Modest Style

Wawancara: Dr Hawa Abdi tentang Pembangunan Somalia

,

Somalia membutuhkan dukungan tapi hanya untuk membantunya sampai dapat berdiri sendiri. Dr Hawa Abdi bercerita kepada Sya Taha tentang harapannya akan masa depan Somalia.

[Not a valid template]

Suasana senja di Nairobi, Kenya, tenang dan sejuk saat saya mengobrol dengan Dr Hawa Abdi melalui Skype. Setelah bekerja keras di tengah sulitnya situasi kota Mogadishu bersama kedua putrinya yang berprofesi sebagai dokter, Deqo dan Amina Mohamed, terkadang dia berkunjung ke Nairobi untuk beristirahat dan bersantai. Berbicara melalui koneksi internet yang cukup baik, pembicaraan kami diwarnai keheningan, karena kata-kata kami melintasi Kenya dan Singapura.

Dr Abdi (68), yang oleh warga Somalia akrab dipanggil Mama Hawa, lebih dari sekadar sosok ginekolog pertama Somalia. Dari tahun 1964 sampai 1971, Dr Abdi menempuh spesialisasi kebidanan dan ginekologi di ibu kota Ukraina, Kiev, dan kemudian kembali untuk bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di Somalia. Selama periode itulah dia melihat banyak perempuan dari penjara, yang diborgol atau dirantai ke ranjang pasien saat menunggu pemeriksaan. Pemandangan ini memicunya untuk meneruskan pendidikan di Somalia, kali ini untuk mendapatkan gelar sarjana hukum pada 1979.

‘Dan saya merasa bahwa bagi para perempuan ini, keadilan itu tidak ada.’

Demi membantu menyediakan perawatan pasca persalinan bagi para perempuan pedesaan, Dr Abdi memulai klinik kesehatan desa gratis pada 1983 di sebidang tanah milik keluarga, yang dengan cepat berkembang menjadi rumah sakit berlantai dua dengan 400 ranjang. Ketika pecah perang sipil di Somalia pada 1991, rumah sakitnya mulai menerima para pengungsi. Lahan di sekitarnya dengan cepat berkembang menjadi kamp pengungsian yang menampung 90.000 warga pengungsi internal. Akan tetapi, selama beberapa tahun terakhir, suaka ini menjadi target bagi sejumlah serangan pihak militan.

Saat ini, kamp tersebut menampung 5.000 warga pengungsi internal dalam enam bagian, masing-masing bagian memiliki pengurus, tangki air dan lahan pertanian sendiri. Sekolah dasar kamp, Waqaf-Dhiblawe, menerima murid laki-laki dan perempuan dengan jumlah seimbang. Pada 2012, rumah sakit itu mempunyai daya tampung 400 ranjang, tingkat kematian ibu bersalin 1 persen, dan tingkat kematian bayi 4,3 persen, jauh di bawah rata-rata nasional.

Mengapa Anda memilih untuk belajar kedokteran dan kemudian hukum?

Saya memilih kedokteran karena ibu saya meninggal akibat komplikasi persalinan saat saya masih kecil. Saya menyaksikan bagaimana sengsaranya dia tapi tidak bisa menolongnya. Setelah ibu saya meninggal, saya merasakan semacam penderitaan, yang ingin saya cegah supaya tidak menimpa orang lain. Pada waktu itu, banyak anak-anak di usia saya yang ibunya juga meninggal akibat komplikasi persalinan. Saya memutuskan untuk menjadi dokter dengan spesialisasi kebidanan dan kandungan.

Saya menjalani pendidikan selama tujuh tahun di (bekas) Uni Soviet sampai 1971. Begitu pulang, saat itu saya bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di Somalia dan melihat banyak perempuan dari penjara datang ke rumah sakit. Mereka dirantai dengan semacam besi ke ranjang pasien.

Kenapa?

Karena mereka adalah narapidana. Polisi tidak mau mereka melarikan diri! Dan saya merasa bahwa bagi para perempuan ini, keadilan itu tidak ada. Jadi setelah saya menyelesaikan pendidikan (kedokteran) saya pada 1971, saya mulai belajar hukum dari tahun 1972 sampai 1979.

Seperti apa biasanya keseharian Anda di Mogadishu?

