Modest Style

Muslim difabel butuh lebih dari sekadar doa

,

Sebuah video yang menekankan keuletan dan tekad seorang difabel mengingatkan institusi agama dan pemerintah untuk membuat kebijakan yang lebih inklusif. Oleh Sya Taha.

PAKISTAN-RELIGION-ISLAM-RAMADAN
Arif Ali/AFP

“Bagaimana keadaan Anda ketika datang ke masjid?” demikian kalimat pembuka sebuah video dari penceramah Kuwait, Mishary Al-Kharaz , sebelum ia memperkenalkan kita dengan “temannya dari Yaman”.

Video ini memperlihatkan Kamal, seorang pria muda dengan “keterbatasan”, saat ia memasuki masjid, shalat dengan duduk di atas sebuah bangku kemudian menju ke lantai dua setelah shalat maghrib untuk menghadiri kelas menghafal Qur’an.

Semuanya ia lakukan meski harus berjalan dengan sulit di lantai yang datar, harus merangkak menaiki tangga, dan berjuang untuk melafalkan ayat-ayat Qur’an karena suaranya yang tidak jelas. Ia juga harus bergantung pada seseorang untuk mengantarnya pulang dari masjid dengan bantuan sebuah lampu portabel, karena malam hari sangat gelap di sana sementar tidak ada satupun lampu jalanan.

Dilihat dari komentar-komentar untuk video tersebut di lini masa media sosial saya, simpati membanjir untuk Kamal. Orang-orang mendoakannya karena ia harus mengeluarkan lebih banyak tenaga untuk beribadah, dan ia bahkan beribadah jauh lebih tekun daripada kebanyakan orang dengan tubuh sempurna.

Meski begitu, menurut saya video tersebut dibuat lebih untuk membuat orang-orang dengan tubuh sempurna merasa bersalah karena tidak mendirikan shalat lima waktu di masjid. Video ini melewatkan rintangan struktural yang dihadapi oleh mereka yang difabel – terutama di Yaman – seperti kurangnya kursi roda (atau peralatan pendukung lainnya) yang terjangkau dan sesuai dengan kondisi lapangan, kurangnya lift di gedung-gedung, dan sikap umat Muslim lain di sekitarnya yang tampak tak peduli dengan kondisi laki-laki ini (mengapa kelas penghapalan Qur’an harus diadakan di lantai dua dan tidak dipindahkan ke lantai satu?).

Video ini juga tidak melakukan apapun untuk meningkatkan kesadaran terhadap orang-orang lain seperti Kamal, karena ia hanya digambarkan sebagai seseorang yang memiliki “keterbatasan”. Padahal sebenarnya ia menderita cerebral palsy, sebuah kondisi neurologis yang mempengaruhi pergerakan, koordinasi, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan belajar dalam berbagai tingkat. Meski tidak bisa disembuhkan, kondisi tersebut bisa diperbaiki dengan pengobatan atau terapi.

Bagaimana dengan “keterbatasan” jenis lain? Bagaimana dengan mereka yang membutuhkan jalanan landai atau lift untuk memasuki masjid, Qur’an Braille, atau bahasa isyarat untuk menyimak ceramah? Dan bagaimana bila Kamal adalah Kamila: sebagai seorang wanita, akankah ia diperbolehkan untuk memasuki masjid? Jika bisa, apakah ia harus merangkak menaiki tangga setiap kali datang untuk sholat? Akankah ia mendapatkan tempat sholat yang layakkesempatan untuk mendengarkan ceramah, dan akses ke kelas-kelas belajar Qur’an?

Tentunya kita tidak bisa terus menerus menekankan tekad seseorang di hadapan berbagai rintangan. Masjid-masjid membutuhkan perubahan untuk mengakomodasi jamaahnya juga. Kalau tidak begitu, untuk siapakah masjid ada? Hanya para pria bertubuh sempurna?

[Not a valid template]
Leave a Reply
<Modest Style