Modest Style

Merebut kembali sang pejuang wanita: Khaulah binti al-Azwar

,

Lebih dari 13 abad setelah masa dan perjuangannya, warisan Khaulah binti al-Azwar terus hidup. Oleh Raquel Evita Saraswati.

WP-Khawlah-bint-al-azwar-Illustration-by-Sugiarto-Kwan-sm
Ilustrasi oleh Sugiarto Kwan

Saya selalu mengagumi pejuang wanita. Sebagai seorang feminis, saya tidak bisa tidak tertarik pada kisah tentang para wanita yang memimpin di barisan terdepan perang-perang besar, mengalahkan musuh prianya dengan keberanian dan kemampuan luar biasa. Pejuang wanita seperti Jeanne d’Arc dan Hua Mulan telah memberi inspirasi dalam pembuatan film, drama, dan bahkan buku cerita dan kostum yang ditujukan untuk para gadis yang mengimpikan diri membela kaum mereka dari para tiran, penjajah, dan naga. Pada Perang Sipil Amerika, diperkirakan sekira 150 hingga 400 wanita menyamar sebagai pria untuk bertarung, termasuk Frances Clayton, yang aksinya di Union Army menjadikannya legenda Amerika.

Tokoh-tokoh fiktif seperti Yentl Mendel (diperankan oleh Barbra Streisand dalam film Yentl tahun 1983), seorang wanita Yahudi muda yang begitu mendambakan pendidikan keagamaan, dan para wanita serta gadis di kehidupan nyata yang menuntut pendidikan dasar di Afghanistan, juga telah menyamar menjadi pria. Saat para pejuang wanita di ruang-ruang kelas maupun medan perang diketahui menyamar, mereka akan diterima sebagai pahlawan atau sebaliknya, dihukum berat.

Salah satu pejuang wanita dalam sejarah Islam yang paling ternama mungkin adalah Khaulah binti al-Azwar. Khaulah binti al-Azwar lahir sekitar abad ke-17, dan ia serta keluarganya merupakan salah satu pengikut awal Islam. Disebutkan bahwa Khaulah awalnya bergabung dengan tentara Muslim sebagai perawat, memberikan perawatan bagi para prajurit yang terluka di tempat yang kini dikenal sebagai Suriah, Yordania, dan Israel/Palestina. Setelah saudaranya Dirar tertangkap, Khaulah mengenakan pakaian perang pria, termasuk topeng, dan terjun ke dalam pertempuran. Para prajurit lain menganggap pejuang muda nan berani yang menghabisi tentara Romawi seorang diri adalah sang jenderal Khalid bin Walid, hingga Khalid sendiri akhirnya muncul.

Unit petarung dan akademi militer wanita dinamai menggunakan namanya, dan pemimpin keagamaan menceritakan kembali kisahnya sebagai contoh pemberdayaan wanita dalam Islam

Dan bukannya marah pada Khaulah karena mengambil tempat seorang pria dalam pertarungan, rekan prajuritnya justru mengakui kehebatan Khaulah yang luar biasa, dan menunjuknya untuk memimpin mereka ke dalam pertarungan. Ia adalah pejuang yang mengagumkan, namun bukti nyata keberaniannya terlihat saat ia dan beberapa wanita lain ditawan oleh angkatan bersenjata musuh. Mereka dibawa ke tenda-tenda para tentara Romawi untuk dijadikan budak seks, sementara Khaulah sendiri akan dijadikan budak seks pribadi jenderal Romawi. Tidak menyerah pada kekerasan dan perbudakan seksual, ia meyakinkan para wanita untuk bergabung dengannya dan melawan penawan mereka. Disebutkan bahwa Khaulah mengajak para wanita membentuk lingkaran, dan dengan menggunakan tiang-tiang tenda, mereka berhasil mengalahkan para penawan.

Jordanian-stamp-depicting-Khawla-b.-al-Azwar
Perangko Yordania menggambarkan Khaulah binti al-Azwar (Gambar: delcampe.net)

Kini, Khaulah binti al-Azwar dianggap sebagai sumber kebanggan oleh banyak Muslim. Unit petarung dan akademi militer wanita dinamai menggunakan namanya, dan pemimpin keagamaan menceritakan kembali kisahnya sebagai contoh pemberdayaan wanita dalam Islam.

