Modest Style

Wawancara: Dr. Ingrid Mattson tentang Kepemimpinan Perempuan

,

Perempuan dan laki-laki harus menerima perbedaan dan berkolaborasi. Sya Taha meminta Dr. Ingrid Mattson untuk menjelaskan sejumlah gagasannya.

1303-WP-Sya-Female-Leadership

Profesor Doktor Ingrid Mattson saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi Islam di Huron University College, Universitas Western Ontario. Sebelumnya dia adalah Direktur Macdonald Centre untuk Studi Islam dan Hubungan Kristen-Muslim di Seminari Hartford, Hartford, Connecticut. Di sana dia menjadi pendiri Program Kerohanian Islam—satu-satunya program yang terakreditasi untuk melatih para rohaniwan Muslim di Amerika Serikat. Mulai dari 2006 hingga 2010 dia menjabat sebagai Presiden Komunitas Islam Amerika Utara (ISNA), setelah selama dua periode menjabat sebagai wakil presiden—sekaligus menjadi wanita pertama yang terpilih untuk kedua posisi tersebut. Dr. Mattson lahir  di Kanada dan memegang gelar PhD untuk bidang Studi Islam dari Universitas Chicago pada 1999.

Dr. Mattson berbincang dengan majalah Al Nisa pada Simposium ‘Kent U Mij?’ (Apakah Anda mengenal saya?) di Theater de Meervaart, Amsterdam (22/9/12), di antara pidato utamanya tentang keselarasan dan keragaman antarperempuan Muslim, serta sesi tanya-jawab terbuka dengan hadirin.

Apa syarat menjadi pemimpin Muslim yang baik?

Ada kepemimpinan dalam begitu banyak sektor yang berbeda. Hal pertama, pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan setiap masalah; mereka melihat adanya kebutuhan dan perlu untuk meresponsnya, jadi mereka melakukan sesuatu. Pemimpin yang baik mampu menganalisis situasi, memahaminya, memperkirakan sumber daya apa saja yang tersedia, lalu menawarkan solusi praktis.

Pemimpin yang baik juga membuka jalan bagi orang lain untuk menggantikan mereka, pertama dengan bekerja memperkuat institusi tempatnya berkarya (sejauh usahanya tepat dan dapat dilakukan). Kedua, dengan membimbing orang lain menuju pucuk kepemimpinan. Memastikan dia mempunyai organisasi yang solid yang dapat terus berjalan tanpa kehadirannya, atau setidaknya memiliki mekanisme untuk menggantikannya, dan kemudian secara pribadi membimbing atau menciptakan para pemimpin-pemimpin baru.

Menurut Anda adakah perbedaan gender bila bicara tentang kepemimpinan?

Ada beberapa generalisasi yang tidak berlaku untuk segala situasi. Tetapi menurut saya, perempuan cenderung lebih mampu untuk bertindak sebagai penasihat. Mereka cenderung berusaha untuk meyakinkan orang sebelum memutuskan, daripada mengambil keputusan dan mengharapkan semua orang mematuhinya. Kecenderungan ini biasanya positif. Meski memang adakalanya kita harus segera mengambil keputusan yang kita anggap perlu, sekalipun keputusan itu belum tentu ditaati.

Bagian dari kepemimpinan adalah tahu kapan harus menjalankan keputusan yang menjadi wewenang kita karena kita sungguh meyakini kebenarannya, bahkan jika pada saat itu orang lain tidak memahaminya. Ada keseimbangan antara membuat keputusan cepat dan meluangkan waktu untuk benar-benar mendapatkan persetujuan dari pihak lain. Saya pikir laki-laki cenderung lebih memiliki satu gaya dan perempuan sebaliknya, namun Anda tidak menginginkan adanya ketidakseimbangan di antara keduanya.

Saat masih aktif di ISNA, dalam situasi apa Anda menyadari lebih memiliki legitimasi atau wewenang untuk menanggapi isu tertentu?

