Modest Style

Warga Pakistan rayakan Nobel Malala dengan musik dan tari

,
TOPSHOTS-PAKISTAN-NOBEL-PEACE-MALALA
PAKISTAN, MINGORA: Seorang gadis Pakistan memegang foto aktivis pendidikan anak Malala Yousafzi saat memotong kue dalam perayaan kemenangan Malala atas Penghargaan Nobel Perdamaian, di kampung halaman Malala, Mingora, di barat laut Lembah Swat pada 10 Oktober 2014. Malala Yousafzai dielu-elukan sebagai “kebanggaan Pakistan” oleh Perdana Menteri Nawz Sharif pada hari Jumat untuk kemenangannya atas Penghargaan Nobel Perdamaian, sebagaimana seorang mantan teman sekolah menyebut bahwa penghargaan tersebut merupakan kemenangan untuk setiap gadis di negara tersebut. Para pemimpin politik serta aktivis berkerumun di sekita Malala, pemenang Nobel termuda, dan mengungkapkan dukungan mereka untuk aktivis pendidikan yang pindah ke Britania Raya setelah ditembak di kepala oleh militan Taliban dua tahun lalu. AFP PHOTO/ A MAJEED

Oleh Saad Khan

MINGORA, 10 Oktober 2014 (AFP) – Warga Pakistan pada hari Jumat lalu merayakan kemenangan Penghargaan Nobel Perdamaian Malala Yousafzai dengan musik, tarian, dan kue, dan mengelukan penghargaan yang diraihnya sebagai kemenangan untuk pendidikan bagi para gadis atas kekerasan Taliban.

Acara penghormatan untuk gadis 17 tahun tersebut, pemenang Nobel termuda, dipimpin oleh Perdana Menteri Nawaz Sharif yang menyebut Malala sebagai “kebanggaan Pakistan”, sementara puluhan orang dari kampung halamannya, Mingora, berkumpul di persimpangan utama untuk menyuarakan slogan dan bertukar permen.

Marjan Bibi, 11, memotong kue krim nanas putih yang disumbangkan oleh toko kue setempat saat para penonton bertepuk tangan dan bersorak: “Long Live Malala”. Bibi berkata: “Malala adalah sumber kebanggaan bagi kami. Saya juga akan menulis seperti Malala dan akan menyuarakan dukungan untuk pendidikan perempuan saat saya besar.”

Ayesha Khalid, yang sebelumnya satu sekolah dengan Malala, berkata: “Bukan hanya Malala yang memenangkan penghargaan ini, para gadis Pakistan juga memenangkannya…(ia) adalah cahaya mata kami dan suara hati kami.

“Ia telah membuktikan bahwa Anda tidak bisa menghentikan pendidikan dengan menghancurkan sekolah.”

Sang remaja, yang muncul ke hadapan publik setelah menulis blog untuk layanan bahasa Urdu BBC tentang kehidupan di bawah kekuasaan Taliban pada tahun 2007-2009 di Lembah Swat, menjadi korban penembakan di kepala oleh pihak militan dua tahun lalu dalam perjalanan ke sekolah.

Semenjak pulih, ia telah berbicara di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, menulis buku otobiografi dengan penjualan terbaik, dan mendorong Goodluck Jonathan dari Nigeria untuk berusaha lebih dalam membebaskan ratusan anak perempuan yang diculik oleh militan Islamis.

Perayaan penuh keriaan pada hari Jumat di persimpangan Mingora tampil begitu kontras dengan masa kekuasaan Taliban di mana anak perempuan dilarang pergi ke sekolah dan orang-orang yang dituduh melanggar hukum syariah dipenggal di bundaran yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat itu.

‘Pengakuan atas pengorbanan’

Di kota Peshawar, ibu kota wilayah barat laut Khyber-Pakhtunkwa yang telah melahirkan pemberontakan besar Islamis besar-besaran selama 10 tahun terhadap negara, sekira 200 orang berkumpul di klub pers untuk membagikan permen dan menari mengikuti irama gendang yang bertenaga.

“Penghargaan yang diberikan kepada putri tanah ini, Malala Yousufzai, bukan sekadar pengakuan atas pencapaiannya memunculkan perdamaian, tetapi juga pengakuan atas pengorbanan kami dalam perang melawan teror yang berlangsung 10 tahun terakhir,” ujar gubernur provinsi, Mehtab Ahmed Khan.

Bergerak melawan Islam’

Malala — yang meraih kemenangan bersama Kailash Satyarthi asal India— merupakan pemenangan penghargaan Nobel kedua dari Pakistan setelah Abdus Salam, yang memenangkan penghargaan tersebut untuk bidang fisika pada tahun 1979 tetapi dikucilkan secara luas karena merupakan anggota dari minoritas Ahmadi terdzalimi di nagara tersebut.

Tahun lalu ia dianugerahi penghargaan perdamaian UE yang prestisius, Sakharov, yang memancing kemarahan Taliban yang mengeluarkan ancaman baru untuk membunuhnya.

“Ia mendapat penghargaan karena ia bergerak melawan Islam,” ujar juru bicara Taliban, Shahidullah Shahid, pada AFP saat itu.

Bulan lalu, pihak militer Pakistan mengatakan telah menahan 10 terduga militan Taliban yang dituduh terlibat dalam upaya pembunuhan pada Malala.

Taliban tidak sendirian dalam sikap oposisi mereka terhadap Malala, dengan banyaknya kritikus dari pihak konservatif Pakistan dan kaum kelas menengah hiper nasionalis yang menyebutnya sebagai boneka Barat yang merusak reputasi Pakistan di luar negeri.

Perjuangan terus berlanjut

Sejak muncul menentang negara pada tahun 2004, pihak militan Islamis telah membom ratusan di wilayah barat laut dan wilayah suku yang bergolak yang berbatasan dengan Afghanistan, antara lain sebagai bentuk oposisi atas pendidikan untuk perempuan dan sekuler, dan juga karena gedung-gedung sekolah digunakan sebagai markas oleh angkatan darat.

Serangan Taliban Pakistan terhenti selama bertahun-tahun menyusul serangkaian serangan militer, yang terbaru dimulai pada bulan Juni.

Aktivis pendidikan Mosharraf Zaidi menyatakan bahwa pemerintahan Pakistan harus menggunakan kebaikan yang muncul dari kemenangan Malala untuk mendahulukan sistem sekolah umum negara tersebut yang lama terabaikan.

“Ada 52 juta anak berusia lima hingga 16 tahun di negara ini, 25 juta di antaranya putus sekolah,” ujarnya, sekaligus menambahkan bahwa jumlah tersebut terdiri dari 14 juta perempuan dan 11 juta lelaki.

“Jika Pakistan tidak bisa mengambil keuntungan dari momen kemenangan Nobel seorang warga Pakistan pendukung pendidikan yang begitu berani ini, maka hal tersebut akan menunjukkan hilangnya kesempatan lain dan juga sebuah tragedi,” tambahnya.

Leave a Reply
<Modest Style