Modest Style

Apa yang (Tak) Diinginkan Wanita Single

,

Menjadi wanita lajang tidak selalu berarti kesepian seperti yang dikira orang. Amal Awad bicara tentang ‘nasihat’ salah kaprah yang sering ditujukan pada para lajang…

Inikah bayangan teman-teman Anda tentang masa depan Anda? AFP/ERIC FEFERBERG
Inikah bayangan teman-teman Anda tentang masa depan Anda? AFP/ERIC FEFERBERG

Film komedi romantis tidak lengkap tanpa adegan standar ‘dikuliahi’. Sekumpulan wanita berada di restoran dengan nama unik, melahap kue dan es krim, dan salah satu wanita itu meratapi kehidupan cintanya yang menyebalkan. Wanita lain tengah menikmati ‘masa bulan madu’ dengan suaminya yang sempurna, atau ia menikahi seorang Samwise Gamgee — bukan bintang rock, tapi manis dan setia. Selanjutnya, wanita yang sukses dalam pernikahannya akan memberi tahu si lajang kesalahan-kesalahannya, alih-alih menyuruh si teman untuk menjadi tokoh utama dalam hidupnya sendiri.

Kalau menurut film-film itu, teman yang hidup tanpa cinta bukan dianggap tidak ‘komplet’, ia hanya belum menemukan pria yang tepat. Pastilah ada tindakannya yang keliru. Ia pasti melewatkan sesuatu. Apa pun kepuasan yang sudah diraih si lajang dalam hidupnya, semua ini dikalahkan oleh ketiadaan pasangan. Ia, pada pada dasarnya, kehilangan bagian dari dirinya.

Begitulah hidup kita dicekoki selama ini. Baik buku maupun film menyebutkan bahwa “si pangeran” pasti akan muncul, soundtrack akan dimainkan, dan  pun akan saling memiliki. Bahagia.

Kita semua dikondisikan untuk meyakini bahwa hidup kita tidak lengkap sampai kita menemukan pasangan. Dan ini bukanlah masalah kebudayaan, walaupun secara tradisi muslim akan mendapat kecaman tertentu jika  telah mencapai usia tertentu dan belum juga menikah.

Bagaimanapun menariknya pernikahan yang bahagia, banyak wanita lajang tidak merasa hampa tanpanya

Pria secara romantis ditempatkan sebagai “lajang paling dinanti” — penyendiri misterius yang tidak tahu caranya mencintai (sialan!) – sedangkan, wanita lajang merosot derajatnya menjadi perawan tua yang sisa hidupnya hanya akan ditemani rasa iba dan kucing.  Banyak sekali kucing.

Semakin tua dan  (agak) bijaksana kita, kita akan mulai melihat cacat dalam kisah itu. Karena — dan ini sangat penting — bukanlah tugas orang lain untuk menggenapkan atau membahagiakan kita. Pekerjaan ini sebagian besar harus kita lakukan sendiri, dan semua tambahan di luar itu hanyalah topping yang menggoda di atas kue. Kita mungkin ingin lapisan gula itu. Lapisan gula itu memang, membuat kue jauh lebih enak. Tapi jika lapisan gula itu kita singkirkan, kita akan mendapati kenyataan bahwa kita selalu membutuhkan bagian utama kue mantap dan lezat. Tak ada orang yang menyukai kue yang belum matang.

Mari saya beritahu sebuah rahasia. Bagaimanapun menariknya pernikahan yang bahagia, banyak wanita lajang yang tidak merasa hampa tanpanya. Tentu, kita mungkin menginginkan pernikahan, tapi bukan untuk menggenapkan kebahagiaan kita.

Tampaknya banyak yang sulit memahami bahwa, meskipun banyak lajang  mencari dan menghargai  kehadiran seorang pasangan dalam pernikahan, ketiadaannya tidak tergantikan oleh hal-hal lain dan tidak pula dibatasi oleh sebuah hubungan romantis. Kebanyakan wanita tak akan berhenti menikmati hobi, mengejar sukses dalam pekerjaan atau memiliki teman hanya karena menikah. Kita tidak akan berhenti menjadi diri kita sendiri, dan jika kita harus begitu, itu masalah tersendiri.

Selain saat-saat kesepian atau kerinduan akan hubungan yang penuh arti — dan rasa ini pasti ada — hal tersulit dalam melajang adalah ‘dikuliahi, seperti gestur simpati dari seseorang yang telah menemukan Pria Terbaik di Dunia yang bisa membuat brownies dan selalu ingat untuk menutup dudukan toilet. Atau gerakan seperti menggigit bibir, mengangguk-angguk dengan mata iba, karena aku pun dulu begitu! Tunggu saja dengan sabar 500 tahun lagi.

Yang menjengkelkan adalah ketika dalam sebuah percakapan dengan orang yang sudah lama tidak bertemu, ia bertanya, dengan tawa canggung, apakah sudah ada ‘kemajuan’ — sambil mengangguk dan mengedipkan mata.

