Modest Style

Ariani Djalal: Menggugat pendidikan agama di sekolah negeri Indonesia

,

Melalui film Layu Sebelum Berkembang, sutradara yang sekaligus seorang ibu ini menuangkan keresahannya akan pendidikan agama yang dinilainya tidak adil bagi masyarakat minoritas serta mengekang cara berpikir. Najwa Abdullah melaporkan.

[Not a valid template]

Festival Film Dokumenter se-Asia Tenggara, Chopshots 2014, baru saja diselenggarakan di Jakarta pada 22 hingga 27 April lalu.

Salah satu film dokumenter yang menarik perhatian saya yaitu Layu Sebelum Berkembang (Die Before Blossom) yang bertemakan wajah pendidikan di Indonesia dari sudut pandang dua perempuan menjelang remaja asal Yogyakarta. Seusai menyaksikan film berdurasi 90 menit tersebut di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, saya berbincang dengan sang sutradara, Ariani Djalal mengenai permasalahan pendidikan yang ia soroti dalam film tersebut.

Ariani Djalal telah berkecimpung dalam dunia film dan jurnalistik sebagai produser, penulis dan sutradara film-film dokumenter serta fitur berita televisi selama lebih dari 10 tahun. Hingga kini ia telah memproduksi 11 film yang telah dipublikasikan. Karya-karyanya tidak hanya berfungsi sebatas wadah ekspresi, namun juga seringkali mengandung kritik sosial. Salah satu karyanya, “Bade Tan Reuda” yang dirilis tahun 2004, pernah memenangkan penghargaan Film Dokumenter Terbaik di Jakarta International Film Festival.

Film Layu Sebelum Berkembang didasari oleh pengalaman lulusan jurusan filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini sebagai seorang ibu yang mendapati anaknya tertekan dengan beberapa aktivitas di sekolahnya. Ariani merasa banyak sekali hal-hal yang harus dikaji ulang dalam penyelenggaraan pendidikan dasar di Indonesia.

Seiring dengan perkembangan waktu, sekolah negeri yang diharapkan dapat merangkul siswa dari berbagai latar belakang agama menjadi semakin mirip dengan madrasah yang eksklusif bagi pemeluk agama Islam.

Selain beban pelajaran sekolah yang dirasa Ariani terlalu banyak bagi anak-anak berusia di bawah 12 tahun, Ariani merasa terdapat ketidakadilan dalam beberapa peraturan sekolah. Misalnya, pembedaan seragam di hari Jumat yang terkesan mengkotak-kotakkan siswa.

“Saya rasa ketika anak-anak dikumpulkan di suatu lapangan dan semua berpakaian putih, lalu ada satu atau dua anak yang tidak berpakaian putih, bagi saya itu tidak baik untuk anak kecil yang masih membentuk identitas sosial, budaya, dan agamanya,” tutur Ariani.

Ia juga menambahkan bahwa siswa yang non-Muslim yang akan merasa berada di posisi sulit di hari Jumat karena akan jelas terlihat bahwa ia berbeda dengan sebagian besar teman-temannya.

Seiring dengan perkembangan waktu, sekolah negeri yang diharapkan dapat merangkul siswa dari berbagai latar belakang agama menjadi semakin mirip dengan madrasah yang eksklusif bagi pemeluk agama Islam.

“Karena hal tersebut, semakin ke sini, semakin sedikit orang non-Muslim yang berminat untuk mengenyam pendidikan di sekolah negeri dan beralih ke [sekolah] swasta.”

Layu Sebelum Berkembang juga mengkritisi implementasi pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah negeri yang bersifat satu arah dan cenderung normatif, sehingga mematikan daya analisa siswa. Sistem pendidikan agama di SD juga berpaku pada angka; seakan-akan nilai yang tinggi mencerminkan ketakwaan yang tinggi pula. Sehingga, fokus pendidikan menjadi sekadar bagaimana mendapat nilai yang baik ketimbang penanaman nilai-nilai moralitas agama dalam kehidupan sehari-hari.

“Tidak ada usaha dari guru-guru agama untuk membuka dialog dengan siswa mengenai agamanya, yang sebenarnya sangat penting dalam pembentukan religiusitas seseorang,” keluh Ariani.

Ariani khawatir bahwa sistem pendidikan ini akan menciptakan generasi muda yang submisif, kurang kreatif dan tidak kritis.

“Agaknya penanaman agama dalam pendidikan di Indonesia hanyalah formalitas, dan saya tidak setuju ketika agama menjadi suatu bentuk formalitas. Apakah baik ketika seorang siswi mengenakan jilbab hanya ketika sedang belajar agama, kemudian dia akan melepaskan lagi [jilbab] setelahnya? Ketika seharusnya agama menjadi nilai yang diamini dari hati, adanya nilai angka menjadikan agama sebagai ajang kompetisi belaka, sesuatu yang artifisial.”

Ariani berharap film-film dokumenternya, khususnya Layu Sebelum Berkembang bisa menjadi bahan renungan bagi masyarakat.

“Saya ingin pendidikan di Indonesia nantinya disertai dengan wacana yang lebih luas, yang mencakup pluralisme dan multikulturalisme,” ujarnya.

Leave a Reply
<Modest Style