Modest Style

Warna di Pentas Peraga

,

Pentas peraga (runway) di fesyen belum akan mewadahi keragaman dalam waktu dekat. Eren Cervantes-Altamirano memaparkan bagaimana kita dapat menemukan alternatif untuk diri kita sendiri.

Image: Stockvault
Image: Stockvault

 

Beberapa hari yang lalu, rumah mode Barat terkemuka dikritik oleh ‘Trio Keberagaman’ – demikian supermodel internasional Naomi Campbell, Iman, dan Bethann Hardison menyebut kelompok mereka. Dalam ajang Paris Fashion Week minggu lalu, trio ini membahas rasisme di pentas peraga dan kurangnya perempuan kulit berwarna dalam pergelaran busana. Calvin Klein dan Donna Karan termasuk dari rumah mode yang dituduh tidak melibatkan model kulit hitam. Trio ini juga mengecam praktik menggunakan wanita dari satu kelompok minoritas sebagai pengganti minoritas lainnya. Sebut saja: model Asia dengan warna kulit lebih terang dan fitur tubuh lebih tajam.

Saya secara pribadi senang bahwa kesadaran tengah dibangkitkan dalam industri ini. Namun, isu mendasar tetaplah bahwa industri fashion secara mendarah daging tetap eksklusif. Industri ini dibangun di atas gagasan bahwa kurus, tinggi, Barat, dan putih lebih baik daripada wanita kulit berwarna dan berukuran lain. Yang ironis adalah, di luar pentas peraga, rasisme cukup menyebar luas di dunia. Orang-orang di banyak negara meyakini rumus bahwa ‘kulit putih lebih baik’ (mungkin sebagai hasil dari kolonialisme). Sikap ini lazim, bahkan di kalangan umat Islam dari berbagai latar belakang ras dan budaya yang berbeda.

Lebih dari itu, bahu-membahu dengan pentas peraga, industri kecantikan (yang meliputi tidak hanya fesyen, tapi juga kosmetik) terkenal dalam membuat dan memaksakan standar kecantikan. Citra dari industri ini jarang menampilkan perempuan kulit hitam atau Asia, apalagi perempuan dari seluruh dunia atau wanita keturunan campuran (yang sebagian tidak berkulit putih).

Industri kecantikan memiliki norma-norma yang ketat dalam hal memilih representasi dan konsep kecantikan mereka. Dewasa ini, hanya segelintir produsen kosmetik yang mampu melayani wanita dari berbagai warna kulit, sementara sebagian besar menampilkan dan menargetkan perempuan kulit putih sebagai demografinya.

Kulit putih dan tubuh ramping merajai pentas peraga karena kita, sebagai konsumen, membenarkannya.

Sudah cukup lama industri fashion membela pilihan mereka atas para model dengan mengatakan tidak banyak model dari berbagai latar belakang etnis. Atau seperti yang dijelaskan pemimpin redaksi Vogue dalam blognya tentang perlunya ukuran yang seragam: ‘Menggunakan perempuan berbagai jenis (ukuran tubuh) menyulitkan dalam mencocokkan ukuran dan sepatu. Mempermak gaun pada menit-menit terakhir bisa dilakukan, tapi untuk ukuran sepatu hal ini tidak mungkin.’ [i]

Tapi ada masalah logika sederhana. Dengan mayoritas penduduk dunia berkulit non-putih dan tidak berukuran nol, bagaimana mungkin ada surplus model putih, berkulit terang, lebih tinggi dan lebih kurus daripada orang lain di seluruh dunia? Apakah mungkin karena industri fashion itu sendiri menyaring wanita dengan latar belakang etnis yang berbeda dan menganggap mereka terlalu gelap, terlalu montok, atau tidak secantik rekannya?

Industri kecantikan secara keseluruhan mempromosikan keunggulan kulit putih. Itu sudah buruk, tapi bagian terburuknya adalah banyak dari kita mendukung masalah sistemik yang melampaui tren ini. Faktor terbesar mengapa kulit putih dan tubuh ramping merajai pentas pergelaran adalah karena kita, sebagai konsumen, membenarkan hal itu.

Banyak dari kita menerima bahwa semakin putih semakin baik. Sebagai contoh, kita membeli produk pemutih, mewarnai rambut kita pirang platinum dan memakai alas bedak yang terang. Kita juga merasa bahwa kurus lebih indah dan menjalani metode diet yang tidak sehat untuk mencapai standar yang selain tidak realistis, juga ditanamkan oleh segelintir orang yang mendapat keuntungan dari keberhasilannya membuat kita percaya bahwa kita tidak cukup cantik.

Carilah merek dan produk yang menerima realitas kita, dan bukannya memaksa kita untuk menggantinya.

Meskipun ada masalah ras di industri ini, banyak dari kita yang masih menggemari fesyen dan kosmetik. Jadi, apa alternatifnya? Bagi saya, alternatifnya tidak mudah, tetapi bisa dilakukan. Idenya adalah mencari merek-merek yang ramah kepada wanita ‘nyata’.

Siapakah wanita ‘nyata’ itu? Kita semua. Perempuan dari berbagai latar belakang yang mewakili semua warna, semua fitur, dan semua ukuran tubuh. Carilah merek dan produk yang menerima realitas kita, dan bukannya memaksa kita untuk menggantinya. Ini bukanlah tentang menerima seorang model hitam mana pun di pentas peraga, seorang wanita ukuran biasa memakai adibusana, atau seorang wanita kulit putih mengenakan syal Dior atau Chanel sebagai kerudung, tapi untuk mendukung merek yang menyediakan alternatif untuk kita.

Banyak kreativitas dan komitmen terhadap perbedaan berasal dari para desainer dari berbagai wilayah geografis dan latar belakang muslim. Beberapa contoh termasuk koleksi warna-warni Mariah Bocoum dari Mali dan Amirah Creations dari Brooklyn, New York. Fokus mereka pada busana berlapis terbukti praktis bagi banyak perempuan muslim.

Selain para desainer yang telah berhasil menembus pentas peraga dan media, ada banyak desainer di seluruh dunia yang bisa menawarkan alternatif jika diberi kesempatan. Desainer lokal dapat membantu Anda merancang pakaian Anda sendiri dan menciptakan tampilan yang unik untuk Anda: pakaian yang sesuai dengan warna kulit, usia, dan gaya pribadi Anda tanpa dibebani ras dan bentuk tubuh.

Bukankah itu layak?

[i] Franca Sozzani, ‘Normal women or models on the runway?’, Vogue Italia, 13 Jan 2011, dapat dibaca di sini

Leave a Reply
<Modest Style