Modest Style

Siswi Afghanistan Korban Air Keras Kini Jadi Guru

,
Dalam foto yang diambil 25 September 2013 ini, guru Shamsia Husseini (tengah) memerhatikan salah seorang muridnya yang sedang menulis di papan tulis kelas pada sekolah Mirwais Mena, kota Kandahar. Ketika para penyerang melemparkan cairan asam ke wajah Shamsia di luar sekolahnya di Afghanistan, dia menantang mereka dengan kembali bersekolah. Kini, dia kembali mendukung pendidikan bagi perempuan dengan menjadi guru. AFP Photo / Massoud Hossaini
Dalam foto yang diambil 25 September 2013 ini, guru Shamsia Husseini (tengah) memerhatikan salah seorang muridnya yang sedang menulis di papan tulis kelas sekolah Mirwais Mena, kota Kandahar. Ketika para penyerang melemparkan cairan air keras ke wajah Shamsia di luar sekolahnya di Afghanistan, dia menantang mereka dengan kembali bersekolah. Kini, dia kembali mendukung pendidikan bagi perempuan dengan menjadi guru. AFP Photo / Massoud Hossaini

KANDAHAR, 1 November 2013. Oleh Ben Sheppard (AFP) – Ketika para penyerang melemparkan cairan air keras ke wajah Shamsia Husseini di luar sekolahnya di Afghanistan, dia menantang mereka dengan kembali bersekolah. Kini, dia kembali mendukung pendidikan bagi perempuan dengan menjadi guru.

Dalam serangan November 2008 yang menjadi perhatian dunia itu, Shamsia menderita luka-luka yang parah di kedua kelopak mata dan pipinya. Laura Bush, Ibu Negara Amerika Serikat pada saat itu pun mengutuk peristiwa tersebut sebagai kejahatan yang “pengecut dan memalukan”.

Presiden Afghanistan Hamid Karzai berjanji untuk menghukum gantung para pria yang telah menyerang Shamsia saat dia berjalan menuju sekolah khusus putri Mirwais Mena di pinggitan kota Kandahar.

Seorang pria yang mengenakan masker bertanya pada Shamsia apakah dia akan ke sekolah. Kemudian dia mengoyak cadar Shamsia dan menyemprotkan cairan asam dari pistol semprot ke wajahnya.

Pagi itu, sejumlah siswi lain luka-luka akibat serangkaian serangan cairan asam yang sama. Tetapi, Shamsia dan teman-temannya menolak meninggalkan pelajaran dan membujuk orangtua mereka yang masih sangsi untuk mendukung supaya sekolah tetap dibuka.

Lima tahun berlalu, Shamsia, kini 22 tahun, masih berada di ruang kelas—namun kali ini dia berdiri di hadapan sekelompok gadis berusia 9-10 tahun yang penuh semangat.

“Para murid terkadang bermain-main dan itu menguji kesabaran saya,” akunya kepada AFP sambil tersenyum. “Tetapi menjadi guru jauh lebih baik daripada menjadi murid, dan sekarang saya belajar untuk menjadi guru yang sepenuhnya memenuhi syarat.”

“Para penyerang itu tidak berhasil” 

Bekas luka Shamsia akhirnya sembuh total setelah dirawat di beberapa rumah sakit di Kabul dan New Delhi. Walau begitu, dia kembali bermasalah dengan penglihatannya yang kabur dan matanya yang sakit.

“Sangat penting bagi saya untuk menjadi guru sebab ini menunjukkan pada orang banyak bahwa para penyerang itu tidak berhasil, seperti saat kami kembali bersekolah setelah penyerangan,” ungkapnya.

“Dengan mengajar, saya ingin memperlihatkan bahwa pendidikan itu penting dan perempuan dapat melakukan lebih dari sekadar bekerja di dapur.”

Shamsia tetap terlihat tenang dan tabah saat membicarakan penyerangan yang dialaminya. Dia pun masih merasa marah mengetahui para penyerangnya tidak pernah menjalani hukuman.

“Presiden Karzai berjanji untuk menghukum gantung para pria ini. Jika saya bertemu dengannya, saya akan bertanya kepadanya kenapa dia gagal memenuhi janjinya,” katanya.

Kelompok garis keras Taliban, yang melarang pendidikan bagi perempuan saat mereka berkuasa dari 1996-2001, menyangkal segala keterlibatan mereka dalam penyerangan tersebut. Sembilan orang yang sempat dicurigai serta ditahan pasca serangan pun memberikan pengakuan yang meragukan dan kemudian dibebaskan.

