Modest Style

Luput dari Maut, Pekerja Garmen Bangladesh Beralih Profesi

,
Reshma, pekerja garmen Bangladesh yang bertahan hidup selama 17 hari setelah bangunan sembilan lantai tempatnya bekerja runtuh, berbicara kepada media di Savar Cantonment Hospital di pinggiran Dhaka, 6 Juni 2013. AFP Photo/Munir uz Zaman
Reshma, pekerja garmen Bangladesh yang bertahan hidup selama 17 hari setelah bangunan sembilan lantai tempatnya bekerja runtuh, berbicara kepada media di Savar Cantonment Hospital di pinggiran Dhaka, 6 Juni 2013. AFP Photo/Munir uz Zaman

Savar, 6 Juni 2013. Oleh Kamrul Khan (AFP) –  Penjahit yang terperangkap dalam reruntuhan selama 17 hari setelah bencana pabrik garmen Bangladesh April lalu keluar dari rumah sakit hari Kamis, mengatakan ia merasa ‘sehat walafiat’ dan menantikan pekerjaan barunya di sebuah hotel mewah.

Reshma, 18, yang menjadi pahlawan nasional setelah bencana yang menewaskan lebih dari 1.100 jiwa, bersemangat dan tampak sehat dalam sebuah acara di fasilitas militer tempat ia dirawat pada 10 Mei.

‘Saya merasa segar bugar sekarang. Saya pulih secara mental dan fisik,’ katanya, tersenyum.

Tapi setelah hampir satu bulan pengobatan, awalnya dalam perawatan intensif, dia mengakui masih terganggu oleh mimpi buruk tentang penderitaannya di bawah reruntuhan bangunan Rana Plaza.

‘Saya masih ketakutan di malam hari,’ katanya kepada wartawan, dalam gaun dan kerudung hijau merak.

‘Setiap kali saya memikirkan hari-hari itu saya merasa sedih dan takut. Saya sudah lupa apa saja yang saya lakukan di bawah reruntuhan.’

Remaja yang hanya memiliki nama tunggal itu minum air hujan dan mengais-ngais makanan dari bekal makan siang rekan-rekan kerjanya untuk bertahan hidup setelah pabrik sembilan lantai itu ambruk pada 24 April.

Dua hari setelah diselamatkan, dia mengatakan tidak akan pernah kembali ke sektor garmen Bangladesh yang rawan kecelakaan, industri terbesar kedua di dunia, senilai $20 miliar (sekitar Rp196 triliun) per tahun.

Reshma yang berasal dari sebuah desa terpencil di distrik perbatasan barat Dinajpur, mulai bekerja di gedung itu 22 hari sebelum runtuh. Dia mendapat upah bulanan sebesar 4.700 taka (Rp587.000).

Sejak itu ia telah ditawari pekerjaan di berbagai hotel dan lembaga nirlaba, tetapi memutuskan untuk mengambil kesempatan di Westin Hotel yang mewah di ibukota Dhaka.

‘Saya tidak pernah mengira saya akan mendapatkan kembali kehidupan saya ketika saya terjebak di bawah reruntuhan,’ katanya dalam konferensi pers di Savar, pinggiran Dhaka tempat terjadinya bencana.

Azim Shah, general manager Hotel Westin, mengatakan kepada wartawan ia bangga Reshma bergabung dengan timnya.

‘Kami yakin gadis muda ini akan luar biasa dalam pekerjaan barunya,’ katanya, menambahkan bahwa gadis tersebut akan menjadi “duta besar departemen house-cleaning

Para pejabat hotel membawa Reshma ke pekerjaan barunya setelah dia diperbolehkan pulang oleh militer pada sekitar pukul 11 pagi waktu Bangladesh, kata juru bicara militer Mayor Touhid-uz-Zaman, kepada AFP.

‘Keluarganya menemaninya ke hotel,’ katanya.

Pada saat ambruk, lebih dari 3.000 pekerja garmen tengah bertugas di kompleks lima pabrik itu, tempat mereka membuat pakaian untuk penjual garmen dari Barat, termasuk Benetton dari Italia dan Primark dari Inggris.

Mereka diperintahkan untuk kembali ke lini produksi mereka bahkan setelah dinding di luar kompleks mulai retak.

Sejak itu industri ini berjanji untuk memperbaiki kegiatan mereka. Sebagian besar pembeli utama dari Eropa telah menandatangani kesepakatan baru yang menjanjikan kondisi kerja yang lebih baik, serta inspeksi kebakaran dan bangunan.

Pada hari Rabu, ratusan karyawan yang bekerja di pabrik pembuatan sweater untuk merek-merek Barat jatuh sakit setelah minum air yang diduga tercemar di tempat kerja mereka.

Sebelumnya pada hari itu, polisi menembakkan peluru karet dan gas air mata dalam demonstrasi yang dilakukan oleh keluarga para pekerja garmen yang hilang dan jasadnya belum ditemukan di lokasi pabrik.

Para kerabat menuntut pihak berwenang menerbitkan daftar lengkap pekerja yang hilang supaya keluarganya dapat mengklaim kompensasi.

Dari 1.129 korban tewas, jasad sekitar 300 orang tidak dapat diidentifikasi dan kemudian dimakamkan di pemakaman milik negara, kata pejabat yang berwenang.

Pihak berwenang Bangladesh telah mengawetkan sampel DNA dari jasad-jasad yang tidak teridentifikasi dalam upaya memberi ganti rugi kepada pewaris yang sah.

 

Leave a Reply
<Modest Style