Modest Style

Pesan Malala di Hadapan PBB: Utamakan Pendidikan

,
Siswi Pakistan Malala Yousafzai berbicara pada pertemuan Majelis Pemuda PBB pada tanggal 12 Juli 2013 di markas besar PBB di New York. Yousafzai menjadi seorang public figure saat ia ditembak oleh seorang Taliban saat pergi bersekolah tahun lalu di Pakistan. Ia menjadi sasaran karena kampanyenya yang berkomitmen memperjuangkan hak-hak para gadis atas pendidikan. PBB telah menetapkan tanggal 12 Juli sebagai ‘Hari Malala’, yang juga merupakan hari ulang tahunnya, dan menjadi hari diselenggarakannya Majelis Pemuda PBB. Foto AFP / Stan Honda
Siswi Pakistan Malala Yousafzai berbicara pada pertemuan
Majelis Pemuda PBB pada tanggal 12 Juli 2013 di markas besar PBB di New York. Yousafzai menjadi seorang public figure saat ia ditembak oleh seorang Taliban saat pergi bersekolah tahun lalu di Pakistan. Ia menjadi sasaran karena kampanyenya yang berkomitmen memperjuangkan hak-hak para gadis atas pendidikan. PBB telah menetapkan tanggal 12 Juli sebagai ‘Hari Malala’, yang juga merupakan hari ulang tahunnya, dan menjadi hari diselenggarakannya Majelis Pemuda PBB. Foto AFP / Stan Honda

KOTA NEW YORK, 12 Juli 2013 (AFP) – Remaja Pakistan Malala Yousafzai berikrar di hari Jumat, untuk tidak menyerah kepada teroris, dalam orasinya yang menginspirasi untuk PBB pada kemunculan perdananya setelah ditembak oleh anggota Taliban.

‘Mereka pikir peluru mampu membungkam kami, tapi mereka gagal,’ ujar Malala di ulang tahunnya yang ke-16 dalam sebuah presentasi di mana ia menyebutkan bahwa buku dan pena dapat digunakan sebagai senjata.

‘Teroris-teroris itu berpikir mereka bisa mengubah visi saya dan menghentikan semangat saya, tapi tak sedikit pun yang berubah dalam hidup saya, kecuali ini: kelemahan, ketakutan dan keputusasaan, semua telah mati. Kekuatan, daya juang dan keberanian telah lahir,’ katanya.

Sambutan sepanjang 20 menit yang disampaikan mendapatkan beberapa kali tepukan penghormatan dan langsung mendapat pujian untuk pesan perdamaiannya tersebut.

Malala, yang mengenakan kerudung merah jambu dan sebuah syal milik mendiang pemimpin Pakistan Benazir Bhutto, menegaskan bahwa ia tidak menginginkan ‘balas dendam pribadi’ terhadap penembak Taliban yang melepas peluru ke arahnya di atas bis di Lembah Swat, Pakistan pada tanggal 12 Oktober tahun lalu.

‘Saya menginginkan pendidikan bagi putra dan putri dari para Taliban dan seluruh teroris serta ektremis. Saya bahkan tidak membenci Taliban yang menembak saya. Andai pun ada senjata dalam genggaman saya dan ia berdiri di depan saya, saya tetap tak akan menembaknya.’

Namun Malala mengatakan ‘para ekstremis itu takut kepada buku dan pena, kekuatan pendidikan. Kekuatan pendidikan yang membungkam mereka. Mereka takut kepada perempuan.’

‘Mari kita ambil buku dan pena kita. Benda-benda itu adalah senjata yang paling digdaya. Satu anak, satu guru, satu pena dan satu buku dapat mengubah dunia. Pendidikan adalah satu-satunya jawaban.’

Pejuang pendidikan bagi anak-anak perempuan yang sangat antusias ini ditembak di bagian kepala oleh seorang penembak Taliban saat ia menumpang sebuah bus dekat rumahnya di Lembah Swat, Pakistan, di bulan Oktober.

