Modest Style

‘Komedi adalah provokasi dengan cara yang lucu’

,

Komik Indonesia Sakdiyah Ma’ruf membawakan isu-isu tentang wanita dan ekstrimisme beragama dengan pemilihan kata yang tajam. Ia berbincang dengan Najwa Abdullah.

komedi

“Apa yang Anda rasakan sebagai Muslim di Indonesia?” tanya komik Sakdiyah Ma’ruf di awal perbincangan kami. “Sangat normal hingga Anda hampir tidak tahu ada yang salah, tidak melihat ada yang salah, tidak menyadari ada yang salah dengan masyarakat.”

Saat mendengar soal Indonesia yang memiliki populasi Muslim terbesar yang dapat berjalan beriringan dengan demokrasi, orang mungkin berpikir Islam dipraktekkan dengan benar di sini. Jika dilihat di permukaan, mengapa tidak? Undang-undang mengizinkan kebebasan beragama dan sebagai kaum mayoritas, Muslim mendapatkan banyak keuntungan dan fasilitas keagamaan. Namun Sakdiyah yakin “ada yang tidak beres, dan yang membahayakan adalah kebanyakan kita bahkan tidak menyadarinya.”

Warga Yogyakarta berusia 32 tahun seperti Sakdiyah jarang ditemukan di dalam masyarakat Muslim Indonesia – terutama di kelompok etnisnya yang Arab Indonesia. Ia adalah satu dari sedikit komik perempuan di negara ini yang tampil di TV nasional dan membawakan isu-isu tentang kewanitaan, korupsi, dan sikap ekstrimis Muslim terhadap kaum minoritas yang semakin berkembang.

Kritikannya terhadap praktek dan kelompok Islam tertentu rawan menjadi kontroversi, namun ia yakin ia berada di jalan yang benar. “Saya memiliki kesadaran, bertanggung jawab, dan memiliki penjelasan serta cerita dibalik setiap hal yang saya bicarakan. Sederhananya, saya berhati-hati dalam menyampaikan isu-isu tertentu dalam setiap candaan. Saya tidak akan membicarakan hal yang tidak saya ketahui atau dengan prasangka dan perkiraan.”

Ia percaya norma sosial dapat menjadi bumerang bagi kita. “Pada akhirnya, kita menjadi orang asing bagi diri sendiri. Kita tidak lagi mengenali diri kita, misalnya kita kehilangan akal sehat dan rasa kemanusiaan dalam upaya kita untuk bersikap agamis. Atau seperti di dalam dunia wanita, kita tidak tahu pasti mengapa kita mengenakan sepatu hak tinggi dan bulu mata palsu.”

Sakdiyah, yang sangat berbakat memainkan kata, memilih stand-up comedy karena ingin menggunakan humor untuk membawa penontonnya menjelajah wilayah yang biasanya takut mereka jajaki. Ia percaya akan penggunaan kekuatan komedi untuk menegur norma sosial dan agama bisa jadi menghibur sekaligus mencerahkan.

“Itulah kelebihan komedi. Komedi adalah provokasi dengan cara yang lucu dan halus. Komedi mendekonstruksi mitos populer dengan menertawakan diri sendiri atau menyiratkan bahwa masyarakat telah menetapkan standar hidup yang mustahil,” ujarnya.

Saat saya bertanya kapan ia memutuskan komedi sebagai pilihan hidupnya, ia menyebutkan bahwa itu adalah pengaruh keluarganya. “Tumbuh besar di tengah masyarakat Arab Indonesia di kota Pekalongan, Jawa Tengah, saya selalu tahu bahwa bagi keluarga dan masyarakat saya, humor ada dalam DNA kami. Secara umum kami sangat lucu,” ujarnya.

Kecintaannya pada komedi muncul sejak kecil saat ia dikenalkan pada acara komedi situasi Amerika populer seperti The Cosby Show dan Full House. Di antara banyak komedian, favoritnya adalah Louis C K dan caranya mengubah kesialan menjadi satir.

Berbekal pengalaman berkecimpung di dunia komedi Indonesia, ia menyadari bahwa untuk menjadi seorang komedian bukan sekadar butuh selera humor. “Jika Anda sombong, Anda tidak dapat berkomedi. Komedi membutuhkan banyak-banyak refleksi diri dan kerendahan hati tak berbatas untuk selalu menyadari kekurangan diri, dan keberanian untuk berkaca pada diri sendiri,” jelasnya.

Sakdiyah berjuang menjaga idealisme dan niat dalam menjalankan profesi pilihannya. “Salah satu inspirasi intelektual saya pernah mengatakan, ‘Tidak seperti cahaya Tuhan, cahaya studio itu membutakan’. Saya sangat sangat setuju, karena saya telah mengalami perubahan besar dalam cara saya memandang diri sendiri.”

Saat ini, ia sedang bekerja keras mempersiapkan karya baru tentang pemilu kepresidenan yang sedang berlangsung di Indonesia – tanpa menunjukkan kecenderungan politik tertentu. Dengan kepedulian mendalam pada negara, Sakdiyah hanya ingin Indonesia menjadi rumah yang lebih baik bagi persilangan dan multikulturalisme keagamaan.

Leave a Reply
<Modest Style