Ada begitu banyak hal yang harus dilakukan! Sekarang anak perempuan saya datang ke Mogadishu hanya di hari Jumat, dan dia memeriksa 100 perempuan dan anak-anak — inilah kelompok yang paling rentan. Setiap hari datang pasien berbeda, beberapa di antaranya datang karena kelaparan, beberapa lagi mengidap penyakit yang berlainan. Anda harus bicara pada mereka dan memberi mereka apa pun yang Anda punya.

Anda memberikan penyuluhan gizi di kamp. Seperti apa penyuluhan ini?

Di negara kami, Somalia, dan di (banyak negara di) Afrika, anak-anak meninggal karena kurang gizi. Kami juga menghadapi banyak kasus malaria. Perkembangan ekonomi tidak bisa terhindar dari (masalah mengenai) makanan anak-anak. Tapi kami tidak punya kesempatan untuk memberikan mereka makanan yang dibutuhkan karena sekarang negara kami sudah 23 tahun tanpa pemerintahan, tanpa lapangan kerja, dan tanpa stabilitas. Akibat penghancuran dan pembunuhan, orang jadi tidak punya stabilitas untuk bertani atau beternak hewan.

Jadi sekarang banyak anak-anak kami yang meninggal, 18% tingkat kematian anak-anak (balita) adalah salah satu yang paling tinggi di dunia. Sebagian besar hal ini disebabkan kekurangan gizi dan sejumlah penyakit yang sebenarnya bisa disembuhkan seperti malaria dan anemia, yang beberapa di antaranya juga akibat kurang gizi.

Jadi meskipun ada perencanaan gizi, para orangtua tidak mampu memperolehnya untuk memberi makan anak-anak mereka?

(Beberapa organisasi internasional) memberi kami penyuluhan gizi, dan kami berusaha menerapkannya ke anak-anak kami. Ketika mereka mendatangi kami, kami mengirim mereka ke rumah sakit dan memberi mereka makan. Dalam seminggu, anak-anak itu sembuh. Tapi Anda harus memulangkannya karena Anda tidak bisa merawat semua anak di rumah sakit. Sesudah itu, dia akan kembali lagi dengan kasus malnutrisi yang lebih parah karena keluarganya tidak punya apa-apa untuk diberikan kepadanya.

Ini adalah masalah ekonomi karena masyarakatnya tidak berkembang. Tanpa perdamaian kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami tidak bisa menanam apa pun, tidak bisa mendidik anak-anak, tidak bisa memberi makanan bergizi.

Apa filosofi Anda tentang perawatan persalinan?

Keluarga perlu tercukupi secara ekonomi. Sebagian besar kematian ibu bersalin disebabkan anemia. Negara kami juga perlu mengembangkan pusat kesehatan. Tidak semua perempuan punya kesempatan untuk mencapai pusat kesehatan karena masalah transportasi atau karena mereka tinggal di daerah perkampungan yang terpencil. Kami memerlukan dokter yang bisa mendatangi mereka — sudah ada beberapa tapi jumlahnya tidak mencukupi.

Keamanan dan stabilitas juga sangat penting. Adakalanya ketika perempuan akan melahirkan, transportasi sulit didapat. Terkadang saat terjadi perkelahian di jalan dan tidak ada yang bisa menggunakan jalan, seorang perempuan bisa-bisa meninggal karena tidak bisa mendapatkan pertolongan.

Saya yakin dunia ini satu karena kita semua adalah umat manusia. Semua kebutuhan kita adalah satu.

Bagaimana pengaruh proyek perikanan dan pertanian di kamp Anda dengan tugas Anda di rumah sakit?  

Kami sedang memerangi kemiskinan, malnutrisi, dan buta huruf. Perikanan sangat penting untuk mengatasi kekurangan protein. Kami juga menanam beberapa jenis jagung, kacang, sayur-mayur dan buah-buahan. Kami pun mencoba untuk memelihara beberapa domba, kambing dan sapi.

Pada 2013, kami setidaknya punya pemerintahan, meskipun masih sangat lemah, tapi pemerintahan yang ingin memulai proses pembangunan dan bukan hanya memberikan bantuan — kami sudah bertahan hidup dengan mengandalkan bantuan selama 22 tahun. Tapi kami memiliki lahan pertanian dan traktor sendiri. Sekarang kami ingin berdiri sendiri dan sedang mencari investasi.

