Modest Style

Khadijah Binti Khuwailid: Wanita Sempurna

,

Karena kepribadiannya yang tanpa cela, Nabi Muhammad menganggap Khadijah wanita sempurna, sama seperti putrinya Fatima, kakak perempuan Nabi Musa, dan ibunda Nabi Isa. Akan tetapi, warisan yang ditinggalkannya akan sia-sia belaka bila kita tidak berusaha untuk mencari makna sejatinya. Oleh Raquel Evita Saraswati.

Hanya sedikit wanita dalam sejarah Islam begitu dimuliakan kaum muslim selain Khadijah binti Khuwailid. Sebagai istri pertama Nabi Muhammad (SAW), dia jugalah mualaf pertama – membuatnya diberi gelar ‘ibu semua muslim’.

p42—features—fabulous-muslimah—ilustration-by-Saesarez-Novandito-600x874
Lukisan Saesarez Novandito

Bagi anak perempuan muslim di mana pun, Khadijah adalah salah satu suri teladan wanita yang pertama kali dikenalkan oleh orangtua dan guru agama. Sebagai pengusaha, Khadijah jauh lebih tua dari Muhammad saat keduanya bertemu. Dialah yang melamar Muhammad – dan ketika Muhammad menerima wahyu pertamanya, Khadijahlah yang menenangkannya. Sambil gemetar serta dipenuhi ketakutan, Muhammad mendapatkan ketenangan dari kata-kata Khadijah: “Engkau membawa kabar gembira… Allah tidak akan menyiksa dan mempermalukanmu. Engkau orang yang menyayangi umatmu, baik hati kepada tetanggamu, murah hati kepada si miskin, ramah kepada orang asing, setia terhadap perkataan, dan selalu membela kebenaran.”

Semua muslim dari berbagai aliran mengagumi Khadijah. Bagi muslim, baik yang konservatif maupun yang lebih modern, Khadijah mewakili muslimah ideal. Dia pandai dan sangat setia. Meski telah meraih kesuksesan, dia juga seorang istri dan ibu yang berbakti. Pada tahun-tahun pertama kelahiran Islam, Khadijahlah yang mendanai usaha Muhammad dalam menyebarkan ajaran Islam. Dialah yang tetap sabar, tabah dan berbakti dakwah suaminya mengundang cemooh dari orang-orang yang  tidak beriman pada Tuhan yang esa.

Argumentasi yang menolak kesamaan hak perempuan terhadap laki-laki berasal dari penafsiran yang kuno terhadap agama

Yang menyedihkan, tidak semua pemuja Khadijah mau melihat anak-anak perempuan muslim meraih potensi terbaik mereka. Kaum radikal di Afganistan menyerang sekolah-sekolah putri dengan gas beracun, dan menyiram bola mata para wanita dengan cairan asam. Di banyak dunia muslim, anak-anak perempuan dinikahkan serta dirampas kesempatannya untuk bersekolah atau bahkan sekedar baca – tulis. Di Yaman, Yordania, Sudan dan negara-negara dengan mayoritas muslim lain, sudah umum bagi keluarga untuk menyekolahkan anak laki-laki saja dan bukan anak perempuan. Dalam banyak kasus, kesulitan ekonomilah yang kerap dijadikan kambing hitam. Argumentasi yang menolak kesamaan hak perempuan terhadap laki-laki berasal dari penafsiran yang kuno terhadap agama.

Para ulama, ayah dan saudara laki-laki yang membela kedudukan wanita dalam Islam dari prasangka non muslim dengan menggunakan nama Khadijah, malah sering merupakan pihak bertindak kejam wanita. Merekalah pria yang, walaupun mengaku mencintai Nabi, menghina beliau jauh lebih kejam daripada kritikus nonmuslim mana pun. Berbagai pencapaian Khadijah, kemandirian dan kebijaksanaannya tidak membuat Muhammad merasa terancam. Sebaliknya, kepribadian istrinya itu menginspirasi beliau untuk tetap tabah dalam menjalani amanat yang diembannya. Nabi pun menyadari sepenuhnya bahwa usahanya akan mustahil tanpa dukungan dan kesetiaan Khadijah. Kejahatan terhadap wanita – kekerasan, penolakan untuk menyekolahkan anak perempuan, larangan untuk berpartisipasi penuh dalam masyarakat – merupakan penghinaan terhadap agama Islam, Nabi Muhammad serta warisan Khadijah.

