Modest Style

Mendorong Penerimaan terhadap Muslim dengan HIV/AIDS

,

Para muslim yang hidup dengan HIV/AIDS adalah komunitas yang terabaikan dan terstigmatisasi. Hakeemah Cummings berbincang dengan pendiri Reaching All HIV+ Muslims in America (RAHMA), yang bekerja untuk meningkatkan kesadaran dalam komunitas.

(Gambar: SXC)
(Gambar: SXC)

Minat merupakan kekuatan yang menggerakan individu-individu yang termotivasi untuk menciptakan perubahan yang berarti di dunia. Hanya dorongan yang dibutuhkan para pemimpin sejati untuk maju dari dalam. Khadijah Abdullah, pendiri Reaching All HIV+ Muslims in America (RAHMA) dan seorang teman baik saya, adalah pemimpin semacam itu. Setelah terinspirasi oleh seorang kawan yang mengidap HIV, ia menjadi aktif dalam kerelawanan dan dukungan bagi mereka yang hidup dengan HIV/AIDS. Setelah bertemu seorang Muslim HIV+ untuk pertama kalinya, ia memutuskan bahwa sesuatu harus dilakukan dari dalam komunitas Muslim untuk membantu populasi yang terabaikan itu. Sejak mendirikan RAHMA pada 2012, Abdullah bekerja tanpa lelah untuk meningkatkan kesadaran atas HIV/AIDS dalam komunitas Muslim dengan menyelenggarakan lokakarya pendidikan, menawarkan situs tes gratis, berbicara di berbagai konferensi dari California sampai Washington DC, menyajikan riset di konvensi, dan meluncurkan program pendidikan kesehatan sebaya untuk pemuda Muslim. Saya duduk bersamanya untuk belajar lebih mengenai organisasinya, tantangan yang dihadapinya, dan rencana masa depan untuk RAHMA.

Mengapa anda memilih nama RAHMA untuk organisasi anda?

 Khadijah Abdullah (KA): Kata “rahma” adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “rahmat”, tetapi ini jauh lebih dari itu. Salah satu asma Allah adalah Ar-Rahman (Maha Pengasih), dan Nabi Muhammad saw adalah pembawa rahmat bagi semesta alam. Kita semua ingin mencapai tingkat karakter seperti itu. Terlalu sering kita cepat menghakimi orang lain, kita menolak orang karena penampilan mereka, gaya hidup mereka, atau dari mana mereka berasal. Ini adalah persoalan utama yang memengaruhi orang dengan HIV/AIDS. Ada banyak stigma yang melekat –stigma ini memengaruhi apakah para individu akan mencari perlakuan yang baik, dan apakah mereka akan menerima perlakuan yang layak mereka dapat, kita cenderung memandang remeh mereka, menyalahkan mereka atas infeksi, dan kita menolak kebaikan yang mereka berhak peroleh. Kita semua dapat membuat perbedaan bagi hidup orang lain hanya dengan bersikap baik dan memahami. Kita terinspirasi oleh konsep rahmat, dan kemudian menciptakan akronim yang berkaitan.

Apa inspirasi anda dalam mendirikan RAHMA?

Ketika saya di bangku kuliah, saya bekerja sebagai asisten perawat bersertifikat di rumah sakit setempat. Pekerjaan saya adalah membantu perawat dengan berbagai tugas keperawatan –membantu mengatur pemberian obat-obatan, mengganti seprei, membawa pasien ke kamar mandi, bersih-bersih setelah pasien keluar rumah sakit – anda sebut saja. Suatu hari, saya ditugaskan seorang pasien yang juga kawan saya sejak di sekolah menengah atas. Saya mengetahui bahwa ia mengidap HIV+. Ini kabar yang mengejutkan dan saya menyadari betapa sedikit yang saya tahu tentang virus tersebut.

(kiri ke kanan) Asma Hamid, sekretaris; Khadijah Abdullah, presiden dan pendiri
(kiri ke kanan) Asma Hamid, sekretaris; Khadijah Abdullah, presiden dan pendiri

Selama di sekolah menengah atas, saya sangat abai terhadap HIV dan AIDS. Saya berpikir bahwa orang dengan HIV menjijikan, dan bahwa saya bisa tertular sakit dengan bernafas satu ruangan dengan mereka. Bahkan ketika saya mulai bekerja di pelayanan kesehatan, saya masih abai terhadap virus dan penyakit yang bisa disebabkan olehnya. Tetapi, saat saya mengetahui status HIV kawan saya, saya memutuskan untuk mendidik diri saya sendiri. Saya  menjadi relawan kelompok kepedulian HIV/AIDS di komunitas dan menyelenggarakan untuk pertama kalinya Pekan Kepedulian AIDS di kampus saya.

Suatu hari, seorang saudara Muslim yang hidup dengan AIDS masuk rumah sakit. Ia penuh kemarahan dan kepahitan tentang bagaimana penyakit itu memengaruhi hidupnya. Sebagai seorang Muslim, saya merasa bahwa ia seharusnya ia bisa datang kepada Muslim lainnya untuk meminta pertolongan, tetapi ia sendirian. Setelah  membantu merawat pasien itu, saya melihat perubahan sikapnya. Fakta bahwa saudari Muslim-nya ada untuknya adalah segala yang ia butuhkan untuk mengubah cara berpikir tentang pergulatannya melawan AIDS. Saya menyadari bahwa upaya bersama diperlukan untuk menjawab kebutuhan para Muslim yang hidup dengan HIV/AIDS. Jadi, dengan bantuan beberapa kawan, RAHMA lahir.

