai aktivis kemanusiaan yang giat memberdayakan perempuan Aceh selepas konflik, lulusan program Master Kajian Gender dan Perempuan Universitas Indonesia ini mendirikan Timang Center di Aceh sejak tahun 2007 dan sempat bekerja pada International Center for Transitional Justice.

Dalam video berikut, Zubaidah membacakan salah satu puisinya yang didedikasikan kepada para perempuan Aceh yang hak-haknya terberangus.


________________________________________

[i] An Upclose Interview with Zubaidah Djohar, 1 Okt 2014, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style