Dia diselamatkan dalam perawatan intensif di Inggris di mana ia tinggal sekarang, namun serangan itu justru telah memberinya kehidupan baru untuk kampanyenya mendukung kesempatan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak perempuan.

Malala kini dipertimbangkan sebagai calon kuat peraih Nobel Perdamaian. Meski begitu, Taliban memastikan bahwa ia tetap menjadi sasaran mereka.

Gordon Brown, mantan perdana menteri Inggris dan utusan khusus PBB untuk pendidikan, memuji Malala dengan sebutan ‘gadis paling berani di dunia’ saat ia menyambutnya pada Majelis Pemuda PBB.

Brown mengatakan adalah ‘sebuah keajaiban’ Malala bisa pulih dan hadir dalam pertemuan itu.

Pemimpin PBB Ban Ki-moon dan pucuk pimpinan lain juga memberikan penghargaan atas pencapaiannya.

Pidato di mana Malala menyerukan apa yang diperjuangkan Martin Luther King, Nelson Mandela dan para pejuang perdamaian legendaris lainnya, mendapatkan banyak pujian.

Malala juga berterima kasih kepada para dokter dan perawat Inggris atas perawatan yang diberikan dan pemerintahan Uni Emirat Arab yang telah membiayai perawatannya.

‘Sungguh sulit dipercaya betapa besar cinta yang diberikan orang-orang kepada saya. Saya telah menerima ribuan kartu ucapan dan hadiah yang dikirimkan orang-orang dari seluruh dunia. Terima kasih buat mereka semua. Terima kasih kepada anak-anak yang ucapan polosnya telah menyemangati saya,’ ujarnya.

Perdana Menteri Inggris David Cameron menyampaikan lewat akun Twitter-nya bahwa Malala telah memberikan ‘pesan yang menyentuh’.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa 57 juta anak-anak usia sekolah dasar tidak mendapatkan pendidikan – setengah dari mereka berada di negara konflik seperti Suriah.

‘Para siswa dan guru di seluruh penjuru dunia telah diintimidasi dan dilecehkan, dilukai, diperkosa, dan bahkan dibunuh. Sekolah-sekolah dibakar, dibom, dan dihancurkan,’ tukas Diya Nijhowne, direktur dari Global Coalition to Protect Education from Attack (Koalisi Global untuk Melindungi Pendidikan dari Serangan).

Nijhowne menyoroti serangan yang mengerikan di wilayah utara Nigeria minggu lalu.

Para penembak dari kelompok Islamis Boko Haram – yang namanya secara harfiah berarti ‘pendidikan Barat adalah sebuah dosa’ – menyerbu sebuah sekolah menengah berasrama dan membunuh 41 siswa dan seorang guru sebelum akhirnya membakar gedung sekolah itu.

Menurut laporan tahunan yang dibuat Ban Ki Moon tentang anak-anak dan konflik, 115 sekolah telah diserang tahun lalu di Mali, 321 di wilayah terjajah Palestina, 167 di Afghanistan dan 165 di Yaman.

Di Pakistan diperkirakan lima juta anak putus sekolah dan di Nigeria 10 juta, menurut estimasi PBB.

Poin utama dari pidato Malala di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Jumat

Terima kasih untuk setiap orang yang telah berdoa untuk pemulihan saya yang cepat dan sebuah hidup baru. Sungguh sulit dipercaya betapa besar cinta yang diberikan orang-orang kepada saya. Saya telah menerima ribuan kartu ucapan dan hadiah yang dikirimkan orang-orang dari seluruh dunia. Terima kasih buat mereka semua. Terima kasih kepada anak-anak yang ucapan polosnya telah menyemangati saya. Terima kasih kepada para tetua yang doanya telah menguatkan saya.

Yang tercinta saudara-saudariku, ingatlah satu hal. Hari Malala bukan milik saya. Hari ini adalah hari bagi setiap perempuan, setiap anak laki-laki dan perempuan yang telah menyuarakan hak-haknya. Saya berbicara – bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk seluruh anak-anak, laki-laki juga perempuan.

