Modest Style

Malala Yousafzai, Calon Peraih Nobel Perdamaian

,
BRITAIN-PAKISTAN-UNREST-EDUCATION-CHILDREN-RIGHTS
INGGRIS, Birmingham: Dalam foto yang diambil tanggal 3 Januari 2013 dan diterima dari RS Queen Elizabeth pada 4 Januari 2013, siswi 15 tahun asal Pakistan yang ditembak Taliban, Malala Yousafzai (kanan), didampingi dua petugas rumah sakit, tampak melambaikan tangan saat pulang dari RS Queen Elizabeth di Birmingham, Inggris pusat

Oleh Pierre-Henry DESHAYES – Malala Yousafzai, murid sekolah Pakistan yang kini menjadi ikon perlawanan terhadap Taliban, beserta beberapa aktivis negara eks blok komunis dan mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton, dinominasikan meraih Penghargaan Nobel Perdamaian 2013 dari 259 kandidat yang diumumkan Institut Nobel, Senin (4/3/2013).

Tanpa menyebut nama, sesuai dengan aturan yang berlaku, Institut Nobel menyatakan daftar kandidat tahun ini terdiri dari 209 individu dan 50 organisasi. Daftar nomine tak pernah diumumkan selama 50 tahun.

Akan tetapi, siapa saja boleh menominasikan kandidat – termasuk mantan peraih Nobel, anggota parlemen dan pemerintah seluruh dunia, para guru besar serta anggota organisasi internasional – dan dipersilakan menyebutkan nama jagoan mereka.

Malala Yousafzai (15), yang terluka parah saat kepalanya ditembak dari jarak dekat oleh tentara Taliban pada 9 Oktober 2012 karena memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak perempuan di Pakistan, diketahui masuk dalam daftar serta dianggap calon kuat oleh banyak pengamat.

‘Dia kandidat yang memenuhi semua alasan: hak bagi perempuan, pendidikan, pemuda, dan perlawanan terhadap ekstremisme,’ ujar pengamat Nobel, Kristian Berg Harpviken, kepala Peace Research Institute of Oslo.

Namun, kalangan lain beranggapan usia Malala yang masih muda dapat menghambat kansnya untuk memenangkan Nobel.

‘(Nobel) akan menjadi beban yang sangat berat baginya,’ kata Atle Sveen, sejarawan spesialis Penghargaan Nobel Perdamaian.

‘Dia masih terlalu muda walaupun alasan untuk memberinya penghargaan sangat masuk akal,’ tambahnya.

‘Linna Ben Mhenni (bloger asal Tunisia yang dijagokan meraih Nobel 2011 saat usianya 27 tahun) sampai takut luar biasa saat dinominasikan. Dia (Malala) juga bisa menjadi target yang jauh lebih besar bagi pendukung Islam fanatik,’ lanjut Sveen.

Peraih Nobel 2013 akan diumumkan pada awal Oktober dan, sesuai tradisi, akan menerima hadiah pada 10 Desember, bersamaan dengan peringatan wafatnya pendiri Penghargaan Nobel, filantropis Alfred Nobel, tahun 1896 lalu.

Tahun ini, jumlah 259 peserta merupakan yang terbanyak sepanjang sejarah. Rekor sebelumnya, yaitu 241 peserta, terjadi pada 2011. ’Trennya meningkat, tidak selalu tapi hampir setiap tahun,’ ungkap Ketua Institut Nobel, Geir Lundestad, mengenai daftar kandidat.

‘Tren ini menunjukkan berkembangnya minat terhadap hadiah Nobel. Para kandidat pun berasal dari penjuru dunia,’ tambahnya.

Beberapa peraih Nobel terakhir pilihan panitia terbilang kontroversial. Bisa jadi hal inilah yang meningkatkan minat terhadap penghargaan tersebut.

Tahun lalu, penghargaan bergengsi ini jatuh kepada Uni Eropa, pilihan yang memicu kontroversi lantaran krisis yang tak kunjung usai sejak blok kerjasama antarnegara Eropa itu didirikan.

Pada 2009, hadiah Nobel diberikan kepada Presiden Barack Obama, hanya beberapa bulan setelah menjabat sebagai presiden, dan saat Amerika Serikat masih terlibat dalam dua perang di Irak dan Afghanistan.

Tahun ini, panitia Nobel bisa saja menyulut kemarahan Moskow karena menominasikan para aktivis pejuang HAM dan kebebasan di Rusia, yang menurut Human Rights Watch mengalami penindasan terparah sejak jatuhnya Uni Soviet, atau di Belarus, yang sering digambarkan sebagai tirani terakhir di Eropa.

‘Ada banyak alasan untuk mengalihkan perhatian kami ke Eropa Timur, khususnya Rusia,’ ujar Harpviken. ‘Perkembangan politik di sana sangat mengkhawatirkan dan hal itu tidak akan luput dari perhatian anggota komite.’

Karenanya, sejumlah aktivis perempuan Rusia seperti Lyudmila Alexeyeva, Svetlana Gannushkina dan Lilia Shibanova dianggap pantas menjadi kandidat utama, begitu juga kelompok pejuang HAM Memorial, serta aktivis HAM Belarus yang kini dipenjara, Ales Belyatski.

Harpviken juga menyebutkan kemajuan yang terjadi di bidang perdamaian atau hak asasi manusia di negara-negara seperti Kolombia, Myanmar dan Filipina. Tetapi, ia menyiratkan sulitnya memilih satu pemenang secara khusus.

Dari ketiga negara tersebut, kandidat yang diyakininya ada dalam daftar adalah Presiden Kolumbia, Jose Manuel Santos, dan presiden Myanmar pendukung reformasi, Thein Sein.

Tanpa urutan tertentu, kandidat lain adalah mantan presiden AS Bill Clilnton, Maggie Gobran – penganut Kristen Koptik yang dijuluki ‘Mother Teresa’ dari Mesir berkat kiprahnya membantu kaum miskin di permukiman kumuh Kairo – dan Denis Mukwege, dokter pionir pendiri klinik bagi para korban perkosaan di Republik Demokratik Kongo.

Menurut prediksi kantor berita Norwegia NRK, nama-nama kandidat lain akan meliputi tentara AS dan tersangka Wikileaks Bradley Manning, aktivis Kurdistan Leyla Zana dan Global Alliance for Vaccines and Immunisation (GAVI), organisasi yang menyediakan vaksin untuk anak-anak miskin.

Leave a Reply
<Modest Style