Volunturisme: Lebih Menghambat dari pada Membantu?

,

Meaghan Seymour bercermin pada dirinya saat bertugas sebagai relawan di luar negeri, dan bertanya apakah ada cara lain untuk membuat perbedaan.

(Foto: Pixabay)
(Foto: Pixabay)

Saya selalu senang menghabiskan waktu menjadi sukarelawan untuk sebab-sebab yang saya peduli,  dan saya orang yang sangat percaya, seringkali, sukaelawan untuk sebuah organisasi yang memerlukannya bisa sama berharganya, atau bahkan lebih berharga daripada memberikan dana moneter.

Itu sebabnya saya sangat ingin mendaftar sebagai relawan untuk sebuah proyek komunitas yang diselenggarakan oleh universitas saya ketika ada kesempatan. Saya tidak hanya akan mendapatkan kesempatan untuk bepergian, perjalanan itu juga merupakan cara yang bagus bagi saya untuk membuat perbedaan selama jeda semester mendatang.

Proyek ini membawa tim mahasiswa untuk bekerja dengan kelompok adat yang tinggal di daerah terpencil di Peru. Masyarakat berbicara sedikit Spanyol (bahasa resmi negara), bertahan pada tanaman jagung mereka, dan menjalani kehidupan yang sebagian besar terisolasi dengan sedikit akses terhadap kesempatan ekonomi. Dengan bantuan dari organisasi non-pemerintah lokal (LSM), kelompok itu bekerja pada sebuah cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan: mereka memiliki rencana untuk merenovasi rumah mereka dan menawarkan akomodasi sementara bagi wisatawan dalam  perjalanan mereka ke Machu Picchu.

Sebagai sebuah tim, kami menghabiskan sepanjang hari bekerja bersama tuan rumah kami di bawah terik matahari, dan belepotan lumpur saat menggali tanah dan meletakkan lapisan bata. Itu sama sekali bukan liburan, dan itu adalah beberapa pekerjaan yang paling sulit yang pernah saya lakukan., Hidup dengan masyarakat, saya belajar banyak tentang cara hidup mereka, termasuk bagaimana membuat blok bangunan dan plester (yang digunakan untuk membangun rumah) murni dari bahan tanaman yang diambil dari halaman belakang mereka sendiri!

Tetapi, sementara tuan rumah kami tampak bersyukur dan sangat ramah terhadap kami, saya punya banyak waktu untuk merenungkan apa yang kami lakukan di sana. Sebagai contoh, meskipun tim saya adalah pekerja keras, kami tidak cukup efisien dalam melakukan pekerjaan, karena tidak pernah melakukan pekerjaan fisik sebelumnya. Masyarakat setempat harus menyisihkan waktu dari pekerjaan mereka untuk mengajar dan membimbing kami melalui setiap langkah. Kadang-kadang, jelas bahwa kami benar-benar sebagai penghalang daripada membantu.

Biaya tiket pesawat ke Peru juga cukup besar. Daripada menerbangkan orang asing yang tidak berpengalaman ke luar negeri, LSM jauh lebih baik menggunakan sumbangan dengan mempekerjakan penduduk setempat.  Pekerjaan tidak hanya  diciptakan untuk masyarakat, bantuan dari penduduk lokal akan melakukan pekerjaan yang lebih efisien.

Hal ini menjadi lebih relevan ketika tiba waktunya bagi kita untuk pulang. Kami hanya mengemas kantong kami dan pergi ke bandara, meskipun proyek kami masih jauh dari selesai. Mengetahui bahwa relawan lain akan segera mengambil tempat kami dan meneruskan apa yang kami tinggalkan, kami tidak bisa benar-benar mengatakan bahwa kami telah benar-benar membuat perbedaan dengan usaha kami.

Keraguan saya menggaungkan banyak kritik dari program relawan luar negeri, yang kadang-kadang dijuluki  program “volunturisme”. Di luar keinginan untuk berbuat baik, organisasi yang memfasilitasi perjalanan tersebut sering dikritik karena menyediakan fasilitas lebih untuk kebutuhan relawan dibandingkan masyarakat yang mereka sebut dibantu, atau untuk mengoperasikan lebih seperti bisnis berorientasi keuntungan daripada sebuah organisasi yang benar-benar peduli tentang pembangunan.

Bagaimanapun juga, ada pelajaran berharga dan tak tergantikan yang saya bawa pulang. Tinggal dengan masyarakat membuat saya mengalami tingkat interaksi budaya yang mungkin tidak akan pernah saya dapat jika saya melakukan perjalanan sebagai turis. Penting bagi kita untuk mengalami kehidupan yang sama sekali berbeda dari kehidupan yang kita tahu. Hal ini pada akhirnya membuat kita lebih sadar tentang realitas kemiskinan, dan cara-cara di mana kita dapat membantu untuk memberantas itu.

Saya tidak akan pernah melupakan pengalaman sekali seumur hidup menjadi relawan di pegunungan Peru. Tetapi sebelum saya berniat berangkat lagi menjadi sukarelawan, saya akan bertanya pada diri sendiri beberapa pertanyaan penting:

Apakah saya benar-benar memiliki keahlian yang bisa ditawarkan kepada masyarakat?

Apakah saya mungkin akan menghilangkan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat?

Apa tujuan sebenarnya dari proyek ini dan apa pekerjaan yang diperlukan?

Apakah ada cara yang lebih efisien untuk memenuhi kebutuhan ini?

Ketika saya tiba di rumah di Kanada dan merenungkan perjalanan saya, saya menyadari bahwa saya tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk mengalami realitas keras yang dihadapi oleh masyarakat adat yang tengah berjuang. Melihat hubungan pahit negara saya sendiri dengan banyak kelompok pribumi terasing, jelas bahwa bantuan pertama bisa dimulai dari rumah.

Leave a Reply
Aquila Klasik