Modest Style

Speed Sisters: tim balap mobil perempuan pertama Palestina

,

Tim balap Palestina pertama yang seluruh anggotanya perempuan harus menghadapi tantangan berkecepatan satu mil permenit. Oleh Shireen Ahmed.

Gambar: Facebook/Speed Sisters
Gambar: Facebook/Speed Sisters

“Menembus batas”, “menentang gagasan”, dan “mematahkan stereotipe” hanyalah beberapa kata yang digunakan untuk menggambarkan kegiatan kelompok pebalap Palestina populer yang dikenal sebagai Speed Sisters.

Pada 2009, kelompok berisikan wanita Kristiani dan Muslim pemberani ini bermula sebagai tim balap beranggotakan delapan orang, dengan dukungan dari Federasi Olahraga Otomotif Palestina dan Kedutaan Inggris di Yerusalem. Kini tim tersebut memiliki sisa empat anggota: Betty Saadah, Noor Daoud, Mona Ennab, dan Marah Zahalka. Mereka telah mendapat dukungan luar biasa dari warga Palestina dan telah menjadi pemain tetap dalam olahraga yang didominasi pria di tingkat global.

Baru-baru ini, pembuat film Amber Fares dari Ramallah menyutradarai dan memproduksi sebuah film tentang kehidupan para pembalap ini dan cinta mereka terhadap balap, dengan dana hasil donasi umum. Ia menjabarkan perjuangan dan pencapaian mereka, serta dukungan dan dorongan yang mereka terima dari sesama warga Palestina. Kepada saya, Amber menceritakan hal yang menginspirasinya membuat film ini.

“Saya ingin memperlihatkan pada orang-orang sekilas sisi lain dari tempat ini. Palestina, sekaligus Timur Tengah secara keseluruhan. Menurut saya, kita sudah terlalu terbiasa melihat bagian dunia ini sebagai satu hal tertentu hingga melupakan bahwa ada sisi lain kehidupan di sini.”

Para pembalap ini bekerja keras; mereka berlatih menggunakan peralatan bekas dan pinjaman selama bertahun-tahun hingga keempat anggota yang tersisa berhasil mengumpulkan dana dari donatur pribadi dan beberapa sponsor untuk mobil dan timnya.

Liputan media atas kisah mereka seringkali menyajikan para wanita ini berjuang untuk kebebasan dari budaya yang mengungkung. Contohnya, sebuah artikel di Jezebel menyebutkan bahwa Palestina hampir seperti Arab Saudi,[i] yang melarang wanita mengemudi – padahal hubungan yang dibuat menggelikan. Penyajian cerita ini salah karena masalah mengemudi bukanlah masalah yang paling mendesak bagi mereka.

Menyajikan Speed Sisters berjuang melawan norma patriarki tampaknya merupakan kisah yang lebih menarik, hingga meningkatkan jumlah pembaca dan perhatian. Kenyataan bahwa mereka adalah warga Palestina yang bangga akan identitas Palestina mereka yang saat ini hidup di bawah budaya aparteid – yang membatasi gerak, akses, dan, oleh karenanya, kegiatan balap mereka – itu membosankan. Dan terlalu politis.

Namun cerita bahwa pria berkulit cokelat menentang kegiatan balap mereka merupakan sisi yang mudah dibawa oleh media arus utama ke pangkuan masyarakat, yang senang mendengarkan kisah tentang betapa orang Arab dan wanita Muslim perlu membebaskan diri. Sebagai contoh, Kate Walker kepada Squeamish Bikini menyatakan bahwa budaya merupakan masalah terbesar Speed Sisters:

“Sementara Speed Sisters telah diterima oleh lawan mereka, sekelompok masyarakat Muslim yang masih tradisional menganggap para pembalap wanita tersebut melakukan sesuatu yang haram, sebuah istilah Islam yang berarti melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah.”[ii]

Anggapan yang sama sekali salah, karena menurut para pempalap ini, dukungan yang mereka terima dari warga Palestina jauh lebih besar daripada penolakan yang muncul. Amber menyampaikan dengan sangat baik:

“Menurut saya, salah satu hal yang disukai media adalah mengada-ada soal stigma sosial wanita mengemudi yang sebenarnya tidak ada. Menurut saya media asing sengaja mencari tahu apa yang terjadi di Arab Saudi dan kemudian menerapkannya pada semua negara Timur Tengah lainnya. Jadi, bagaimanapun kita berusaha menjelaskan bahwa wanita mengemudi di Palestina bukanlah sebuah masalah, mereka senang membingkai kisah yang ada dengan perjuangan mendapat hak mengemudi.”