Shamsia bahkan bilang bahwa salah satu penyerangnya tinggal di dekat rumahnya, dan dia setiap hari melihat Shamsia pergi ke sekolah.

“Dia bebas, dan ada kemungkinan kejadian ini akan terulang lagi. Tidak ada keadilan di sini. Dia harus dihukum,” tuturnya.

Di dalam sekolah, yang dibangun dengan dana bantuan Jepang dan dibuka pada 2004 itu, ruang-ruang kelas dipadati celoteh gadis-gadis berusia 6-20 tahun. Mereka semua memakai kerudung putih dan dengan penuh semangat mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan guru mereka.

Lebih dari 2.600 murid mengikuti pelajaran dalam dua sesi setiap hari. Meski demikian, masih banyak yang terpaksa dipulangkan karena kekurangan tempat, bahkan dengan tenda-tenda hasil sumbangan UNICEF yang digunakan sebagai ruang kelas sementara.

Shamsia, yang berpenghasilan $85 (Rp 965 ribu) sebulan, mengajar seni dan menulis tangan untuk kelas empat. Sementara itu, gadis-gadis yang lebih tua mengikuti mata pelajaran sains, geografi dan matematika.

Mengajar siswi saat ini 

Kandahar, yang terletak di kawasan basis Taliban wilayah selatan, masih menjadi salah satu wilayah konservatif di Afghanistan, 12 tahun setelah kelompok garis keras Taliban digulingkan.

Bagi para siswi sekolah Mirwais Mena, kehidupan setelah meninggalkan sekolah kemungkinan akan dibatasi di rumah untuk mengurus keluarga, jarang bepergian ke luar dan hanya diperbolehkan bila mengenakan burqa yang membungkus tubuh mereka dari kepala hingga kaki.

“Kami harus berusaha keras meyakinkan para orangtua untuk tidak melarang anak-anak mereka bersekolah setelah penyerangan itu,” ujar kepala sekolah Danesh Alavi, yang pada saat itu masih menjadi wakil kepala sekolah. “Saya ingat kekacauan hari itu; kepanikan dan ketakuan yang kami rasakan.”

“Shamsia berasal dari keluarga miskin, tetapi pengabdiannya sebagai guru menjadi teladan bagi anak-anak perempuan lain untuk berani dan mendukung pembangunan negara ini. Gadis-gadis remaja dapat melihatnya mengajar dan memahami perjuangan kami.”

“Seperti guru yang baik di mana pun, dia murah hati pada para muridnya dan selalu tepat waktu.”

Selama dua jam setiap hari, Shamsia juga bergabung dengan kelas guru-guru SMP perempuan yang sedang mempersiapkan diri untuk ujian kualifikasi.

Terlalu berbahaya bagi mereka untuk pergi ke kampus pelatihan guru di kota Kandahar. Jadi, pelatih Bahir Makimi membayar sendiri tiket busnya untuk datang sekolah tersebut.

“Menurut saya Shamsia sudah menjadi guru yang baik dan akan lebih baik lagi,” ujarnya.

“Di sini, kami tidak mempunyai fasilitas yang layak untuk meningkatkan kemampuan mengajar. Tetapi kami menambah pengetahuan mereka tentang kimia dan mata pelajaran lain, dan kami membantu mereka untuk berkomunikasi secara tepat dengan murid-murid mereka.”

Pengenalan pendidikan untuk perempuan setelah jatuhnya Taliban sering disebut Barat dan diplomat PBB sebagai puncak pencapaian dari 12 tahun masa intervensi militer dan sipil di Afghanistan.

Menurut UNICEF, saat ini ada sekitar 2,4 juta anak perempuan yang menempuh pendidikan setingkat SD-SMU serta 51.000 guru perempuan.

Tetapi, kurangnya ruang kelas dan tenaga guru, serta pernikahan dini, menekan pertambahan angka tersebut. Ditambah lagi adanya ketakutan bahwa peningkatan ini akan terancam karena tahun depan pasukan tempur NATO yang dipimpin AS akan bersiap meninggalkan Afghanistan.

“Saya masih ingat penyerangan terhadap saya dan rasa sakitnya,” ungkap Shamsia. “Pendidikan bagi anak perempuan dan memiliki guru perempuan amat penting untuk masa depan, supaya para orang tua dan semua orang tahu apa yang dapat kami lakukan.”

Leave a Reply
<Modest Style