Malala, muslimah muda luar biasa

,
000-Par7930244-sm
NIGERIA, Abuja: Aktivis pendidikan Pakistan Malala Yousafzai (ketiga dari kiri) mengangkat tangan saat berpose bersama lima siswi Chibok yang melarikan diri (ki-ka): Rebecca Ishaku, Kanna Bitrus, Hauwa John, Hauwa Musa dan Hawa Alhl’ama, setelah mengadakan konferensi pers. Lima siswi Chibok yang melarikan diri dan orangtua dari siswi korban penculikan lain berdiri di belakangnya. Pada 14 Juli Malala mendesak Presiden Nigeria Goodluck Jonathan untuk bertemu dengan orangtua para siswa yang diculik tiga bulan lalu oleh Boko Haram. Malala, yang selamat dari upaya pembunuhan oleh Taliban pada 2012 dan menjadi pejuang hak bersekolah, berada di Abuja pada ulang tahunnya yang ke-17 untuk memperingati kesuraman penculikan 276 anak perempuan dari sebuah sekolah menengah di Kota Chibok, timur laut Nigeria oleh Boko Haram pada 14 April. AFP PHOTO / ISAAC BABATUNDE

ISLAMABAD (AFP) – Perjuangan penuh keberanian aktivis pelajar Malala Yousafzai sejak ditembak oleh Taliban telah menjadikannya simbol hak azasi manusia sekaligus pejuang dunia.

Sangat sedikit remaja yang bisa mengatakan bahwa mereka telah dua kali dinominasikan untuk Nobel Perdamaian, atau melewati ulang tahun ke-17 mereka dengan melobi presiden Nigeria untuk melakukan lebih banyak upaya dalam menyelamatkan ratusan gadis yang diculik oleh militan radikal.

Namun Malala bukanlah remaja biasa.

Ia telah menjadi perhatian dunia saat seorang penembak Taliban menaiki bis sekolahnya pada 2 Oktober 2012, bertanya “Siapa Malala?”, dan menembaknya di kepala.

Ayahnya Ziaudin, seorang kepala sekolah dan juga pejuang pendidikan berpengalaman, membantu membawa nama gadis berbakat tersebut dari Lembah Swat di barat laut Pakistan ke dalam sorotan dunia.

Melalui dorongannya, Malala mulai menulis blog untuk BBC Urdu menggunakan nama samaran di tahun 2009, saat ia masih berusia 11 tahun, tentang kehidupan di bawah kekuasaan Taliban di Swat, di mana pendidikan untuk anak perempuan dilarang.

Pada tahun 2007, militan Islamis telah mengambil alih wilayah tersebut, yang dengan penuh sayang disebut Malala sebagai “Swat-ku”, dan memberlakukan peraturan yang kejam dan berdarah.

Lawan dibunuh, orang-orang dicambuk di tempat umum atas tuduhan melanggar hukum syariah, wanita dilarang ke pasar, dan para gadis dilarang bersekolah.

Blognya, yang ditulis secara anonim dengan keluguan dan kelugasan seorang anak, membuka jendela atas penderitaan yang terjadi di wilayah Pakistan.

Namun hanya setelah penembakannya di tahun 2012, dan kesembuhan ajaibnya di sebuah rumah sakit Inggris, Malala menjadi tokoh dunia yang sebenarnya.

Mantan perdana menteri Inggris, Gordon Brown, seorang duta khusus PBB, mengunjunginya di rumah sakit tidak lama setelahnya dan menyuarakan perjuangannya dengan sebuah petisi yang dibawanya ke pemerintah Pakistan.

Kekuatan tangguh bagi hak azasi manusia

Sejak itu, ia telah menjelma serupa bintang internasional, kekuatan tangguh bagi hak azasi yang mudah dikenali.

Ia menerima tepukan meriah pada Juli 2013 untuk pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di mana ia bersumpah tidak akan pernah bungkam.

Remaja ini belakangan di tahun yang sama memenangkan penghargaan hak azasi manusia, Sakharov Uni Eropa yang prestisius.

Ia juga telah menerbitkan sebuah otobiografi dan diundang minum teh bersama Ratu Elizabeth II, dan meraih ketenaran yang lebih serupa dengan ketenaran bintang film daripada pejuang pendidikan.

Dalam sebuah wawancara pada tahun 2013 dengan Christiane Amanpour dari CNN di sebuah acara di New York yang tiketnya masuknya terjual habis, Malala berkata ia ingin menjadi perdana menteri Pakistan untuk “menyelamatkan” negaranya.

Otobiografinya “I am Malala” menunjukkan sisi remaja Malala yang lebih feminin – ia adalah penggemar sensasi pop Kanada Justin Bieber dan novel berseri kisah roman vampire “Twilight”.

Namun kegiatannya sebagai aktivis terus berlanjut. Pada ulang tahunnya yang ke-17 awal tahun ini, ia berada di Abuja untuk mendesak Presiden Goodluck Jonathan untuk bertemu dengan para orangtua dari ratusan siswi yang diculik oleh kelompok radikal Boko Haram.

Meski gagal mendapatkan Penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 2013, ia kembali dinominasikan untuk kedua kalinya tahun ini.

Pada hari Jumat, pihak militer Pakistan menyatakan telah menahan 10 terduga militan Pakistan yang diklaim terlibat dalam upaya pembunuhan Malala.

Namun membawa para pria tersebut ke meja pengadilan bisa jadi membutuhkan proses yang panjang. Dalam sistem hukum Pakistan yang rumit, berbagai kasus dibawa ke meja hijau selama bertahun-tahun denga kemajuan minim.

Sementara itu, faksi garis keras Taliban yang baru, Jamat-ul-Ahrar, menyangkal klaim pihak militer, dan mengatakan bahwa dari ketiga pria yang bertanggung jawab dalam upaya pembunuhan, satu telah meninggal dan dua lainnya sedang dalam pengejaran.

Leave a Reply
Aquila Klasik