Para wanita ini tidak seperti atlet perempuan lain yang menghadapi tantangan sekadar untuk berpartisipasi dalam bidang olahraga. Ada tuntutan tersendiri yang datang dari keluarga dan masyarakat. Atlet perempuan mendapat tantangan berupa tuntutan masyarakat terlepas dari ras dan agama mereka, dan mengenai anggapan tentang olahraga apa yang seharusnya mereka lakukan. Mereka menghadapi stigma masyarakat atas partisipasi mereka, terutama dalam cabang olahraga yang dianggap tidak feminin. Namun banyak atlet perempuan menghadapi seksisme dan kritik – bahkan atlet yang berasal dari Amerika Utara dan Eropa

Perjalanan Speed Sisters tidak mudah, dan awalnya diliputi keraguan, juga pandangan negatif dari anggota keluarga yang dapat mereka atasi dengan baik. Speed Sisters juga sama dengan para wanita lain yang berpartisipasi dalam bidang olahraga dan juga menerima dukungan dari masyarakat Muslim yang mungkin dianggap konservatif oleh Barat, seperti halnya para wanita yang mengikuti Skateistan di Afganistan, berselancar di Bangladesh, dan berpastisipasi dalam beladiri campuran di Malaysia.[iii]

Mereka bertarung karena mereka mencintai olahraga yang dipilih. Mereka tidak memiliki misi memuaskan orang banyak, yang haus akan keberhasilan dalam olahraga dan kisah penyelamatan Muslimah.

Menurut Amber, Speed Sisters telah diberikan akses penuh ke trek, peralatan, pelatihan, dan Asosiasi Olahraga oleh federasi balap di Palestina, dan mendapat tawaran bantuan dana dari penggemar jika ada. Penyajian mereka sebagai sosok yang butuh diselamatkan dari budaya yang kejam itu tidak adil dan mengalihkan perhatian dari kemampuan dan tujuan mereka. Pebalap Said Betty menyampaikan dalam sebuah wawancara dengan AL-Jazeera, “Cinta yang kami terima di Palestina itu gila. Sebuah anugerah!”[iv]

Pada kenyataannya, anggota tim balap Palestina pertama yang seluruh anggotanya perempuan dari Tepi Barat dan Wilayah Jajahan ini tidak hanya brilian sebagai atlet, namun juga berdedikasi untuk menarik perhatian terhadap penjajahan yang menguasai tempat tinggal mereka.

Untungnya, telah terbit beberapa kisah tentang dedikasi mereka untuk melawan opresi Israel tanpa membingkai tim mereka sebagai sosok yang butuh dibebaskan dari budaya Palestina.[v] Menurut pebalap Maraj, salah satu bagian terpenting dari balap adalah bahwa dunia dapat melihat betapa tangguh Palestina sebenarnya.

“Tindakan wanita Palestina berpartisipasi dalam balap sangat penting bagi saya. Hal tersebut menunjukkan kebebasan sebenarnya. Di mana-mana orang berpikiran bahwa wanita Palestina terkungkung, namun sebenarnya di sinilah kami, berpastisipasi dalam lomba balap, yang dianggap olahraga pria. Balap menunjukkan pada orang-orang bahwa warga Palestina tidak akan pernah dapat ditaklukkan. Kami keluar dan kami mengikuti balap, seperti di mana pun di dunia ini. ”[vi]

Speed Sisters berhasil mengembangkan diri dalam keadaan yang serba terbatas secara politis dan sosial. Tidak mudah menemukan lahan luas tanpa halangan dan gangguan pos pemeriksaan untuk berlatih. Olahraga balap di Tepi Barat lebih sulit lagi karena masalah keuangan dan politik: balap sangat mahal dan pemerintah tidak dapat menyediakan pendanaan yang cukup bagi federasi, apalagi untuk sebuah tim berisi wanita.

