Waspada pedofilia

,

Afia R Fitriati berbagi beberapa saran agar kita lebih waspada dalam menjaga keselamatan anak.

1701-WP-03-SXC-edit

Mimpi terburuk seorang ibu menjadi kenyataan.

Mungkin itulah kalimat yang sesuai menggambarkan kasus kejahatan yang telah mengguncang Indonesia beberapa hari belakangan ini: seorang murid TK pria dikabarkan telah diperkosa pada dua waktu kejadian yang berbeda oleh sekelompok petugas kebersihan di toilet sekolah.

Kasus yang saat ini sedang diinvestigasi oleh pihak yang berwenang ini mengandung beberapa unsur yang terasa “tidak mungkin” sehingga terlalu mengerikan untuk benar-benar terjadi.

Seorang anak berusia enam tahun.

Anak lelaki — dan bukannya perempuan, yang biasanya dianggap lebih rawan menjadi korban kekerasan seksual.

Diperkosa pada saat jam pelajaran di dalam area sekolah.

Oleh orang yang bekerja di sekolah tersebut.

Lebih dari satu kali.

Kisah ini menjadi lebih menakutkan karena terjadi di Jakarta International School, salah satu sekolah internasional yang paling prestisius dan paling mahal di Indonesia. Menurut anggapan umum, sekolah ini seharusnya memiliki fasilitas terbaik, termasuk dan terutama dalam hal keamanan.

Kali pertama orangtua teman TK anak saya meneruskan kisah ini pada saya beberapa hari lalu, saya tidak dapat mempercayainya. Saya tidak ingin mempercayainya. Saat saya menyadari bahwa hal mengerikan tersebut benar-benar terjadi, saya tidak dapat tidur. Dan saya yakin saya bukan satu-satunya orangtua di Indonesia yang tidak dapat tidur karena kejadian ini.

Ada banyak hikmah yang dapat diambil oleh para orangtua dari kejadian ini. Berikut saya menuliskan hanya sedikit di antaranya:

1. Keselamatan anak paling utama

Ada (paling tidak) tiga hal yang mencurigakan dari kasus ini. Yang pertama dan paling utama, meski TK yang bersangkutan mengusung nama sekolah bereputasi baik, TK tersebut tidak memiliki izin operasi dari Kementerian Pendidikan. Kedua, anak tersebut mengunjungi toilet tanpa didampingi oleh satupun guru maupun asisten. Ketiga, petugas kebersihan yang melakukan tindak kejahatan datang dari sebuah perusahaan outsourcing yang disewa sekolah. Dengan kata lain, mereka adalah orang asing.

Di masa-masa saya bekerja sebagai guru sekolah dasar, seorang ahli pendidikan senior berbagi kepada saya mengenai panduan memilih sekolah untuk anak: pekerja sekolah (utamanya para guru), kurikulum, dan fasilitas di sekolah – secara berurutan seperti itu.

Saya berpegang pada panduan tersebut saat memilih TK untuk putra saya. Saya ikut duduk mengikuti pelajaran di dua kelas percobaan bersama anak saya untuk mengevaluasi berbagai elemen berbeda dari sekolah tersebut dan bagaimana elemen-elemen ini bekerja sama sebagai sebuah sistem. Saya dan suami memastikan kami berbicara dan berkenalan dengan seluruh pekerja di sekolah; tidak hanya kepala sekolah dan para guru, namun juga para petugas kebersihan dan penjaga keamanan sekolah. Beberapa orang mungkin akan mengatakan bahwa saya terlalu protektif, cerewet, atau pemilih. Namun saya yakin tidak ada yang akan menyangkal bahwa tugas orangtua adalah menjaga anak mereka. Dan karena saya harus menyerahkan tugas tersebut pada para pekerja di sekolah saat anak saya berada di sekolah, saya pikir sangat masuk akal jika saya memastikan ia berada di tangan yang dapat dipercaya.

Selain itu, penting juga mengajarkan dasar-dasar keselamatan pada anak. Selain mengajarkan anak untuk tidak berbicara pada orang asing, beberapa orangtua membuat “kode kata” yang harus ditanyakan atau dikatakan oleh anak saat ia berada di keadaan yang membahayakan (misalnya saat seseorang yang tidak dikenal mencoba menjemputnya dari sekolah).

2. Pendidikan seks

Pendidikan seks harus dimulai dari rumah dan diajarkan sedini mungkin sesuai dengan tingkat pemahaman anak.

Saat putra saya mulai belajar menggunakan toilet, saya dan suami mulai mengajarkan bahwa tidak seorang pun boleh menyentuh kemaluannya kecuali dirinya sendiri – termasuk orangtuanya – dengan cara memintanya membersihkan diri sendiri setelah buang air. Saya pikir orangtua manapun sependapat dengan saya bahwa pendidikan seks bukanlah topik yang mudah dalam hal pengasuhan anak. Namun, di masa kini di mana pornografi sangat mudah didapatkan dengan sekali klik dan pemangsa seksual di dalam banyak kasus merupakan orang terdekat dengan korban, masalah ini harus kita bahas.

3. Komunikasi dengan anak

Beberapa orangtua bersikap terlalu tegas hingga anak mereka takut berbicara pada mereka. Namun di era digital pengasuhan anak sekarang ini, penting bagi orangtua untuk memiliki jalur komunikasi yang terbuka dengan anak mereka, selain untuk mengawasi apa yang anak lakukan.

4. Saling jaga

Minta bantuan anggota keluarga, tetangga, dan Persatuan Orangtua Murid dan Guru di sekolah anak untuk melaporkan orang atau kegiatan mencurigakan ke pihak yang berwenang. Lebih baik mencegah daripada menyesal.

Dengan menuliskan ini, saya sama sekali tidak bermaksud menyalahkan orangtua si anak yang menjadi korban dalam kasus ini. Saya beserta banyak orangtua lain di Indonesia, banyak di antaranya mengirimi saya dengan ungkapan simpati, ikut berduka atas peristiwa yang terjadi.

Pepatah mengatakan, butuh sekampung untuk membesarkan anak. Saya yakin setiap orangtua, setiap orang dewasa yang bertanggung jawab, dan pemerintah harus bekerja sama melawan pemangsa seksual dan mencegah terjadi kasus ini di lain waktu.

Leave a Reply
Aquila Klasik