Tidak ada yang peduli bahwa kita sudah meraih gelar dalam pendidikan, memulai pekerjaan baru, pulih dari sakit, atau mendaki gunung. Tampaknya pengalaman manusia yang kaya dan berliku-liku hanyalah catatan kaki dalam hidup seorang wanita jika ia lajang.

Kemudian ada pula yang disebut sebagai “serbuan saran.” Mereka menyerangmu dari semua sudut, seringkali bersamaan. Tapi saya bisa katakan bahwa jika seorang lajang ditanyai tentang apa saja usahanya untuk “bertemu seseorang di luar sana” sama tidak nyamannya dengan duduk dengan celana jins basah seharian. Mereka menunjukkan masalah kita, seolah-olah kita semua hidup dengan tujuan untuk menemukan pasangan, dan jika ini belum terjadi, kita salah langkah. Ini saran yang benar-benar keliru. Jangan lakukan.

Kita juga sering dibilang terlalu percaya diri sehingga pria terintimidasi. Orang-orang meminta kita untuk meredupkan kepribadian kita, terutama jika kita unggul dalam pendidikan atau pekerjaan. Seorang teman lajang saya dinasihati panjang-lebar untuk mengubah gelarnya agar tidak menakutkan bagi lelaki malang yang mungkin sulit memahami kata berakhiran ‘–ologi’.

Kita mengerti kok tentang gurauan jam biologis yang terus berdetak. Dan nasihat favorit saya: ‘kamu terlalu pemilih’. Mungkin dialah yang terbaik yang bisa kamu dapatkan, jadi… yah… kawinlah dengan dia dan sebagainya. Yang penting jantungnya berdetak dan dia punya pekerjaan. (Hore!)

Kita dinasihati untuk meredupkan kepribadian kita dan menyembunyikan cita-cita dan hasrat kita

Dan tentu saja muslimah dinasihati untuk berdoa dengan sabar sampai takdir kita berubah. Namun sebaliknya, kita dikuliahi karena tidak melengkapi separuh agama kita — kita disuguhi campuran kutipan rohani yang disalahgunakan untuk menanamkan bahwa hal itu wajib, cara mengutipnya dirancang sedemikian rupa hingga kita merasa hampa sekaligus penuh rasa bersalah karena belum juga menikah.

Kita dijejali ungkapan bodoh seperti “kita tidak bisa memiliki semuanya sekaligus.” Kita dinasihati untuk meredupkan kepribadian kita dan menyembunyikan cita-cita dan hasrat kita, sekiranya ‘dia’ yang belum kita temukan, tidak menyukainya. Tidak ada yang peduli jika kita tidak menyukainya — jumlah wanita lebih banyak daripada pria dan kita tidak bisa pilih-pilih.

Lucunya, saya tidak mengenal satu wanita pun yang bertekad memilih karier di bandingkan pernikahannya. Situasinya tidak hitam putih. Kita hanya menjalani hidup, dan apa pun yang menjadi prioritas pada saat itulah yang kita kerjakan.

Meskipun saya beruntung dan senang melihat teman-teman saya berada dalam hubungan yang memuaskan, hasilnya tidaklah dijamin selalu begitu. Pria bertemu wanita. Mereka saling menyukai. Lantas apa? Tidak ada yang otomatis mendapatkan ‘akhir yang bahagia.’ Ketika kita bertemu seseorang, sesungguhnya, kisahnya baru dimulai.

Menemukan seseorang bukanlah prestasi. Jika hubungannya memuaskan, maka ini adalah anugerah. Tapi jika kita membutuhkan orang tersebut untuk membuat kita ‘bahagia’, ini berisiko. Jadi inilah saran saya untuk mereka yang sedang berjemur di bawah sinar kemilau hubungan yang indah — nikmati, tapi kenali dirimu. Karena saya yakin hubungan kita dengan diri kita sendiri adalah hubungan terpenting yang pernah kita miliki. Kita tak akan pernah terpisahkan dengan diri kita sendiri, dan sebaliknya kita selalu bisa mengakhiri hubungan yang tak sehat.

Untuk para pemberi saran, yang seringkali bermaksud baik, kalian tak perlu mengkhawatirkan para lajang ini. Kami menyadari usia dan status pernikahan kami, jadi mengingatkan kami terus tentang kedua hal itu sungguh tidak perlu. Kami mungkin mengalami beberapa momen tragis, tapi kami cukup menghargai diri kami untuk memiliki kesabaran atas hal yang diributkan semua orang.

Dan seperti yang sering diingatkan guru meditasi saya, ke mana pun kita pergi, kita membawa diri kita sendiri. Jadi, jika kita ingin memiliki seseorang untuk menemani perjalanan ini, jadikanlah ia yang teman baik, bukan sebagai kepingan puzzle terakhir.

Leave a Reply
<Modest Style