Modest Style

Muslimah Feminis: Apalah Arti Sebuah Nama

,

Seorang perempuan Muslim dapat melakukan banyak hal. Tapi bisakah dia menjadi feminis? Fatimah Jackson-Best merenungkan cara Muslimah di seluruh dunia menentang sejumlah norma dan menentukan standar baru.

Ratusan perempuan ikut andil dalam demonstrasi menuntut kesetaraan gender di Paris, 8 Maret 2012, sebagai bagian dari peringatan Hari Perempuan Internasional 2013. AFP Photo / Fred Dufour
Ratusan perempuan ikut andil dalam demonstrasi menuntut kesetaraan gender di Paris, 8 Maret 2012, sebagai bagian dari peringatan Hari Perempuan Internasional 2013. AFP Photo / Fred Dufour

Baru-baru ini, seorang mahasiswi mendekati saya seusai kuliah. Berbisik, dia bertanya apakah mungkin bagi perempuan Muslim untuk menjadi feminis. Sikapnya saat mendatangi saya menunjukkan dia tidak bermaksud menyinggung, melainkan hanya ingin tahu tentang apa yang telah saya bahas dalam dua kuliah terakhir. Saya jelaskan kepadanya bahwa Muslimah di seantero dunia sedang memperjuangkan hak perempuan atas kesetaraan dan keadilan. Akan tetapi, perjuangan untuk mewujudkan tujuan tersebut mungkin tidak selalu sama karena kita semua menjalani kehidupan yang berbeda.

Kebudayaan, ras, etnis dan kelas sosial kita akan memberikan dampak yang berbeda pada cara kita dalam mengamalkan dan berinteraksi dengan ajaran Islam

Pertanyaannya membuat saya berpikir tentang sebutan perempuan Muslim terhadap pekerjaan yang mereka lakukan demi menghapus ketidakadilan dan kesenjangan, serta apakah mereka menganggap diri mereka feminis. Coba pikirkan sejenak negara-negara seperti Yaman, di mana kaum perempuannya berusaha memerangi pernikahan anak-anak, atau sekelompok wanita yang tahun ini mencoba memengaruhi pemerintah Arab Saudi untuk mengeluarkan larangan resmi terhadap kekerasan domestik. Keduanya adalah isu yang besar pengaruhnya bagi kaum Muslimah dan para perempuanlah yang menjadi pembela paling militan dalam melawan ketidakadilan seperti ini.

Sesekali, isu yang sama dilontarkan oleh sejumlah organisasi pembela hak perempuan. Meski gerakan feminisme juga mendukung hak wanita atas kesetaraan dan keadilan, aktivis organisasi-organisasi ini mungkin tidak selalu menyebut diri mereka feminis.

Benar juga pendapat yang mengatakan bahwa tergantung di mana mereka tinggal, pengalaman para Muslimah terhadap diskriminasi dan seksisme akan berbeda sebab tidak ada identitas atau pengalaman perempuan Muslim yang bersifat tunggal. Tempat tinggal, kebudayaan, ras, etnis dan kelas sosial kita akan memberikan dampak yang berbeda pada cara kita dalam mengamalkan dan berinteraksi dengan ajaran Islam.

Saudari-saudari kita di Kanada dan Amerika Serikat yang memperjuangkan kesetaraan hak perempuan di masjid mungkin berunjuk rasa untuk isu yang mengundang keprihatinan di kedua negara tersebut. Akan tetapi, isu yang sama barangkali bukan menjadi masalah bagi para Muslimah di Cina yang sudah biasa menjadi imam di masjid selama lebih dari 100 tahun.

Masalah norma sosial di Mesir, di mana perempuan yang naik sepeda secara budaya dan sosial dianggap tidak feminin, bisa jadi dianggap isu yang kurang penting bagi sejumlah wanita Muslim di Belanda, di mana mengendarai sepeda sudah menjadi kegiatan umum untuk kedua jenis kelamin. Pendek kata, kehidupan Muslimah tidak selalu sama dan begitu pula dengan perjuangan kita.

Yang menyatukan kita seharusnya adalah solidaritas dan dukungan kita untuk satu sama lain, terlepas dari pelaksanaannya di negara dan komunitas masing-masing. Larangan mengenakan hijab atau niqab mungkin tidak secara langsung berdampak pada wanita Muslim di Barbados. Namun, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk mencari tahu di belahan dunia mana larangan seperti itu berpengaruh terhadap kaum Muslimahnya. Yang pasti, larangan tersebut akan memberikan pengaruh kepada kita, baik secara langsung maupun tidak.

Satu hal yang juga memengaruhi perempuan Muslim, di samping negara dan etnis kita, adalah penggambaran yang keliru bahwa kita tertindas dan tidak berdaya. Asumsi bahwa wanita Muslim tidak berhak berpendapat atau tidak berani menyatakannya sama-sama merusak dan sangat jauh dari kenyataan. Keyakinan salah kaprah ini pun menciptakan cara pandang yang sangat sempit untuk memahami Muslimah dan berbagai cara istimewa yang kita lakukan untuk menyelaraskan gender dan agama.

Kita bukan yang pertama yang menuntut keadilan, dan kita tidak akan menjadi yang terakhir

Pada kenyataannya, perempuan Muslim selalu menjadi bagian dari proses menciptakan sejarah dan mengubah dunia. Apabila kita mencermati zaman Nabi Muhammad (semoga Allah selalu memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya), kita akan melihat banyak contoh wanita pemberani: mulai dari istrinya, Khadijah, yang sebelum menikah adalah pengusaha sukses, hingga syahidah pertama, Sumayyah binti Khubbat.

Kita memiliki sejarah panjang akan perempuan mandiri yang berani berpendapat, mengambil risiko dan melakukan lebih dari yang diharapkan, bertentangan dengan norma yang berlaku pada saat itu. Inilah para perempuan yang semestinya kita teladani saat semua pihak sepertinya bertekad menyerang keyakinan, cara berbusana, dan pengalaman para wanita Muslim.

Kita bukan yang pertama yang menuntut keadilan, dan kita tidak akan menjadi yang terakhir.

Leave a Reply
<Modest Style