Modest Style

Hikmah kisah Raeni, wisudawati terbaik putri pengayuh becak

,

Di tengah panasnya situasi politik Indonesia, Raeni dan ayahnya membuktikan bahwa harapan selalu ada. Selengkapnya oleh Najwa Abdullah.

Kredit: Humas Universitas Negeri Semarang / Lintang Hakim
Kredit: Humas Universitas Negeri Semarang / Lintang Hakim

Wisuda merupakan hari bahagia bagi seorang mahasiswa. Namun bagi Raeni, seorang wisudawati dari jurusan akuntansi fakultas ekonomi Universitas Negeri Semarang (Unnes), momen wisuda terasa jauh lebih membanggakan dan bermakna.

Pertama, perempuan berusia 21 tahun ini adalah wisudawati terbaik Unnes dengan IPK nyaris sempurna, 3,96. Kedua, lengkap dengan kebaya dan toga, ia diantar oleh sang ayah tercinta ke lokasi wisuda dengan sebuah becak.

Becak adalah kendaraan sederhana yang selama ini telah menopang ekonomi keluarga Raeni. Setiap hari, penghasilan yang didapat dari becak tersebut adalah sekitar 10 – 50 ribu rupiah.

Kehadiran bapak dan anak ini sukses menyita perhatian puluhan wisudawan lain serta wartawan yang hadir di acara wisuda Raeni. Foto Raeni tiba di lokasi wisuda menaiki becak yang dikemudikan Mugiyono sang ayah lantas menjadi buah bibir di media sosial. Ucapan selamat dari masyarakat awam dan bahkan beberapa tokoh terkemuka dihaturkan untuk Raeni dan Mugiyono. Salah satu stasiun televisi swasta bahkan mengundang Raeni dan ayahnya untuk hadir di studio dan berbagi kisah inspiratif mereka.

“Setiap hari mereka selalu mendoakan dan mendukung saya”

Dalam acara wawancara tersebut, Raeni mengungkapkan bahwa peran ayah dan ibunya teramat penting bagi pencapaian akademiknya. Menurut Raeni, ayah dan ibu merupakan sosok pendidik yang telah membentuk karakter serta semangatnya untuk sukses.

Raeni tidak merasa malu akan profesi ayahnya sebagai tukang becak karena baginya, perjuangan ayahnya-lah yang membuatnya seperti saat ini.

“Apapun profesinya, mereka tetap orang tua saya yang mendidik dan membesarkan saya hingga saat ini dengan kasih sayangnya yang tidak terbatas. Setiap hari mereka selalu mendoakan dan mendukung saya,” kata Raeni.

Di masa awal-awal kuliah Raeni, Mugiyono rela berhenti bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik kayu lapis agar mendapatkan pesangon untuk membeli laptop dan membayar uang muka sewa kos demi kelancaran studi Raeni.

Sejak tahun 2010, Mugiyono berganti profesi menjadi tukang becak yang setiap hari mangkal tidak jauh dari tempat tinggalnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal, Jawa Tengah.

Semenjak Raeni duduk di sekolah dasar, Mugiyono sudah memiliki harapan besar untuk putri bungsunya ini. Ia bercerita bahwa Raeni secara konsisten berprestasi dan selalu mendapat rangking pertama hingga SMA. Tak heran Raeni kemudian menerima beasiswa bidik misi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk biaya kuliahnya di Universitas Negeri Semarang.

Mengenang masa-masa sulitnya, Mugiyono bercerita bahwa terkadang ia merasa sedih ketika merasa sedang sangat terjepit dan harus mencari dana besar untuk biaya sekolah Raeni. Namun, prestasi anaknya dan kasih sayangnya sebagai ayah menjadi dorongan kuat yang melebihi kendala apapun sehingga akhirnya, ia berhasil menghantarkan Raeni menuju gelar sarjana ekonomi.

Menteri Pendidikan Muhammad Nuh memberikan ucapan selamat dan rasa bangganya kepada Raeni dan Mugiyono. Muhammad Nuh juga mengatakan bahwa prestasi Raeni yang luar biasa merupakan representasi tercapainya target dari beasiswa bidik misi yang bertujuan untuk mengirim anak-anak yang berada di bawah garis kemiskinan ke perguruan tinggi. Ia berharap program beasiswa ini akan mencetak generasi terdidik yang dapat membangun bangsa dan negara di masa depan – seperti Raeni.

Pendiri organisasi Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, juga memberikan selamat kepada Raeni dan sang ayah. Ia berharap Raeni – yang memiliki keinginan menjadi seorang pengajar muda – dapat segera bergabung di program tersebut.

Raeni bercita-cita untuk dapat melanjutkan studinya ke tingkat pasca sarjana di Inggris. Lagi-lagi, Mugiyono mendukung penuh keinginan anaknya.

“Selama ada niat, pasti akan ada jalannya nanti. Doa saya untuk Raeni yang utama adalah keselamatan dan kesehatan,” tutur Mugiyono.

Kisah Raeni dan Mugiyono memberikan secercah harapan bahwa akses menuju pendidikan tinggi bagi masyarakat kurang mampu semakin terbuka dengan bertambahnya program beasiswa pemerintah. Selain itu, dukungan keluarga – terutama ayah dan ibu –merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan masa depan seorang anak.

Kondisi ekonomi yang sulit seringkali membuat banyak orang tua patah semangat untuk menyekolahkan anaknya. Namun, Raeni dan keluarganya menjadi bukti bahwa meski melalui perjalanan berat dan berliku, Tuhan akan membantu siapa saja yang berjuang untuk mencari ilmu.

Leave a Reply
<Modest Style