Tidak ada yang kontradiktif dengan menjadi wanita muslim yang kuat

Bagi saya, keteladanan Khadijah merupakan tekad dan seruan atas tindakan yang nyata. Keyakinan, daya tahan dan ambisinya yang luar biasa meyakinkan muslimah di seluruh dunia bahwa apa pun rintangan yang menghadang, tidak ada yang kontradiktif dengan menjadi wanita muslim yang kuat. Warisan Khadijah menjadi seruan atas tindakan nyata karena, meski harus menghadapi sorotan tajam, pemboikotan dari pergaulan serta cobaan yang begitu besar, dia tetap tabah pada misinya, ramah dan murah hati. Kalau begitu, pertanyaannya menjadi: bagaimana supaya kita tidak hanya mendoakan Khadijah, tapi juga merawat warisannya?

p44—features—fabulous-muslimah—ilustration-by-Saesarez-Novandito-600x874
Lukisan Saesarez Novandito

Banyak muslim berjuang untuk meningkatkan hak-hak wanita – sering kali dibantu kawan-kawan nonmuslim yang berempati dan penuh dedikasi. Mereka memahami kita tidak seharusnya hanya bicara tentang posisi wanita yang sebenarnya di dalam Islam. Kita juga mesti berjuang untuk mendapatkan posisi itu kembali. Iman kitalah yang akan mendampingi.

Salah satu wanita yang memuliakan peninggalan Khadijah dengan cara membantu sesama wanita dan anak-anak perempuan untuk menyadari potensi terbesar mereka adalah Deeyah. Penyanyi muslim Norwegia keturunan Asia Selatan ini mendirikan proyek pro-wanita yang bertujuan menyediakan forum bagi musisi muslimah muda untuk menyampaikan suaranya.

Ada lagi Nazanin Afshin-Jam, aktivis Iran yang berusaha mengakhiri hukuman mati bagi anak-anak, serta Zainab al-Suwaij, wanita Amerika asal Irak yang mendirikan American Islamic Congress dengan tujuan menyediakan forum bagi perkembangan pemikiran Islam yang benar-benar moderat. Organisasi ini memberikan perlindungan bagi para penentang Islam serta mendorong pemahaman terhadap agama tersebut.

Women Living Under Muslim Laws merupakan organisasi global yang menangani banyak isu besar bagi wanita, mulai dari “kekerasan atas nama kehormatan” hingga partisipasi wanita dalam panggung politik.

Kaum pria pun dapat memajukan warisan Khadijah. Satu contoh, Abdou Bala Marafa, emir (kepala) suku Gobir, pemimpin agama di Nigeria serta penentang utama pernikahan anak-anak. Dialah yang mengorganisasi Good Conduct Brigades – sekelompok pria dan wanita yang berkeliling dengan motor demi menyelamatkan anak-anak perempuan dari pernikahan dini. Kelompok ini juga memberikan pelatihan di komunitasnya tentang bahaya pernikahan anak-anak, serta mendukung kesetaraan pendidikan bagi anak-anak perempuan.

Di Mesir, kampanye Respect Yourself bertujuan mengakhiri pelecehan dan kekerasan seksual yang merajalela di jalan-jalan umum negara itu. Meski sebagaian besar anggotanya laki-laki berusia 14-24 tahun, tapi organisasi ini juga diperkuat oleh personel wanita. Melalui kampanye edukasi, demonstrasi, bahkan intervensi langsung ke jalan-jalan, kelompok ini telah mengundang perhatian yang lebih luas terhadap pelecehan yang dialami banyak wanita Mesir setiap hari.

Para wanita yang ditampilkan di kolom Fabulous Muslimah pada setiap edisi majalah ini pun telah menjalankan peninggalan Khadijah. Karya-karya mereka mengingatkan kita bahwa  kaum perempuan juga dianugrahi hak oleh Tuhan untuk dapat meraih potensi terbaik mereka. Bersama muslim dan muslimah lainnya, mereka bekerja setiap hari demi meningkatkan harkat hidup wanita dan anak-anak perempuan di seluruh dunia. Akan tetapi, sampai setiap anak perempuan muslim mengetahui bahwa sesungguhnya dia dapat menjalani sendiri hidup sebagai Khadijah, kerja kami masih jauh dari usai.

Leave a Reply
<Modest Style