Modest Style

Medina Warda Aulia, jawara catur dunia asal Bekasi

,

Gadis remaja bertubuh mungil ini menjadi Grand Master pada usia 16 tahun. Diceritakan oleh Khairina Nasution.

Medina Warda Aulia (Foto:Kementerian Luar Negeri)
Medina Warda Aulia (Foto Kementerian Luar Negeri)

Kisah Medina Warda Aulia adalah kisah manis pencapaian mimpi. Medina, yang lahir dari keluarga sederhana di Babelan, Bekasi ini berhasil meraih gelar juara di kejuaraan catur Turnamen Pardubice Chess Festival, Polandia pada akhir Juli lalu. Dengan kemenangannya ini, Medina melangkah selangkah lebih jauh untuk mendekati prestasi idolanya, Grand Master Judit Polgar asal Hungaria.

Judit adalah seorang pecatur wanita yang meraih gelar grand master dunia pada usia 15 tahun empat bulan. Judit juga menyandang gelar sebagai Pecatur Wanita Abad ini.

Tak jauh dari prestasi Judit, Medina menjadi pecatur perempuan kedua Indonesia yang meraih gelar Grand Master pada usia 16 tahun dua bulan. Gelar ini didapat setelah Medina mengalahkan Fide Master Lanita Stetsko di babak kesepuluh Kejuaraan Catur Yunior Dunia yang digelar di Turki, September 2013 lalu.

Padahal, tak seperti Judit yang memang dibesarkan untuk menjadi pecatur, Medina baru mengenal catur di usia sembilan tahun. Justru kakak Medina, Virda, yang pertama kali menunjukkan keinginan belajar catur di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) Bekasi. Ayah mereka, Nur Muchlisin,kemudian mendaftarkan Virda di sekolah tersebut.

Awalnya, Medina hanya menonton Virda dan ayahnya bermain catur di rumah. Lama-lama ia tertarik untuk belajar.

“Catur seperti permainan perang-perangan,” ucapnya seperti ditulis Vivanews.

Menurut sang ibu, Siti Eka Nurhayati, Medina kecil lebih suka mewarnai dan sempoa. Dia cerdas, selalu meraih ranking pertama mulai dari taman kanak-kanak hingga lulus SD.

Medina juga mengaku suka catur karena terinspirasi boneka Barbie. Seperti dunia khayalan Barbie yang memiliki raja dan ratu, catur juga memiliki kerajaan sendiri. Medina sering memainkan catur seperti ia memainkan Barbie.

(Gambar: Indonesia Open Chess Championship)
(Gambar: Indonesia Open Chess Championship)

“Karena saya sering memainkan catur,ayah tahu dan akhirnya mulai mengajari saya bagaimana bermain catur. Itu pada 2006. Lalu tiga bulan setelah itu, saya diajari orang-orang dewasa yang selalu bermain catur di sekitar rumah saya,” kata Medina seperti ditulis situs Indonesia Open Chess Championship.

Medina sebenarnya juga ingin belajar di SCUA. Namun, karena ketiadaan biaya, Medina hanya didaftarkan sebagai anggota SCUA;dia tak bisa ikut les catur penuh waktu, tapi boleh mengikuti pertandingan internal. Namun dengan hanya bermodal latihan dengan ayahnya, Medina berhasil mangalahkan siswa-siswi SCUA. Direktur SCUA, Kristianus Liem, kemudian menawari Medina untuk mengikuti program SCUA secara gratis.

Pada 2006,Medina langsung menjuarai kelompok umur 10 tahun Kejuaraan Catur DKI. Sejak itu, satu persatu gelar juara catur dia sabet. Pada kejuaraan dunia tingkat pelajar ke-4 yang diadakan di Singapura, Juli 2008, selain dikalungi medali emas untuk Kelompok Umur 11 tahun, Medina juga dianugerahi gelar Candidate Master (CM). Gelar ini adalah salah satu syarat meraih gelar Master FIDE, Federasi Catur Dunia.

Prestasi Medina di Pardubice Chess Festival merupakan prestasi termutakhirnya. Medina juara setelah mengungguli pecatur Rusia Polina Shuvalova pada babak terakhir. Meski sama-sama mengoleksi lima poin kemenangan dari sembilan babak, Grand Master Medina unggul tie break rating rata-rata atas lawan.

Seperti ditulis vivanews, pecatur senior GM Utut Adianto menilai bahwa Medina saat ini adalah pecatur paling berbakat di Indonesia. Menurut Utut, Indonesia sebenarnya banyak memiliki talenta catur. Persoalannya kini adalah tinggal bagaimana menemukan dan memoles talenta-talenta ini. Salah satu kendala perkembangan catur di Indonesia, selain soal biaya, adalah pilihan hidup antara karir di catur dan sekolah. Banyak pecatur muda berbakat akhirnya tenggelam karena orang tua lebih mendorong anak-anak mereka untuk fokus di jalur sekolah formal.

Ayah Medina mengamini dilema itu. Namun, dia tak mau Medina merasa terjebak dalam dilemma semacam ini. Nur bertekad bahwa sekolah dan karir catur Medina bisa berjalan beriringan. “Sekarang banyak kok Grand Master bergelar sarjana,” katanya pada vivanews.

Leave a Reply
<Modest Style