Sialnya, beberapa ekstrimis juga telah menggunakan kisah Khaulah sebagai cara untuk mengembangkan agenda berbahaya mereka sendiri. Bukannya menggunakan kisahnya sebagai cara untuk memberdayakan wanita melawan kekuatan yang dapat memperbudak mereka, ekstrimis menggunakan kisahnya sebagai cara untuk memikat wanita ke dalam bentuk ideologi yang Khaulah runtuhkan setiap kali ia mengalahkan calon penindas seksualnya.

Sebuah kelompok ekstrimis yang berpusat di AS, Islamic Thinkers Society, menggunakan naratif yang dilebih-lebihkan tentang hidup dan misi Khaulah dalam salah satu tulisan mereka tentang apa yang mereka yakini sebagai keutamaan berjuang melawan non-Muslim, dan apa yang mereka sebut “keabsahan wanita bergabung dan bertarung dalam jihad”. Dan berdasarkan koran pan-Arab Al-Sharq Al-Awsat edisi 31 Januari 2002, calon pelaku bom bunuh diri wanita Itaf Alayan, yang mengaku telah berusaha melakukan serangan bunuh diri di Yerusalem, menyatakan bahwa misi bunuh diri wanita boleh-boleh saja karena Khaulah binti al-Azwar bertarung “tanpa pendamping pria”. Beragam contoh lain penggunaan kisah Khaulah secara berlebihan untuk mendukung penafsiran Islam yang kolot dan anti-wanita dapat ditemukan secara online.

Pemberdayaan dan kepemimpinan perempuan tidak akan diberikan secara cuma-cuma untuk kita oleh pria yang ingin mempertahankan cengkeraman pada pikiran dan tubuh wanita

Ini waktunya para wanita Muslim merebut kembali sang pejuang wanita, dan warisan Khaulah binti al-Azwar. Ini bukan panggilang untuk mempersenjatai diri, namu panggilan untuk mengingat, menghormati, dan menghidupkan semangat seorang wanita yang menolak untuk diperbudak dan menolak untuk membiarkan para saudarinya diperbudak.

Ada harapan dalam keberanian para pejuang Muslim wanita masa kini. Salah satu favorit saya adalah seorang teman baik: wartawan, dosen, dan aktivis Mesir-Amerika Mona Eltahawy. Saat meliput revolusi Mesir pada bulan November 2011, ia mendapat serangan fisik dan seksual keji di Jalan Mohamed Mahmoud di Kairo. Seperti Khaulah binti al-Azwar, Mona balik menyerang – dengan keras. Ia menunjukkan pada seluruh dunia tindak kejahatan yang dilakukan militer Mesir, mempertontonkan peleceh dan pemerkosa yang bersembunyi di tempat-tempat terbuka di Lapangan Tahrir, dan membuat media sosial gempar selama berpekan-pekan: sebuah esai berjudul Why Do They Hate Us?, sebuah tanggapan buka-bukaan atas tindak kekerasan terhadap wanita dan gadis muda di dunia Muslim. Seperti Khaulah binti al-Azwar, Mona bekerja sama dengan para pria yang mendukung, menghormati, dan bertarung bersisian dengan kaum wanita, namun tidak pernah ragu untuk memberi serangan mematikan terhadap misogini dan tirani yang hidup di dalam pikiran mereka yang berupaya memperbudak pikiran dan tubuh wanita.

Jika kita ingin menghargai warisan para wanita hebat dalam sejarah Islam, kita harus ingat bahwa kebebasan untuk menghidupkan contoh-contoh pemberdayaan dan kepemimpinan mereka tidak akan diberikan secara cuma-cuma untuk kita oleh pria yang ingin mempertahankan cengkeraman pada pikiran dan tubuh wanita. Sekarang adalah saat yang tepat untuk perubahan: Seiring berlanjutnya revolusi di dunia Arab dan Muslim, umat Muslim harus menolak pemikiran bahwa satu-satunya alternatif dari fasisme sekuler adalah teokrasi anti-wanita yang akan memenjara, melukai, dan membunuh wanita seperti Khaulah binti al-Azwar. Baik Islamis radikal dan Muslim pembenci yang jahat bersikeras bahwa kita tidak memiliki pilihan ini. Namun para wanita dalam sejarah kita, yang terbaik dalam agama kita, serta contoh hidup pejuang-pejuang wanita masa kini menunjukkan sebaliknya.

 

Artikel ini pertama kali terbit di majalah Aquila Style edisi Ied Agustus 2012. Anda dapat membaca edisi selengkapnya secara cuma-cuma di iPad atau iPhone dari Apple Newsstand, atau di table Android dari Google Play.

Leave a Reply
<Modest Style