Modest Style

Malala Ingin Menjadi Perdana Menteri

,
Malala Yousafzai tampil bersama ayahnya Ziauddin Yousafzai pada sebuah wawancara dengan jurnalis CNN Christiane Amanpour (Ka), tanggal 10 Oktober 2013 di kota New York. John Moore / Getty Images / AFP
Malala Yousafzai tampil bersama ayahnya Ziauddin Yousafzai pada sebuah wawancara dengan jurnalis CNN Christiane Amanpour (Ka), tanggal 10 Oktober 2013 di kota New York. John Moore / Getty Images / AFP

KOTA NEW YORK, 11 Oktober 2013 (AFP) – Aktivis HAM remaja Malala Yousafzai menyampaikan kepada para hadirin di New York hari Kamis bahwa ia tertarik untuk menjadi perdana menteri Pakistan untuk ‘menyelamatkan’ negaranya.

Dalam sebuah wawancara dengan jurnalis CNN Christiane Amanpour di acara publik dengan tiket yang terjual habis, ia juga mengatakan bahwa memenangi Penghargaan Nobel Kedamaian, yang akan  diumumkan pada hari Jumat, adalah sebuah ‘kehormatan besar.’

Ditanyakan perihal cita-citanya yang tampak ambigu, menjadi dokter atau politisi, dan apakah ia ingin menjadi perdana menteri, Malala mengatakan bahwa ia berkeinginan membantu tanah kelahirannya.

‘Saya ingin menjadi perdana menteri Pakistan,’ demikian disampaikannya kepada Amanpour yang disambut tepukan riuh para penonton.

‘Menurut saya itu hal yang bagus karena lewat politik saya bisa menyelamatkan negeri saya secara keseluruhan,’ tambahnya.

‘Saya bisa mengalokasikan banyak anggaran dana untuk pendidikan dan saya juga bisa berkonsentrasi pada urusan luar negeri.’

Malala ditembak tepat di kepala oleh seorang Taliban Pakistan tanggal 9 Oktober 2012, karena menyuarakan penentangan terhadap mereka, menuntut hak anak perempuan untuk bersekolah.

Ia diterbangkan ke Inggris untuk perawatan spesialis dan menjalani proses kesembuhan yang menakjubkan, menjadikannya duta dunia untuk hak anak-anak.

Gadis 16 tahun ini telah menulis sebuah biografi, berpidato di badan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mendirikan Malala Fund.

Pada hari Kamis, ia memenangi penghargaan HAM bergengsi yakni Sakharov dari parlemen Eropa dan telah dinominasikan sebagai kandidat favorit untuk Penghargaan Nobel Perdamaian.

‘Jika saya mendapatkan Penghargaan Nobel Perdamaian maka menurut saya hal itu sungguh kehormatan besar dan lebih dari yang layak saya dapatkan,’ ujarnya.

‘Penghargaan Nobel Perdamaian akan sangat membantu saya dalam mengampanyekan perihal pendidikan anak-anak perempuan.’

Ia memberikan penghormatan kepada para pemenang Nobel sebelumnya, termasuk ilmuwan Abdus Salam yang memenangi penghargaan tahun 1979 lewat bidang fisika – satu-satunya Nobel untuk Pakistan sampai saat ini.

‘Bagi setiap pemenang penghargaan Nobel, mereka layak mendapatkannya namun saat membayangkan diri saya sendiri, rasanya masih banyak yang harus saya lakukan,’ ujarnya kepada Amanpour.

Taliban Pakistan telah mengancamnya untuk melakukan percobaan pembunuhan lagi dan pengamanan baginya diperketat dalam acara publik yang diadakan di New York pada Kamis silam.

‘Mereka hanya akan bisa menembak badan saya, tapi tidak mimpi-mimpi saya,’ tegas Malala.

Penampilannya tersebut bertepatan dengan Hari Internasional Anak Perempuan.

Menurut UNICEF, sekitar satu dari tiga perempuan di negara berkembang dipaksa untuk menikah sejak masih remaja bahkan anak-anak, yang juga berarti memaksa mereka untuk keluar sekolah lebih dini.

Mempersiapkan pendidikan dasar bagi para ibu bahkan dapat menyelamatkan 1,7 juta anak dari tumbuh kembang yang terhambat dan malnutrisi setiap tahunnya, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Leave a Reply
<Modest Style