Menurut saya, banyak orang merasa bahwa faktanya saya memang berada di posisi untuk berbicara bagi setidaknya organisasi saya ISNA, atau sedikit lebih luas lagi, bagi komunitas Muslim Amerika. Saya pikir banyak orang yang merasakan manfaatnya pascaserangan 11 September, sebab ada kebutuhan besar untuk dapat menjelaskan Islam pada warga Amerika dalam istilah yang mudah mereka pahami. Fakta bahwa di situlah lingkungan saya—saya orang Barat dan saya Muslim—membantu saya memahami kekhawatiran yang melanda. Usaha ini secara alami terbantu dengan komunikasi, tetapi bahwa saya lahir dalam lingkungan seperti itu adalah murni kebetulan.

Meski demikian, ada satu aspek yang mengganggu, karena terkadang melibatkan rasisme. Seorang  teman yang juga rabi dan betul-betul sahabat bagi komunitas Muslim pernah berkata, ‘Ingrid, untung saja pada waktu itu Andalah yang memimpin ISNA, sebab Anda perempuan kulit putih bertubuh mungil sehingga tidak menakutkan seperti yang mungkin ditimbulkan para pendahulumu.’ Baik pendahulu dan penerus saya sama-sama pria Sudan berkulit gelap.

Apakah laki-laki lebih menakutkan dari perempuan? Apakah orang berkulit gelap lebih mengerikan dari orang kulit putih? Bila Anda menanyakan kedua pertanyaan ini pada para mahasiswa saya, mereka akan mengatakan saya lebih menyeramkan ketimbang kedua orang itu. Bagi saya, pemikiran itu sungguh konyol; hanya melihat wajah saya membuat orang merasa nyaman. Saya pikir pria Muslim berkulit gelap adalah orang yang paling dibenci saat ini, karena wajah mereka cenderung dihubungkan dengan intimidasi atau kekerasan. Hal ini amat sangat menyedihkan.

Bagaimana kaum cendekia perempuan bisa meraih legitimasi yang biasanya diperoleh cendekiawan laki-laki, walaupun mungkin mereka menimba ilmu di tempat yang sama?

Itulah yang disayangkan. Menurut saya ketidaktahuan tentang kualitas cendekiawan wanita masih perlu dikoreksi. Orang cenderung ingin memastikan apa yang mereka peroleh itu sahih. Buat saya, semakin kita belajar tentang tradisi kita, semakin mudah kita menghindar dari reaksi semacam ini. Sekarang tentu tersedia banyak informasi mengenai wanita dalam isnad, seperti yang ditulis Dr. Akram Nadwi dalam bukunya, Muhaddithat: The Women Scholars in Islam.

Memang ada ilmu pengetahuan, tetapi ada juga otoritas atau pengaruh. Kita mempunyai banyak kaum perempuan cendekia namun jika mereka tidak diakui atau diberi posisi oleh komunitasnya, maka orang bisa saja berpikir barangkali mereka tidak benar-benar berkualitas.

Saya pernah berbincang dengan Shaykh Faraz Rabbani dari portal edukasi Islam nirlaba Seeker’s Guidance di Kanada. Di organisasinya itu, ada banyak sukarelawan perempuan yang sudah belajar di Yordania dan memegang ijazah untuk beberapa bidang studi Islam yang berbeda. Dia frustrasi karena tidak banyak yang dapat dilakukan dengan pengetahuan yang dimiliki para perempuan ini. Saya bilang padanya, orang tidak akan mengakui para cendekiawan perempuan itu kecuali masjid menetapkan posisi resmi (digaji maupun tidak) yang mengakui mereka sebagai shaykha atau guru agama di komunitas itu. Bagaimana mungkin publik mau mengakui mereka sebagai pihak yang berwenang jika pemimpin komunitasnya saja tidak melakukannya?

Saya pikir kedua hal itu sama pentingnya: mengetahui sejarah kita untuk mendobrak asumsi warisan tentang otoritas agama, serta menciptakan posisi bagi para perempuan ini.

Jadi, penting bagi kaum cendekia perempuan untuk terafiliasi dengan organisasinya. Tetapi, jika saat ini kepemimpinan didominasi kaum lelaki, bagaimana perempuan menegosiasikannya?

