Modest Style

Bercerai di Usia 10 Tahun

,

Seorang pengemis menasihati Nujood Ali bahwa untuk mencari keadilan, ia harus pergi ke pengadilan. Pengemis itu adalah istri kedua ayah Nujood, dan berkat dirinyalah kini Nujood bisa menjadi kanak-kanak sebagaimana mestinya. Diceritakan kembali oleh Annisa Beta.

Nujood (tengah) dengan saudara-saudaranya, yang ia biayai dengan royalti buku. Gambar milik Katia Jarjoura.
Nujood (tengah) dengan saudara-saudaranya, yang ia biayai dengan royalti buku. Gambar milik Katia Jarjoura.

I Am Nujood, Age 10 and Divorced
I Am Nujood, Age 10 and Divorced adalah judul buku yang menuturkan kisah Nujood dari sudut pandangnya sendiri. Dituliskan oleh wartawan Prancis pemenang penghargaan, Delphine Minoui, buku ini dirilis pada Maret tahun ini.

“Aku ingin bercerai,” kata Nujood Ali, setelah menunggu selama berjam-jam dalam ruang sidang di Sana’a, ibukota Yaman. Saat itu waktu jeda makan siang dan Hakim Mohammed al-Ghada melihatnya duduk sendirian. Sang hakim merasa ngeri ketika mengetahui usia Nujood baru 10 tahun.

Nujood Ali adalah penduduk asli Yaman, sebuah negara yang di beberapa daerahnya usia perempuan saat menikah rata-rata 10 tahun. Gadis seperti Nujood biasanya menikah dengan pria yang usianya dua sampai empat kali lipat di atas mereka, beberapa di antara pria itu sudah  menikah sebelumnya. PBB melaporkan bahwa dari 20 juta penduduk Yaman, hampir setengahnya berpenghasilan di bawah US $2 per hari. Oleh karena itu, menikahkan anak-anak perempuan di usia dini adalah reaksi spontan dalam upaya yang rumit untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Nujood dinikahi Faez Ali Thamer, seorang kurir berusia 30-an, pada Februari 2008. Pernikahan ini tampaknya mengakhiri serangkaian peristiwa malang di rumah Nujood yang mendorong ayahnya, Ali Mohammed Ahdal, mantan penyapu jalanan, untuk menikahkan Nujood. Ayah Nujood bukan hanya kewalahan mengurus 16 anak-anak kelaparan di rumah, tapi salah satu saudara perempuan Nujood juga telah diperkosa dan satu lainnya diculik. Ia khawatir Nujood akan menjadi korban berikutnya. Pada saat itu, Faez berjanji pada keluarga Nujood ia tidak akan menyentuh Nujood sampai gadis cilik itu puber. Tapi janji itu cepat diingkari dan Nujood pun menghabiskan setiap malam berjuang, dan gagal, untuk melepaskan diri dari kejaran si predator.

Pertama kali Nujood bertemu calon suaminya adalah di hari pernikahan mereka. Faez memberinya tiga gaun, dua sisir, parfum, serta dua helai kerudung sebagai hadiah pernikahan, dan juga cincin kawin senilai US $20.

Keluarga Nujood menghargai kemurahan hati ini, tapi ternyata semua hadiah itu menjadi pertanda dimulainya mimpi buruk Nujood. Faez mengambil kembali cincin kawin segera setelah pesta pernikahan dan menjualnya untuk membeli baju baru bagi dirinya sendiri. Nujood juga terus disiksa oleh keluarga suaminya, yang menyuruh Faez untuk memukulnya lebih keras setiap kali Faez melayangkan tangannya.

Dua bulan setelah pernikahan, Nujood diizinkan untuk mengunjungi keluarganya. Kembali ke rumah, Nujood meminta orangtuanya untuk mengakhiri pernikahannya, tetapi permohonan itu ditolak. Namun Nujood tidak berhenti berusaha untuk mendapatkan kebebasannya. Dengan menggunakan uang pembeli roti dari ibunya, ia pergi ke Sana’a. Sesampainya di ibukota, ia langsung pergi ke gedung pengadilan.

Nujood tahu bahwa gedung pengadilan adalah satu-satunya tempat dia bisa mendapatkan bantuan. Nujood pernah melihat  gedung pengadilan di televisi dan istri kedua ayahnya berkata bahwa itulah tempat untuk mendapatkan keadilan. Setelah memperoleh perhatian hakim saat jeda makan siang, Nujood menyuarakan permintaannya. Kisahnya menggugah Shada Nasser, pengacara hak asasi manusia Yaman yang terkenal sering mewakili perempuan di pengadilan. Shada juga orang pertama di Yaman yang mendirikan praktik hukum yang semua pekerjanya perempuan.

Di Yaman menikahkan anak-anak perempuan di usia dini adalah reaksi spontan dalam upaya rumit untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh keluarga

Statistik Penting

Sejak itu anggota parlemen Yaman telah menaikkan usia minimum pernikahan dari 15 tahun menjadi 18 tahun.

Sebuah laporan UNICEF berjudul The State of the World’s Children (Kondisi Anak-anak di Dunia) yang terbit pada November 2009 menyebutkan bahwa tingkat pernikahan dini di kalangan perempuan muda yang tinggal di daerah pedesaan di negara-negara berkembang dua kali lipat dari perempuan muda di perkotaan.

Ketika Nujood ditanya mengapa ia ingin bercerai, gadis cilik itu menjawab bahwa ia membenci malam hari. Shada paham, dan dia memperjuangkan kasus Nujood secara pro bono. Hukum Yaman menyebutkan bahwa suami dapat menyempurnakan pernikahan pada waktu yang tidak ditentukan hanya ketika istri muda mereka sudah ‘siap’. Di pengadilan, Shada berpendapat bahwa pernikahan itu melanggar hukum, karena gadis 10 tahun itu diperkosa. Nujood tidak ingin mempertimbangkan usulan hakim untuk melanjutkan pernikahan setelah perpisahan. Nujood dilaporkan mengatakan, “Aku benci pria itu dan pernikahan. Aku ingin melanjutkan hidupku.” Seminggu kemudian, pada tanggal 15 April 2008, hakim mengabulkan permohonan perceraian Nujood.

Sejak itu, kehidupan Nujood berubah: dia telah menjadi ikon inspirasi dunia. Dia telah menginspirasi pengantin kanak-kanak lainnya, termasuk seorang gadis delapan tahun yang menikah dengan seorang pria 50 tahun.

Kini,  Nujood bercita-cita menjadi seorang pengacara.

Leave a Reply
<Modest Style