Modest Style

Isra Almodallal, Juru Bicara Perempuan Pertama Gaza

,
Isra Almodallal, perempuan pertama yang dicalonkan sebagai juru bicara untuk Hamas, berpose di kantornya di Kota Gaza, 4 November 2013. Almodallal, wartawati 23 tahun, mengatakan tujuannya adalah “mengubah citra bangsa Palestina dan pemerintah di Gaza.” AFP Photo / Mohammed Abed
Isra Almodallal, perempuan pertama yang dicalonkan sebagai juru bicara untuk Hamas, berpose di kantornya di Kota Gaza, 4 November 2013. Almodallal, wartawati 23 tahun, mengatakan tujuannya adalah “mengubah citra bangsa Palestina dan pemerintah di Gaza.” AFP Photo / Mohammed Abed

KOTA GAZA, 20 November 2013. Oleh Selim Saheb Ettaba (AFP) – Di dalam Kantor Pers Pemerintah (GPO) Gaza, seorang perempuan muda berwajah segar menjelaskan kenapa dia bersedia menjadi juru bicara Hamas dalam bahasa Inggris yang fasih; di luar, beberapa aparat pemerintah berjenggot dengan marah meneriakkan sejumlah perintah kepada kelompok militan bertopeng.

Almodallal (23) mengakui dengan kejujuran yang menenangkan bahwa dirinya masih harus banyak belajar untuk menjadi juru bicara pertama Hamas bagi media internasional.

Pekerjaannya, menurutnya, adalah menyampaikan “sejumlah pandangan pemerintah Palestina” — dengan kata lain, perspektif Hamas, yang telah memerintah wilayah miskin Jalur Gaza sejak berhasil mengusir pasukan presiden moderat Palestina Mahmud Abbas enam tahun lalu.

“Sebenarnya saya tidak tahu,” akunya, aksen Inggrisnya ditandai dengan bunyi khas utara yang didapat dari beberapa tahun tinggal di Bradford.

“Saya ingin tahu; saya ingin bertanya kepada para orang di dalam (pemerintah): ‘Apa pandangan Anda tentang hal ini,’ karena saya bukan bagian dari gerakan Hamas.”

Lahir di Mesir, dia dibesarkan di Gaza untuk kemudian pindah ke Inggris bersama keluarganya supaya ayahnya, yang kini ilmuwan politik di Universitas Islam Gaza, dapat menuntaskan pendidikan doktoratnya.

Sebelum bekerja sebagai penyambung lidah Hamas untuk media berbahasa Inggris, Mudallal bekerja sebagai presenter pada stasiun TV lokal. Partisipan aktif media sosial yang pernah menikah ini menggambarkan dirinya “bangga menjadi orangtua tunggal”.

Sebuah replika oud, atau kecapi khas Arab, berada di meja kerjanya, di antara buku-buku yang sebagian besar berbahasa Arab serta sebuah salinan Great Expectations karya Charles Dickens.

AFP PHOTO/ SAID KHATIB
AFP PHOTO/ SAID KHATIB

‘Masalah manusia adalah yang paling penting”

Duduk di depan foto besar kompleks masjid Al-Aqsa di Yerusalem, tempat tersuci ketiga dalam Islam, dengan lancar dia membicarakan klaim tradisional bangsa Palestina namun dengan bahasa yang memberikan penekanan lebih segar dan modern pada ucapannya.

“Masalah manusia adalah hal paling penting untuk dibicarakan, terutama krisis kemanusiaan,” tutur Mudallal, yang merupakan keturunan pengungsi di desa dekat kota pelabuhan Ashdod, yang kini menjadi wilayah Israel selatan.

Saat ini dia tinggal di Rafah pada perbatasan Gaza dengan Mesir.

“Saya tinggal dengan nenek saya dan dia mengidap Alzheimer. Yang dia ingat hanya desanya, kenangannya bersama ayahnya, pohon-pohon, resepsi pernikahan dan pantai di sana, serta wangi jeruk,” katanya.

Juru bicara de facto pemerintah Hamas, Ihab al-Ghussein, mengatakan keputusan untuk merekrut anak muda yang fasih berbahasa Inggris adalah bagian dari strategi gerakan tersebut untuk berkomunikasi secara langsung dengan dunia internasional.

“Mengangkat Isra sebagai juru bicara adalah salah satu cara yang akan kami gunakan untuk berbicara kepada Barat secara langsung,” ujarnya kepada AFP.

“Ketika kami menempatkan seorang wanita yang pernah menjadi aktivis dalam masalah Palestina sebagai juru bicara, itu adalah cara yang praktis untuk mengatakan kami percaya kepada generasi muda.”

Pelajari lebih lanjut apa yang Isra perjuangkan di laman Facebook-nya.

Leave a Reply
<Modest Style