Anda harus menemukan rekan yang tepat. Allah SWT bersabda dalam Quran bahwa pria dan wanita yang beriman merupakan awliya’ atau penolong satu sama lain (9:71). Tidak ada yang betul-betul terjadi dalam komunitas tanpa kemitraan. Kaum perempuan perlu minta bantuan kepada guru-guru mereka, atau para pemegang tampuk kepemimpinan yang bisa mendukung mereka.  Tidak bisa hanya perempuan saja yang kelihatannya mempermasalahkan hal ini; ini tentang berkolaborasi untuk membangun komunitas.

Walau begitu, akan selalu ada beberapa orang yang menolak kemitraan ini. Baik karena mereka sepenuhnya percaya laki-lakilah yang semestinya berkuasa, atau, seperti halnya seluruh umat manusia, mereka tidak suka menyerahkan atau berbagi kekuasaan dengan pihak lain. Atau, mereka hanya tidak paham saja. Namun saya yakin ada sejumlah lelaki yang menganggap situasi seperti ini salah. Untuk mengubah isu ini, Anda perlu bekerja dalam kemitraan dengan sejumlah pria.

Beberapa orang bisa diubah pendapatnya dan yang lain akan tetap pada pendiriannya. Terkadang Anda dapat bekerja dalam sistem dan adakalanya Anda perlu membangun sistem sendiri asalkan komunitas mengesahkan dan mendukungnya.

Bicara tentang membangun sistem sendiri, saya pernah membaca Anda memelihara anjing. Ada beragam pendapat akan hal ini, jadi bagaimana Anda, sebagai penganut paham minoritas, mengatasi isu seperti ini?

Yah, pendapat saya berdasarkan salah satu pendapat fikih (yurisprudensi hukum). Mayoritas mazhab fikih menganggap liur semua anjing najis, tetapi mazhab Maliki menganggap hanya liur anjing liarlah yang najis. Mazhab Maliki tidak menganggap anjing peliharaan najis (tidak suci). Ada dalil kuat atas pendapat ini dalam mazhab Maliki bahwa—sebagai contoh—Quran mengizinkan kita memanfaatkan anjing pemburu, bahkan memakan hewan yang digigitnya.

Jadi, bila Anda penganut Mazhab Syafi’i atau Hanafi, maka Anda tidak boleh memelihara anjing, dan saya tidak akan memaksa siapa pun untuk melakukannya. Tapi tentu saja, saya dengan sengaja menulis tentang mazhab Maliki untuk mengangkat isu mengenai problem menjadikan perkara kesucian dalam agama sebagai tabu, bahkan fobia.

Kami punya masalah besar di Amerika Utara. Di sana ada banyak sopir taksi Muslim dan juga penyandang tunanetra serta orang dengan keterbatasan fisik yang menggunakan anjing sebagai asisten. Anjing-anjing ini membantu pasien dengan keterbatan fisik tersebut untuk bepergian di tempat umum, tapi sopir-sopir taksi Muslim ini mengatakan hal-hal seperti ‘anjing haram’ dan mereka menolak menerima penumpang cacat fisik yang naik taksi mereka dengan asisten anjingnya.

Kejadian seperti ini murni ketidaktahuan, karena anjing tidak haram, juga tidak ada larangan untuk memasukkan anjing ke dalam mobil. Anda tidak diperintahkan membenci anjing. Anak-anak Anda sering meninggalkan najis (ketidaksucian) di mana-mana, namun, Anda tidak seharusnya membencinya, kan? Saya pikir isu ini penting bagi Muslim di Barat, meski merajalelanya penyiksaan satwa di negara-negara Muslim pun bisa dikategorikan haram. Kita benar-benar mesti mendobrak reaksi berlebihan dan kesimpangsiuran seperti ini di antara umat Muslim.

Seperti halnya isu anjing, menurut Anda adakah isu lain yang cenderung membuat Muslim terpaku sehingga lupa untuk membahas isu lain yang lebih penting?

