Modest Style

Bobonazarova, Capres Perempuan Pertama Tajikistan

,
Pengacara dan aktivis HAM Tajikistan, Oinikhol Bobonazarova, menghadiri pertemuan di ibu kota Dushanbe, 15 Juli 2013.
Pengacara dan aktivis HAM Tajikistan, Oinikhol Bobonazarova, menghadiri pertemuan di ibu kota Dushanbe, 15 Juli 2013.

DUSHANBE, 27 September 2013. Oleh Akbar BORISOV (AFP) – Untuk pertama kalinya, seorang wanita mengikuti pemilihan presiden di Tajikistan setelah blok oposisi, termasuk satu partai Islam, memilih pengacara HAM perempuan terkemuka ini sebagai calon pemimpin negara berpenduduk mayoritas Muslim tersebut.

Oinikhol Bobonazarova , pengacara dan aktivis HAM berusia 65 tahun yang tidak berkerudung ini telah dicalonkan oleh Partai Renaisans Islam (IRP) untuk mengikuti pemilihan presiden pada pemungutan suara 6 November mendatang, bersaing dengan Presiden Emomali Rakhmon.

Ini akan menjadi kesempatan pertama bagi masyarakat Tajikistan untuk memilih seorang wanita dalam pemilihan umum sejak negara miskin itu merdeka dari Uni Soviet, 1991 lalu.

Lebih menariknya lagi, Bobonazarova akan mewakili partai Islam moderat di negara yang 99 persen penduduknya  adalah Muslim beraliran Suni.

Kelompok oposisi dari Partai Demokrat Sosial, yang tidak kebagian kursi di parlemen, pun diharapkan untuk mendukung Bobonazarova sebagai kandidat mereka  pada pemilihan umum 6 November mendatang.

Menurut peraturan Tajikistan, untuk dapat maju ke bursa calon presiden, Bobonazarova kini harus mengumpulkan 210.000 tanda tangan dari para pendukungnya.

‘Ini kasus yang istimewa sebab seorang perempuan terpilih sebagai kandidat,’ ujar aktivis senior itu dalam wawancaranya dengan AFP.

‘Saya optimistis. Perlu diketahui, ini bukan pertama kalinya saya menggeluti dunia politik, tapi saya telah melakukannya selama 40 tahun terakhir ini. Rakyat mendukung dan menyambut pencalonan saya. Mereka mendoakan kesuksesan saya dan memberi saya inspirasi,’ ungkap Bobonazarova.

Sebagai satu-satunya partai politik Islam yang resmi di bekas negara Asia Tengah Soviet tersebut, IRP, yang memperoleh 8 persen suara pada pemilihan legislatif 2010, menduduki dua dari 63 jatah kursi di DPR.

Pada kongres partai, para anggota perempuan mengenakan busana muslimah lengkap dengan kerudungnya, namun Bobonazarova, yang seorang Muslim, memilih jalan tengah dengan memakai topi.

Presiden Rakhmon (60), yang telah memegang kekuasaan sejak 1992, diramalkan akan memegang mandat lagi untuk tujuh tahun ke depan. Partainya yang sedang berkuasa akan secara resmi mengumumkan kandidat mereka awal bulan depan.

Partai-partai oposisi berencana memanfaatkkan kampanye untuk mewujudkan reformasi dan menindak keras korupsi di negara yang berbatasan dengan Afghanistan itu, di mana sekitar 40 persen penduduknya hidup dalam kemiskinan.

Sekitar 1 juta penduduk Tajikistan bekerja sebagai buruh migran di Rusia dan menghasilkan devisa yang jumlahnya hampir separuh Produk Domestik Bruto negara.

‘Mereka menerima saya apa adanya’

Bobonazarova mengepalai LSM bernama Perspektive Plus yang memperjuangkan hak-hak pekerja migran, kaum perempuan dan para korban penyiksaan.

Awal 1990-an, dia menjadi salah satu pemimpin kelompok demokrasi setelah bubarnya Soviet. Pada 1993, pemerintah menuduhnya punya andil dalam kudeta dan sempat menahannya sebelum akhirnya membebaskanya.

‘Kami mendukung Oinikhol Bobonazarova sebagai kandidat tunggal untuk partai reformasi, meskipun ini bukan tugas yang mudah bagi kami,’ tutur pemimpin IRP, Mukhiddin Kabiri, pada konferensi partai, 17 September silam.

‘Tidak mudah bagi partai Islam untuk mendukung pencalonan seorang wanita. Setelah mengambil keputusan ini, kami siap menghadapi segala konsekuensinya.’

Pada kongres partai, Bobonazarova menegaskan fakta bahwa dirinya bukanlah kandidat yang paling dijagokan oleh IRP.

‘Saya mengatakan: inilah saya: seorang demokrat, tanpa penutup kepala ataupun kerudung,’ katanya kepada AFP, mengacu kepada pakaian yang dikenakan umat Muslim di Tajikistan.

‘Mereka menerima saya apa adanya. Hanya tujuh orang yang menentang pencalonan saya.’

Hubungan Bobonazarova dengan IRP berawal pada 1997 saat partai tersebut memintanya bertindak sebagai wakil jaksa agung di tengah sulitnya proses perdamaian pascaperang sipil. Akan tetapi, tawaran itu ditolaknya.

‘Kami harus menemukan titik temu yang mempersatukan kami: setiap orang harus hidup sejahtera—para pendukung partai Islam, Komunis dan Demokrat—dan hukum diberlakukan kepada semua orang tanpa kecuali.’

Dia mencontohkan para wanita pemimpin di Pakistan dan Malaysia.

Meski demikian, menurutnya dirinya telah mengalami sejumlah kasus diskriminasi gender.

‘Ya, orang-orang mengatakan banyak hal, kami mendengar anggota masyarakat bertanya: bisakah perempuan menjadi presiden?’, ujarnya, mendukung keterlibatan perempuan dalam elite politik.

‘Kami hidup di negara demokratis. Kami mesti lebih berani mencalonkan dan mengangkat lima atau enam wanita sebagai menteri.’

Tajikistan telah memiliki satu wakil perdana menteri perempuan serta beberapa wanita yang menjabat wakil menteri dan anggota dewan. Presiden Rakhmon sendiri telah mendukung berbagai langkah untuk menempatkan lebih banyak perempuan di posisi elite pemerintahan.

Leave a Reply
<Modest Style