Modest Style

Muslimah Inspirasional di Bulan Dzulhijjah

,

WP-Women-by-Meaghan-02

Perempuan-perempuan muslim menjadi bahan berita sepanjang bulan yang paling diberkahi ini.  Meaghan Seymour merangkum cerita-cerita terbaiknya.

Di hari-hari menjelang Idul Adha, banyak artikel yang beredar di Internet oleh mereka yang berharap akan mampu mengingatkan dan menginspirasi umat muslim agar memiliki komitmen untuk lebih banyak berbuat kebajikan sepanjang hari-hari pertama yang penuh berkah bulan Dzulhijjah, yang konon merupakan 10 hari paling diberkahi sepanjang tahun.

Namun selama hari-hari suci ini, beberapa muslimah juga menjadi sorotan sebagai subjek dari tajuk utama dan kisah pemberitaan yang menginspirasi. Selepas surutnya kegembiraan perayaan Idul Adha, mari kita menengok kembali kisah muslimah-muslimah yang menginspirasi berikut ini.

Memastikan keadilan hukum bagi perempuan muslim

Di Pune, India, pengadilan Syariah khusus-perempuan di wilayah tersebut pertama kali diselenggarakan.[i] Pada hari kedua Dzulhijjah, terkuak berita bahwa pemerintahan Arab Saudi memberikan izin praktik sebagai pengacara kepada empat perempuan.[ii] Mereka menjadi empat perempuan pertama di negeri kerajaan ini yang mendapat hak untuk mempergunakan titel sarjana hukum dalam kapasitas penuh di masa pelatihan mereka.

Bukan sekadar berita baik melihat Arab Saudi mengambil langkah awal mengakhiri segregasi gender (dengan harapan lebih banyak perempuan memiliki izin yang disetujui dalam waktu dekat), namun dalam kedua berita tersebut, sebuah langkah besar menuju pemberdayaan perempuan sudah dilakukan.

Seperti yang ditegaskan oleh para hakim baru pengadilan Syariah perempuan di Pune itu, Islam telah meletakkan kesetaraan hukum bagi laki-laki dan perempuan, namun pengadilan-pengadilan Syariah yang didominasi laki-laki seringkali melakukan diskriminasi yang tidak adil terhadap para penuntut perempuan.

Akses pendidikan bagi gadis muslimah mendapat perhatian

Pada hari keenam Dzulhijjah, Malala Yousafzai yang ditembak oleh Taliban setahun lalu telah kembali pulih untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya, dan mengumumkan bahwa satu hari nanti ia berharap bisa menjadi Perdana Menteri di negaranya. Di minggu yang sama, ia meminta kepada Presiden AS Barack Obama untuk mengakhiri serangan pesawat tak berawak di tanah kelahirannya Pakistan, dan saat memberikan pidato publik, ia menyatakan kecintaannya kepada Islam.

Cukup bertepatan, minggu yang sibuk bagi Malala ditutup dengan Hari Internasional untuk Anak-anak Perempuan, sebuah inisiatif dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran bagi hak anak perempuan untuk mengenyam pendidikan.[iii]

Menurut UNICEF, lebih dari 31 juta anak perempuan seluruh dunia tak memiliki akses pendidikan. Mengapa hal ini menjadi begitu penting bagi umat muslim? Mayoritas dari 10 negara peringkat teratas dengan jumlah siswi sekolah terendah adalah negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim, termasuk Pakistan negeri asal Malala.[iv]

Walaupun Malala mungkin menerima beberapa kritikan dari kelompok skeptis baru-baru ini, dan tidak memenangi Penghargaan Nobel, kini ia menjelma menjadi tokoh panutan muslim berjiwa ksatria yang tak seorang pun, bahkan Taliban, mampu membungkamnya.

Memperlihatkan belas kasih bahkan di saat tersulit

Memaparkan kisahnya kepada BBC, seorang jurnalis yang meliput pertikaian Hindu-Muslim di Muzaffarnagar menceritakan perkenalannya dengan seorang perempuan muslim yang bersikap welas asih di saat-saat terjadinya konflik.