Israel memiliki peraturan ketat untuk mobil-mobil yang keluar menuju Yordania atau menuju Israel sendiri, yang menjadikan pemeriksaan dan balap di skala regional tidak memungkinkan. Dan warga Palestina mana pun yang tidak memiliki kartu identitas Israel tidak diperbolehkan mengikuti balap di Israel. Saat ini, Noor adalah satu-satunya yang memiliki kartu identitas yang sah dan bertarung dengan lawan dari Israel – namun ini bukannya tanpa hambatan tersendiri.

“Saya adalah satu-satunya warga Palestina yang bertarung melawan enam wanita Israel. Mereka tidak ingin Palestina menang – mereka mengolok saya, mencoba menyurutkan semangat saya, melakukan segala yang mereka bisa untuk menyulitkan keadaan.”[vii]

Amber mengamini bahwa tim mereka dipersulit dengan adanya larangan politik. Saat sedang membuat rekaman, mereka dihentikan oleh tentara Israel dan bahkan ditembak dengan gas air mata.

Tidak bisa lebih jelas lagi, langsung ditekankan oleh Speed Sisters sendiri, bahwa perjuangan mereka merupakan perjuangan melawan opresi politik dan bukan upaya membebaskan diri dari opresi seksis Islami terhadap jender perempuan – bahkan meski media lebih senang menggambarkan dengan cara tersebut. Sebagai mantan anggota tim Maysoon Jayyusi mengatakan, “Saya merasa obsesi Barat terhadap kenyataan bahwa beberapa dari kami adalah Muslim dan mengikuti balap sungguh sangat mengganggu. Keluarga saya relijius dan mereka menerima keputusan saya mengikuti balap.”[viii]

Anak-anak perempuan sering menganggap tim mereka sebagai tokoh panutan dan meminta tanda tangan mereka. Para pembalap ini kerap berjumpa dengan anak-anak sekolah yang menganggap mereka hebat dan menemui kelompok-kelompok masyarakat yang kagum terhadap kekuatan dan tekad mereka. Semangat mereka dirayakan dan menyadarkan bahwa hidup bergerak dengan cepat di Palestina.

Semoga para wanita ini akan dapat menyampaikan sendiri kisah mereka pada masyarakat yang lebih luas, dan bukannya diwakili oleh berita sampah yang mengharapkan mereka mencapai garis finis “kebebasan” dari apapun yang menurut wartawan sedang dihadapi oleh Muslim dan wanita Arab.

 

Amber Fares dan Speed Sisters berhasil mencapai target pengumpulan dana online mereka. Untuk donasi, sila hubungi Amber Fares di Twitter @amboora, atau jumpai tim mereka di Facebook Speed Sisters atau Twitter @SpeedSisterFilm.

Artikel ini pertama kali diterbitkan di Muslimah Media Watch.

[i] Dodal Stewart, ‘Meet the Speed Sisters, Palestinian race car drivers intent on winning’, Jezebel, 13 Jan 2012, dapat dibaca di sini
[ii]Kate Walker, ‘Why you should love… the Speed Sisters’, Squeamish Bikini, 19 Jan 2012, dapat dibaca di sini
[iii] Sebagai contoh SkateistanNassima Atker, dan Ann Osman
[iv] Samuel Nelson Gilbert and Lazar Simeonov, ‘Palestine’s fast and furious females’, Al-Jazeera, 13 Oct 2013, dapat dibaca di sini
[v] Sami Kishawi, ‘Red Bull shines light on Palestine’s fastest women’, SMP, 1 Mar 2012, dapat dibaca di sini
[vi] ‘Our Other Sisters – The Speed Sisters’, Our Other Sisters, 10 Feb 2012, dapat dibaca disini
[vii] ‘Palestine’s fast and furious females’, Al-Jazeera, dapat dibaca di sini
[viii] ‘Speed Sisters: The first all-female Palestinian racing team’, Google Cultural Institute, dapat dibaca di sini

Leave a Reply
<Modest Style