Modest Style

Eqbal As’ad, dokter termuda di dunia

,

Perempuan Palestina yang lahir di kamp pengungsian ini meraih gelar dokter di usia 20 tahun. Selengkapnya oleh Najwa Abdullah.

1703 WP Eqbal As'ad
Foto: Kansas Healthcare Careers

Konon, pendidikan kedokteranmerupakan program tersulit di perguruan tinggi, sehingga memerlukan waktu studi yang lebih panjang dibandingkan dengan jurusan-jurusan lain. Di Indonesia misalnya, untuk meraih gelar profesi dokter dibutuhkan waktu enam tahun, sehingga umumnya sarjana kedokteranberusia 24 tahun ketika lulus.

Namun rupanya hal ini tidak berlaku bagi Eqbal As’ad, seorang Muslimah asal Palestina yang dilansir sebagai salah satu dokter termuda di Guiness World Records.

Eqbal yang masih berusia 14 tahun ketika memulai kuliahnya, lulus program kedokteran dengan gelar terhormat dari salah satu universitas bergengsi di Qatar, Weill Cornell Medical College,pada usia 20 tahun. Hebatnya lagi, ia menempuh pendidikannya tersebut dengan beasiswa penuh.

Prestasi Eqbal yang langka ini merupakan sebentuk angin segar di tengah gejolak konflik sosial dan politik yang semakin memanas di Timur Tengah. Bagi sebagian orang, sulit untuk mempercayai bahwa seorang anak yang tumbuh besar dalam situasi perang, dikelilingi oleh kemiskinan dan minimnya akses menuju pendidikan tinggi, dapat mengukir pencapaian akademik yang luar biasa.

Eqbal yang dibesarkan oleh orangtuanya di kamp pengungsian warga Palestina di Lebanon ini sudah menunjukkan kecerdasannya sejak duduk di sekolah dasar. Ia berhasil menguasai materi pelajaran untuk satu tahun dalam tiga bulan saja, sehingga ia seringkali lompat kelas dan akhirnya lulus SMA di usia 12 tahun.

Pencapaian Eqbal ini juga didukung olehperjuangan orangtuanya yang secara gigih dan konsisten menyediakan pendidikan yang layak untuk anak-anak mereka di tengah buruknya kondisi ekonomi dan sosial di pengungsian, tidak terkecuali untuk Eqbal yang merupakan putri bungsu di keluarga mereka.

Melihat prestasi Eqbal yang cemerlang, mantang menteri pendidikan Lebanon, Khaled Abany, menganugerahinya gelar siswa termuda yang menyelesaikan SMA. Tak lama kemudian, Khaled menghubungi Sheikha Mozah, Ketua Yayasan Qatar untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Pembangunan Masyarakat. Mereka bekerja sama dan memberi beasiswa untuk Eqbal. Eqbal, yang dalam kehidupan sehari-harinya terekspos dengan penderitaan para pengungsi Palestina di kamp tempat ia dibesarkan,terinspirasi untuk menjadi dokter dan merasa bertanggung jawab untuk membantu para pengungsi ini kelak.

Akhirnya, Cornell University menawarkan beasiswa penuh untuk Eqbal di cabang kampus mereka di Qatar tanpa harus melewati ujian masuk. Hak istimewa yang diberikan kepadanya ini memicu semangat Eqbal untuk lebih berprestasi dan membuktikan bahwa dia pantas mendapatkan keistimewaan tersebut.

Kini, Eqbal telah meraih gelar dokter pertamanya dan akan melanjutkan studinya di Ohio, Amerika Serikat dalam bidang kedokteran anak. Selepas menempuh pendidikannya nanti, ia berencana akan kembali ke Qatar dan Lebanon untuk mengabdi dan membantu warga Palestina yang telah menginspirasinya untuk mengabdikan diri di bidang kedokteran.

Leave a Reply
<Modest Style