Saya berharap kami bisa menemukan orang yang akan bekerja sama dengan kami, orang yang dapat berinvestasi dan membantu kami. Lalu kami akan melakukannya sendiri. Saya menerima para investor perorangan dengan senang hati. Kami mempunyai lahan pertanian seluas 400 hektar di mana kami dapat menanam apa saja. Tepat sebelum perang sipil, kami menanam pisang dan mengekspornya. Kami mempunyai Samudra India yang luas untuk perikanan dan pariwisata. Jika kami punya investor, kami bisa menciptakan banyak sekali lapangan pekerjaan.

Apakah secara umum agama memainkan peran khusus di kamp Anda?

Kami mempunyai beberapa peraturan yang simpel. Sebelum ini, sempat terjadi perkelahian di mana orang saling membunuh karena perpecahan suku. Kami membuat peraturan sederhana: siapa saja yang memasuki kamp ini, kami akan memberi mereka lahan, air, perawatan kesehatan gratis dan makanan, tapi orang atau keluarga itu tidak boleh membawa-bawa kesukuan mereka. Jika mereka melakukannya, mereka harus pergi. Sebelumnya kami sudah menampung 90.000 orang dari beberapa suku yang berbeda di sini dan kami berhasil menjadikan mereka satu bangsa Somalia.

Setelah jatuhnya pemerintahan, kekerasan domestik pun meningkat. Suami akan mulai memukuli istrinya karena putus asa. Anak-anak menangis karena ibu mereka dipukuli. Jadi peraturan lainnya adalah jika Anda ingin tinggal, tidak ada suami yang boleh memukul istrinya.

Menurut Anda apa yang akan menjadi masa depan Somalia?

Kami masih harus menderita; tidak ada keadilan dalam 21 tahun di bawah pemerintahan Siad Barre, lalu kami menghadapi perang sipil selama 22 tahun. Beberapa komunitas kami dilindungi, beberapa lainnya dihancurkan. Sekarang ada juga kelompok lain yang mengambil dan menghancurkan apa yang mereka inginkan, memerkosa para perempuan, hidup tanpa undang-undang dan tata-tertib. Ini berarti sudah total 43 tahun kami hidup tanpa undang-undang dan tata-tertib.

Orang-orang yang miskin, jujur, dan pekerja keras butuh keadilan dan bantuan. Mereka memerlukan perlindungan, tapi itu akan sangat sulit didapat. Masih ada kelompok ekstremis di dalam pemerintahan. Mereka berpangkat jenderal dan melakukan apa saja yang diinginkan. Dalam jangka pendek, kami masih harus menderita tanpa bantuan besar dari komunitas internasional.

Dalam jangka panjang, mereka yang dibesarkan di kamp saya akan menjadi masa depan Somalia karena mereka tidak memperoleh pelajaran yang buruk. Sebanyak 30 persen penghuni kamp kami adalah anak-anak muda yang tidak akan pernah terlibat dalam perkelahian atau pembunuhan atas nama suku. Mereka jujur — kami telah mengajari mereka untuk membantu sesama, saling mencintai dan saling membela. Perdamaian akan datang. Banyak anak muda yang belajar di sejumlah universitas di negara Arab, di Somalia — merekalah pemimpin masa depan Somalia. Satu-satunya harapan saya terletak pada mereka yang tumbuh besar di kamp saya.

Apa pesan Anda kepada para pembaca kami?

Saya ingin komunitas internasional tahu bahwa sekarang kami dalam situasi yang berbahaya. Kami memerlukan makanan yang dapat kami tanam sendiri, tapi kami tetap membutuhkan bantuan. Saya berusaha mengajak Anda untuk mendukung kami supaya kami tumbuh secara berkesinambungan. Kami membutuhkan peralatan perikanan, peralatan pertanian, alat-alat kesehatan untuk rumah sakit, obat-obatan, segala perlengkapan. Apa saja yang dapat diberikan komunitas internasional pada kami demi menyelamatkan ribuan jiwa dari penderitaan.

Jika Anda ingin membantu DHAF secara teratur, Anda dapat mendaftarkan sumbangan bulanan secara otomatis di sini. Ikuti perkembangan kerja mereka pada situs web, newsletter, Facebook atau Twitter mereka.

Leave a Reply
<Modest Style