Ya, tentu saja. Seorang mantan mahasiswa saya pernah bercerita betapa frustrasinya dia saat dia dan ketiga anaknya tidak mempunyai rumah. Dia pergi ke masjid dan, walaupun orang-orang tahu dia tunawisma, mereka tidak menolongnya—dialah yang harus datang dan minta bantuan. Saat ada perempuan tunawisma di masjid, orang-orang akan mengatakan ‘yah kami tidak punya uang untuknya,’ walaupun uang yang ada dihabiskan untuk hal-hal lain—penggalangan dana untuk Muslim di negara lain, maupun perbaikan tertentu untuk gedung baru.

Saya yakin akan ada orang yang menghampiri kami dan mengatakan kami buta terhadap kebutuhan tertentu. Bukannya kami tidak mampu mengatasinya. Kita semua manusia dan kita semua memiliki perspektif yang terbatas, tapi inilah sebabnya kenapa Anda perlu banyak berkonsultasi dan memiliki mekanisme untuk memperoleh sebanyak mungkin masukan. Semakin banyak orang yang Anda sertakan dalam proses pengambilan keputusan, akan semakin besar kesempatan Anda untuk setidaknya menghindari kesalahan fatal dalam mengabaikan kebutuhan sejati di komunitas.

Apakah saat ini Anda sedang menggarap proyek tertentu?

Saya sedang menulis buku yang secara tentatif berjudul The Ethical Muslim. Buku ini membekali pembacanya dengan pemikiran etis dalam Islam serta menyediakan berbagai studi kasus. Saya juga memegang posisi baru di Kanada sebagai Ketua Komunitas London and Windsor untuk Studi Islam di Huron University College, Universitas Western Ontario di London, Kanada. Seperti saat membangun program kerohanian di Seminari London, saya akan mencari program kepemimpinan agama seperti apa yang sekiranya cocok untuk Muslim Kanada di lingkungan itu, insyallah.

Kedengarannya menarik. Terakhir, ada saran untuk Muslimah yang bekerja di ranah publik tetapi tidak mengenakan kerudung?

Berhijab hanya salah satu bagian dari menjadi seorang Muslim. Yang lebih penting, apakah Anda membawa karakter, perilaku, nilai dan etika Muslim ke kantor? Setiap Muslim seharusnya mengetahui etika di bidang yang mereka geluti. Jika Anda melakukannya secara benar menurut islam dan hukum sipil, semaksimal mungkin, Anda mungkin bahkan memiliki pengaruh di bidang Anda, tergantung seberapa besar otoritas yang Anda miliki. Jika Anda bekerja tapi mengerjakan hal yang bertentangan dengan etika Islam, atau Anda bahkan tidak tahu apa etika bidang Anda—itulah yang akan menjadi masalah.

Hal ini bisa menjadi subjek yang sensitif—Anda tidak ingin membuat diri sendiri seolah-olah sedang memboyong agama ke kantor, tetapi Anda pun harus bersikap responsif. Artinya, bila orang sungguh-sungguh mencari informasi, Anda menyediakan diri Anda untuk mereka. Kelihatannya memang berat—buat apa bersusah-susah menjelaskan agama Anda ketika yang lain tidak melakukannya—tapi inilah dunia yang kita tinggali.

Kelompok minoritas lain mengalami masalah serupa, jadi lihatlah isu ini sebagai kesempatan. Berapa banyak Muslim di dunia yang tidak mempunyai kesempatan untuk berpendapat? Jika berhubungan dengan kesempatan pendidikan dan kebebasan berpolitik, kita termasuk kaum elite di dunia Muslim, maka tanggung jawab seperti apa yang kita emban terhadap orang lain? Saya pikir Anda tidak boleh bilang hanya ingin menjadi manusia nomal. Sudah ada banyak orang normal di dunia ini (tertawa).

Sekian, terima kasih atas waktu yang diberikan, Dr. Mattson.

Terima kasih karena telah mewawancarai saya, saya menikmatinya.

Artikel ini awalnya diterbitkan dalam bahasa Belanda di Al Nisa, majalah bulanan bagi Muslimah Belanda.

Kosa kata:

Isnad: daftar petugas yang telah mengirimkan laporan (hadis) dari pernyataan, tindakan, atau persetujuan Nabi Muhammad SAW, salah satu sahabatnya, atau pejabat berwenang berikutnya

Leave a Reply
<Modest Style