Modest Style

Wanita di Kontes Kecantikan: Diberdayakan atau Jadi Objek?

,

Entah bahu para pesertanya telanjang atau tidak, semua kontes kecantikan wanita pada dasarnya sama, tulis Sya Taha.

1702-WP-Pageants-by-Sya-SXC-sm

Sebagian muslim di Indonesia tidak senang terhadap final Miss World 2013 yang akan diselenggarakan di Bali pekan ini. Acara ini telah memicu protes dari kelompok konservatif di seluruh Indonesia. Sebagai respons terhadap kontes kecantikan yang klasik, Rofi Eka Shanty membuat kontes World Muslimah tahun 2011. Acara tahunan ini memilih 20 finalis dari lebih dari 500 kandidat menggunakan proses seleksi online berdasarkan kemampuan mereka dalam membaca Al-Quran, dan berbagi cerita tentang bagaimana mereka memakai kerudung.

Shanty menjelaskan alasannya untuk menciptakan alternatif Indonesia atas Miss World: ‘Kami tidak ingin hanya berteriak “tidak” kepada Miss World. Kami lebih suka menunjukkan kepada anak-anak kami, mereka memiliki pilihan. Apakah kalian ingin menjadi seperti wanita di Miss World? Atau seperti wanita di World Muslimah?’

Sikap yang membedakan kita-atau-mereka ini mengisyaratkan para wanita yang berpartisipasi dalam Miss World sebagai tidak sopan atau bermoral rendah – sebuah pandangan yang didukung oleh demonstran Indonesia yang memegang spanduk bertuliskan ‘Kontes Miss World Adalah Kontes Pelacur’ dan ‘Miss World Masuk ke Neraka’. Para wanita di World Muslimah, sebaliknya, salehah dan santun.

Sering tertukar dengan kontes kecantikan klasik lain seperti Miss Universe (yang mempromosikan kecerdasan dan sopan santun) dan Miss International (mempromosikan perdamaian dunia dan kebaikan), Miss World adalah kontes kecantikan tertua di dunia. Kontes ini dimulai pada tahun 1951 sebagai kontes bikini, tetapi segmen kecerdasan, kepribadian, dan bakat ditambahkan pada tahun 80-an sebagai respons terhadap protes para aktivis pembebasan perempuan di tahun 70-an. Sebuah kampanye yang lebih baru untuk mempromosikan konsep ‘kecantikan untuk aksi sosial’ adalah kontes Miss Earth yang berbasis di Filipina (mempromosikan aktivisme lingkungan) yang dimulai pada tahun 2001 – ide yang ditiru kontes World Muslimah dengan tujuan menunjukkan bagaimana ‘kecantikan bisa menjadi inspirasi yang menggerakkan’.

Meskipun ide utama kontes World Muslimah tampaknya bukanlah penilaian terhadap tubuh perempuan (yang tak ditutupi), acara ini masih meliputi ‘parade busana Islam’ untuk menunjukkan bahwa perempuan muda muslim tidak harus menunjukkan rambut ‘yang tak santun’ dan bahu telanjang mereka supaya dianggap cantik. Mengenakan hijab memang merupakan salah satu persyaratan utama (dan paling terlihat) dari acara World Muslimah, dengan foto-foto dari acara sebelumnya menunjukkan lautan kerudung dengan hiasan semarak. Menampilkan gaya kerudung juga merupakan salah satu segmen acara mereka.

Selain itu, sebelum memasuki grand final World Muslimah 2013 pada tanggal 18 September, 20 finalis harus berpartisipasi dalam lokakarya meliputi mata pelajaran spiritual seperti menghafal Quran, mengembangkan ‘kecerdasan kemanusiaan’, tantangan Islam, bagaimana menjadi istri dan ibu yang terbaik dalam Islam, serta mata pelajaran praktis seperti fotografi fashion, public speaking, kemampuan presentasi, kecantikan, gaya, model fashion, dan performa di panggung. Semua ini kegiatan tambahan selain membaca Al-Quran dan melakukan shalat wajib dan sunnah di hari acara final. [i]

Saya bisa menghargai kriteria alternatif untuk kontes World Muslimah, yang meliputi prestasi akademik dan sosial dan penanda tertentu kereligiusan, sebagai sarana untuk mempromosikan model panutan positif bagi perempuan muslim muda. Ini juga merupakan cara untuk membuat Islam lebih menarik bagi generasi muda, seperti yang ditunjukkan oleh versi laki-laki dari kontes Islam di Malaysia yang disebut Imam Muda, meskipun serial televisi ini tidak mencakup penanda fisik kereligiusan apa pun (misalnya memelihara janggut) dan menilai para pemuda berdasarkan pengetahuan serta keterampilan keagamaan mereka.

Namun, klaim bahwa World Muslimah adalah ‘jawaban Islam atas Miss World’ menimbulkan pertanyaan: Apa yang dicari Miss World? Miss World menerima wanita muslim, meskipun segmen baju renang dalam kompetisi tersebut sering kali berarti bahwa perempuan muslimah tidak bisa ikut.

World Muslimah sebagian besar merupakan kontes kecantikan wanita Indonesia (14 dari 20 finalis berasal dari Indonesia). Pada intinya, kontes ini masih seputar penilaian terhadap wanita berpendidikan yang muda dan langsing, serta apa yang mereka kenakan dan lakukan. Perbedaan pentingnya, kesalehan – satu-satunya faktor yang tetap tak terlihat dan hanya Allah yang dapat menilai (53:32) – sekadar ditandai dengan kemampuan membaca Quran (tidak harus memahaminya) dan mengenakan kerudung secara modis. Bagaimana dengan perempuan muslim yang melakukan banyak hal baik secara sosial dan kemanusiaan, tanpa harus menjadi hijabi?

Wanita yang berpartisipasi dalam kontes kecantikan tidak boleh dituduh sebagai pelacur yang tidak sopan. Tidak perlu bereaksi terhadap apa pun dari ‘Barat’ yang kita anggap merendahkan dengan membuat versi Islamnya untuk para hijabi. Marilah kita berpikir dua kali tentang dukungan terhadap segala bentuk kontes yang mempromosikan objektifikasi serta menilai tubuh dan pikiran perempuan.

[i] ‘World Muslimah tahunan 2013 pada 18 September’, Delina Partadiredja, 9 Sep 2013, dapat dibaca di sini.

Leave a Reply
<Modest Style