 

HIV adalah infeksi yang kebanyakan ditularkan secara seksual (STI) dan bisa juga melalui darah dan bahkan air susu ibu. Secara umum, orang cenderung fokus pada fakta bahwa HIV adalah STI, dan itu bisa menjadi masalah sensitif bagi komunitas Muslim. Agama kita melarang hubungan seksual pra-nikah, perselingkuhan, penggunaan obat-obatan, dsb. Apa yang menjadi tantangan terbesar anda dalam membicarakan isu-isu semacam ini?

Secara keseluruhan, komunitas Muslim bisa menerima kerja kami. Kami tidak banyak menghadapi hambatan untuk bermitra dengan organisasi Islam dan masjid-masjid untuk memfasilitasi kerja kami. Meskipun benar demikian, saya menemukan bahwa ketika orang pada awalnya mengenal organisasi kami, persoalan terbesar adalah penolakan. Orang tidak mau percaya bahwa HIV memengaruhi komunitas kita. “Tetapi itu tidak terjadi pada kita…” adalah sesuatu yang saya dengar berulang kali. Kenyataannya adalah itu sungguh terjadi pada kita. Di Amerika Serikat, banyak Muslim yang kembali pada Islam dan mereka sudah mengidap virus itu. Lebih jauh, Islam itu sempurna; Muslim itu tidak. Para individu yang sudah menjadi Muslim juga bisa tertular virus dalam berbagai cara, termasuk perilaku berisiko. Juga, mari jangan lupakan mereka yang terlahir dengan HIV, mereka yang tertular virus dari penyusuan si ibu pengidap HIV+, mereka yang diperkosa oleh pengidap HIV+, atau mereka yang tertular virus dari pasangan yang tidak setia. Persoalannya bukan bagaimana para Muslim ini menjadi HIV+, tetapi lebih pada apa yang kita bisa lakukan untuk membantu mereka  dan mencegah peningkatan jumlah penderita. Ini bisa dilakukan melalui pendidikan, advokasi, dan pemberdayaan.

Persoalan lain adalah pendanaan – kita butuh uang untuk bisa melanjutkan pekerjaan  yang RAHMA lakukan. Alhamdulillah, pintu-pintu mulai terbuka, tetapi untuk kesinambungan, program-program ini butuh dana tetap. Insya’ Allah, kita berharap untuk terus membangun kemitraan yang akan memfasilitasi pendanaan untuk kita.

RAHMA telah melakukan beberapa program dan lokakarya yang luar biasa di masa lalu. Anda selalu berpikir cara-cara baru untuk memajukan pencapaian RAHMA – apa yang ingin anda capai ke depannya untuk organisasi anda, insya’ Allah?

Kita berharap memiliki gedung kantor baru di masa depan, insya’ Allah. Memiliki ruang sendiri akan memungkinkan kita untuk mengerjakan banyak pekerjaan yang dibutuhkan pada satu lokasi pusat.  Kita berharap mampu bekerja dengan staff penuh – lengkap dengan tim riset untuk menjalankan riset dan mempublikasikan penemuan kita, para profesional medis untuk memberikan layanan kesehatan dasar,  dan anggota untuk layanan lainnya, seperti pelatihan, dukungan, dan bahkan koneksi untuk pernikahan. Kita juga ingin meluncurkan seutuhnya program Proyek Imam yang mana kita akan bekerja bersama para Imam dari masjid-masjid mitra untuk menciptakan wilayah aman bagi mereka yang hidup dengan HIV dan STI untuk mengakses dukungan yang mereka butuhkan. Ini semua akan mungkin  melalui kemurahan Allah swt dan bantuan dari komunitas Muslim.

Terlalu banyak yang bisa diceritakan tentang Khadijah Abdullah dan tim relawan RAHMA-nya yang antusias. Para muslim yang hidup dengan HIV/AIDS telah menjangkaunya  dari seluruh Amerika Serikat, berharap menemukan dukungan yang mereka butuhkan dari komunitas Muslim. RAHMA sedang bekerja keras untuk menjawab kebutuhan mereka. Jika anda ingin mengenal lebih jauh tentang RAHMA, silakan kunjungi www.haverahma.org.

————————————————————————————————

Apakah HIV/AIDS

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah sebuah virus yang menginfeksi sel-sel manusia sebagai inangnya dan menyebabkan penurunan secara cepat kemampuan sistem kekebalan melawan infeksi. Jika dikendalikan, manusia bisa hidup normal dengan pengobatan rutin sementara masih terinfeksi HIV (HIV+). Jika HIV tidak diobati atau pengobatan gagal, virus tersebut menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), yang menyebabkan sistem kekebalan sangat lemah. Penderita umumnya meninggal karena infeksi oportunistik dan kanker.[1]

 


[1] Center for Disease Control and Prevention, HIV/AIDS, tersedia di sini.

Leave a Reply
<Modest Style