Suatu hari nanti, gadis kecil itu akan bertambah dewasa, mendapatkan pendidikan, dan kemudian berkontribusi untuk dunia.

Perempuan tersebut menjadi ibu angkat bagi seorang bayi perempuan yang ia temukan terbaring di selokan, disia-siakan oleh orangtuanya.[v] Meskipun telah memiliki delapan anak kandung yang belum mandiri dan tak mempunyai pendapatan sendiri, perempuan ini tak ragu untuk mengadopsi bayi tak berdaya yang ternyata menderita malnutrisi dan sakit kuning.

Ia percaya bahwa ia telah melakukan hal yang benar karena mungkin suatu hari nanti, gadis kecil itu akan bertambah dewasa, mendapatkan pendidikan, dan kemudian berkontribusi untuk dunia.

Para mualaf berterus-terang tentang Islam

Kisah para mualaf selalu menjadi pemberitaan yang menarik.

Meski demikian, media Barat atau kantor-kantor berita utama (dan kadangkala bahkan juga kantor-kantor berita yang berlatar belakang Islam) senang untuk mewarnai cerita tentang mualaf sebagai jenis dongeng di mana ‘mereka yang dahulu gadis bengal dengan rok mini, kini seorang yang tercerahkan, pemakai hijab yang salehah’ (terutama ketika peralihan keyakinan ini melibatkan kisah cinta muslim yang ‘eksotis’).

Seringkali secara mengejutkan ditampilkan juga foto-foto ‘sebelum’ dan ‘sesudah’ yang bergaya voyeuristik, bahkan menjadi bagian dari materi pemberitaan yang menurut pendapat saya, hanya membuat Islam tampak glamor dan sensasional.

Namun di The Guardian, lima perempuan Inggris secara lugas mengungkap bagaimana mereka beralih ke Islam,[vi] membongkar beberapa mitos umum tentang para mualaf muslimah yang sudah terbangun selama ini.

Para perempuan yang berhasil mencapai misinya ini berterus terang perihal proses peralihannya yang berlangsung selama beberapa tahun pengkajian, keputusan untuk tak berhijab, bercerai dari pernikahan yang gagal dengan laki-laki muslim, frustrasi karena merasa tak diinginkan dalam masjid sebagai perempuan, dan diabaikan oleh beberapa komunitas masjid karena tak memiliki norma-norma kultural dan etnis yang diharapkan.

Mengapa kisah muslimah-muslimah Inggris ini demikian menginspirasi? Itu karena mereka, sama halnya dengan banyak para perempuan lain yang telah menceritakan kisahnya, menggambarkan Islam dengan sebanyak mungkin realisme yang bisa kita dapatkan.

Bahkan dalam Islam pun selalu ada naik-turun kehidupan, masih akan ada rasa frustrasi, masih akan ada tantangan-tantangan untuk dihadapi, dan masih akan ada persoalan-persoalan dalam komunitas. Namun, jauh di dalam hati, ada pemenuhan spiritual yang didapatkan, dan jauh lebih bernilai dibanding hal lainnya.

[i] ‘Pune: All-women Sharia court to redress grievances of Muslim women launched’, The Indian Express, 5 Oktober 2013, tersedia di sini
[ii] Seamus Duff, ‘Madonna flirts with controversy again by donning chainmail burka mask’, Metro, 3 Juli 2013, tersedia di sini
[iii] ‘Resolution adopted by the General Assembly on 19 December 2011’, Perserikatan Bangsa-Bangsa, tersedia di sini
[iv] ‘Fact sheet: Girls’ education – the facts’, Education for All Global Monitoring Report, UNESCO, tersedia di sini
[v] Joanna Jolly, ‘A strong woman in Muzaffarnagar’, BBC, 12 Oktober 2013, tersedia di sini
[vi] Veronique Mistiaen, ‘Converting to Islam: British women on prayer, peace and prejudice’, The Guardian, 11 Oktober 2013, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style