Modest Style

Pengakuan Aktivis Perempuan Suriah Ungkap Kekejaman di Penjara

,
(Foto: potongan video YouTube)
(Foto: potongan video YouTube)

BEIRUT, 10 Juli 2013. Oleh Serene Assir (AFP) – Aktivis perempuan Suriah Alaa Morelli berhasil lolos dari kekejaman penjara Suriah. Namun, demi memperoleh kebebasannya, ia terpaksa berbohong dalam ‘pengakuan’ yang ditayangkan TV nasional, dengan mengatakan bahwa pemberontakan di negaranya merupakan ulah pihak asing.

Morelli (23), mahasiswi University of Latakia yang terletak di garis pantai Mediterania, Suriah, diitangkap 12 Juni tahun lalu, tepat setelah selesai mengerjakan salah satu ujiannya di tahun kedua.

Seorang mahasiswa lain melaporkannya lantaran membuat dan menyebarkan pamflet berisi seruan kepada warga Latakia untuk memprotes pemerintahan Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

“Setelah ujian saya keluar gedung dan melihat beberapa petugas keamanan telah berdiri di sana dengan seorang mahasiswa. Dia menunjuk saya dan mereka pun menangkap saya,’ ujar Alaa kepada AFP dalam wawancara yang dilakukan di Istanbul dan melalui Internet.

Morelli menghabiskan lebih dari dua bulan dalam tahanan, dan selama itu ia dipindahkan dari penjara yang satu ke penjara yang lain.

‘Saya melihat hal-hal yang mengerikan,’ tuturnya, suaranya kedengaran ragu, senyum lenyap dari wajahnya.

‘Para sipir terus mengancam untuk mengisolasi saya dan memperlakukan saya dengan sangat keras secara psikologis. Tapi para tahanan perempuan yang lain menderita lebih parah,’ katanya.

‘Saya melihat satu sel yang berisi sekitar 40 perempuan, semuanya telanjang, matanya ditutup dan tangannya diborgol. Mereka tidak diperbolehkan duduk, mereka hanya bisa berdiri.’

Sekitar 30.000 hingga 40.000 orang diyakini ditahan di penjara Suriah, dan menurut kelompok hak asasi, mereka mengalami penyiksaan yang sistematis.

Morelli yakin dirinya terhindar dari kekejaman lantaran dia mengakui ‘kejahatannya’ di televisi.

Televisi pemerintah Suriah secara teratur menayangkan ‘pengakuan’ dari warga yang ditahan dengan tuduhan bekerja atau berjuang untuk pihak oposisi.

Rekaman ‘pengakuan’ Morelli disiarkan selama berminggu-minggu, menampilkan ekspresinya yang bersungguh-sungguh dengan kepala terbungkus kerudung putih sederhana.

Kepada pemirsa Morelli mengatakan dia telah setuju untuk melaporkan berita palsu mengenai sejumlah demonstrasi anti-pemerintah tindakan keras pemerintah terhadap para pemberontak untuk stasiun TV pan-Arab Al-Jazeera, dengan menggunakan nama samaran.

Rezim Suriah telah menolak untuk mengakui eksistensi gerakan perlawanan rakyat yang menentang pemerintahan Assad serta menggunakan istilah ‘teroris’ untuk menyebut kelompok oposisi.

Pemerintah juga telah menuding negara-negara asing sebagai pihak yang memicu kekerasan di Suriah.

‘Apa yang saya katakan (kepada Al-Jazeera) itu tidak benar. Tidak ada apa pun yang terjadi di Latakia. Orang menjalani kehidupan sehari-hari mereka seperti biasa,’ ungkap Morelli dalam pengakuan yang disiarkan televisi.

Dalam wawancara selama 15 menit itu, ia membeberkan informasi terinci mengenai para pemberontak yang menurutnya menyelundupkan peralatan satelit supaya para aktivis dapat menghindari pengawasan negara.

‘Tujuan para aktivis anti-pemerintah adalah memecah negara dan mengubah opini publik internasional menjadi menentang Suriah. Mereka menggambarkan Suriah seperti genangan darah padahal di sini tidak terjadi apa-apa,’ ujarnya sambil menangis di televisi.

Dia mengatakan dirinya telah ‘berpartisipasi dalam pertumpahan darah di Suriah.’

Saat dia di penjara, tentara pemberontak meluncurkan kampanye untuk menyerukan pembebasannya yang akhirnya didapatnya melalui pertukaran tahanan.

‘Akhirnya, berkat pasukan (pemberontak) Tentara Pembebasan Suriah, saya dan seorang gadis lain berhasil keluar dari penjara,’ ujarnya gembira.

‘Mereka mengatur pertukaran tahanan berupa beberapa tentara untuk imbalan kebebasan kami.’

Pertukaran tahanan itu mempertemukan Morelli dengan suaminya, Said Tarbush, komandan pemberontak batalion Ahrar Jable yang menegosiasikan kesepakatan.

Morelli menikah dengan Tarbush dan pindah bersamanya ke negara tetangga Turki.

‘Setiap perempuan yang mengalami situas seperti saya akan melakukan hal yang sama. Dia menyelamatkan nyawa saya, dan menunjukkan makna cinta sejati,’ ujarnya sambil terkekeh.

Berada di Istanbul yang aman, Morelli pun menukar kerudung putih yang dikenakannya saat terpaksa mengaku, menjadi kerudung warna-warni merah muda berbordir bunga.

Tarbush berjenggot lebat dan berbicara dengan suara yang berat, sering kali menggunakan istilah Islam.

Lelaki itu berpenampilan tangguh akibat berbulan-bulan berjuang melawan tentara  Suriah di pedesaan Latakia, yang sebagian besarnya berada dalam kendali rezim.

Meskipun Morelli jelas tidak sekonservatif suaminya, Tarbush mengaku sangat bangga pada istrinya. ‘Apakah Anda tidak melihat betapa tabahnya dia?’ ujarnya sambil tersenyum.

Morelli bermimpi dapat menyelesaikan studinya di bidang sejarah dan ‘menjadi doktor di bidang saya. Suatu hari nati saya ingin kembali ke Latakia, kali ini sebagai guru.’

Untuk saat ini, ia dan sekelompok temannya mengumpulkan dana di Turki serta melakukan perjalanan singkat ke Suriah melalui pos perbatasan yang dikuasai pemberontak. Di sana mereka menyalurkan makanan dan kebutuhan pokok bagi keluarga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

‘Kami pernah mengumpulkan sumbangan sekitar $1.000 dalam satu kali penggalangan dana, dan melakukan perjalanan singkat ke Aleppo atau Idlib,’ ujar Morelli. Kedua provinsi di utara Suriah itu adalah rumah bagi puluhan ribu pengungsi.

‘Jumlahnya memang tidak cukup, tapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Hanya kami ini orang-orang muda yang dapat membantu Suriah, karena di mata dunia, kami hanyalah statistik.’

Leave a Reply
<Modest Style