Teman-temanku, pada tanggal 9 Oktober 2012, seorang Taliban menembak saya di sisi kiri bagian dahi saya. Mereka menembak teman-teman saya juga. Mereka mengira bahwa peluru akan membungkam kami. Tapi mereka gagal. Dan kemudian, dari keheningan datang ribuan suara. Teroris-teroris itu berpikir mereka bisa mengubah visi saya dan menghentikan semangat saya, tapi tak sedikit pun yang berubah dalam hidup saya, kecuali ini: kelemahan, ketakutan dan keputusasaan, semua telah mati. Kekuatan, daya juang dan keberanian telah lahir. Saya masih Malala yang sama. Ambisi saya masih sama. Harapan saya masih sama. Impian saya masih sama.

Saudara-saudariku, saya tidak menentang siapa pun. Tidak pula saya berbicara dalam rangka sebuah pembalasan dendam pribadi terhadap Taliban atau kelompok teroris mana pun. Saya di sini berbicara demi hak memperoleh pendidikan bagi setiap anak. Saya menginginkan pendidikan bagi putra-putri dari para ekstremis, khususnya Taliban.

Saya bahkan tidak membenci orang Taliban yang menembak saya. Bahkan jika sebuah senjata ada di genggaman saya dan ia berdiri di hadapan saya. Saya tidak akan menembaknya. Ini adalah belas kasih yang saya pelajari dari Muhammad – nabi yang pemaaf, Yesus Kristus dan Buddha. Ini adalah warisan perubahan yang saya dapat dari Martin Luther King, Nelson Mandela dan Muhammad Ali Jinnah.

Pepatah bijak yang mengatakan, ‘Pena lebih perkasa ketimbang pedang’ benar adanya. Para ekstremis itu takut kepada buku dan pena. Kekuatan pendidikan menggentarkan mereka. Mereka takut kepada perempuan. Kekuatan suara perempuan menakutkan buat mereka.

Itulah mengapa mereka meledakkan sekolah-sekolah setiap hari. Karena mereka akan selalu takut terhadap perubahan, takut akan kesetaraan yang akan dibawa kepada masyarakat kita.

Mereka berpikir Tuhan itu adalah sebuah wujud kerdil, picik, dan konservatif yang akan mengirim para gadis ke neraka hanya karena mereka bersekolah. Para teroris itu menyalahgunakan nama Islam dan masyarakat Pashtun untuk kepentingan kelompok mereka.

Perempuan dan anak-anak menderita di berbagai belahan dunia dan dalam berbagai kejadian yang menimpanya. Di India, anak-anak miskin yang tak berdosa menjadi korban perburuhan anak-anak. Banyak sekolah yang dihancurkan di Nigeria. Orang-orang di Afghanistan menderita akibat masalah ekstremisme selama puluhan tahun.

Kami menyeru kepada pemimpin dunia bahwa seluruh kesepakatan perdamaian harus melindungi hak-hak perempuan dan anak-anak. Sebuah kesepakatan yang melanggar penghormatan terhadap perempuan dan hak-haknya tidak bisa ditoleransi.

Kami menyeru kepada seluruh pemerintahan untuk memastikan pendidikan wajib yang gratis bagi setiap anak di seluruh dunia.

Kami menyeru kepada seluruh pemerintahan untuk berjuang melawan terorisme dan kekerasan, untuk melindungi anak-anak dari kebrutalan dan hal yang membahayakan.

Jadi mari kita kumandangkan perjuangan global melawan buta-huruf, kemiskinan dan terorisme dan mari kita ambil buku dan pena kita. Benda-benda itu adalah senjata yang paling ampuh.

Satu anak, satu guru, satu pena dan satu buku dapat mengubah dunia. Pendidikan adalah satu-satunya jawaban. Utamakan Pendidikan.

 

Leave a Reply
<Modest Style