Modest Style

Ulasan Buku: The Hijab of Cambodia

,

Uraian mencekam Farina So atas kenangan para Muslimah Kamboja pasca pemerintahan Khmer Merah ini membuka mata Sya Taha terhadap berbagai pengalaman mereka.

WP-Cambodia-by-Sya

Cerita mengenai kekerasan berbasis gender, terutama di masa konflik, bukan lagi berita baru. Tetapi, yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah situasi geopolitik dan demografi konfliknya: Khmer Merah (dikenal juga sebagai republik komunis Kamboja Demokratis atau Democratic Kampuchea) yang berkuasa dari 1975-1979, dan kaum perempuan dari kelompok minoritas Muslim Cham yang menjadi target mereka. Sampulnya yang bersahaja dengan kombinasi ungu tua dan hitam meramalkan kekejaman sadis yang siap saya baca; cerita yang dituturkan para Muslimah suku Cham tentang kehidupan di bawah pemerintahan rezim Khmer Merah.

Buku yang ditulis berdasarkan tesis penulisnya untuk program magister di Universitas Ohio, The Hijab of Cambodia terbagi menjadi lima bab. Setelah pengantar dan bab pertama yang menjelaskan latar belakang sejarah masyarakat Muslim Cham dan perkembangan yang mengarah pada rezim Khmer Merah pada 1975, buku ini lalu memaparkan cerita para perempuan tersebut secara kronologis menurut tiga tema utama: perubahan peran perempuan dalam keluarga, upaya mereka dalam melestarikan agama dan identitas mereka, serta bentuk-bentuk kekerasan yang mereka hadapi.

Rezim Khmer Merah

Kebijakan genosida Khmer Merah bertujuan menyeragamkan populasi Kamboja— yaitu menjadikan semua orang suku Khmer dengan cara melenyapkan, membunuh, atau memaksa kelompok etnik dan agama minoritas untuk menyembunyikan identitas, bahasa dan agama mereka. Ini merupakan bagian dari rencana besar untuk menciptakan masyarakat Kamboja sosialis utopis tanpa kelas yang sebagian besarnya disusun dari pekerjaan bercocok tanam, menghindari kapitalisme dan menganiaya orang yang dianggap kapitalis. Oleh karena itu, Khmer Merah menyiksa para cendekiawan, tentara, dokter dan lain-lain, serta memecat biarawan Buddha dari jabatan pendeta—banyak orang dibunuh atau dikirim ke medan perang.

Keinginan khusus untuk menghapus agama pada umumnya dibuktikan dengan menodai masjid dan biara, serta membakar buku-buku agama seperti doktrin Buddha Dharma dan kitab suci Al-Quran. Kepada Stuart Alan Becker dari harian Phnom Penh Post, penulis Farina So menduga dua contoh pemberontakan Cham pada akhir 1975 selama bulan Ramadhan menyebabkan Khmer Merah secara khusus mengincar kaum Muslim Cham untuk dimusnahkan.[i] Hasilnya, sekitar 500.000 hingga 700.000 Muslim Cham harus berpura-pura menjadi suku Khmer, mengganti nama mereka, dan sangat berhati-hati untuk tidak bicara bahasa Cham. Meski begitu, masih banyak dari mereka yang tetap dienyahkan.

Aksi perlawanan

Cerita para perempuan ini terjadi di masa pengungsian paksa ke luar kota pasca-1975. Jutaan orang dideportasi ke desa-desa untuk bercocok tanam atau melakukan pekerjaan kasar. Pada ketiga tema keluarga, agama dan kekerasan ini, perhatian utamanya terletak pada aksi perlawanan, baik tersembunyi maupun terbuka, dari para perempuan Muslim Cham, yang dimotivasi keinginan untuk mempertahankan identitas etnik dan agama mereka.

Sebagai contoh, Bab 3 merinci bagaimana rezim tersebut melembagakan kegiatan makan dan hidup secara komunal (dengan begitu, memisahkan orangtua dari anak-anak mereka) sesuai dengan gagasan mereka akan pemberdayaan perempuan dan pembebasan dari tugas-tugas rumah tangga. Kaum perempuan Muslim Cham melawan kebijakan ini dengan diam-diam menemui anak-anak mereka untuk memelihara emosional mereka dan memberikan nasihat; memulung untuk mencari sisa makanan seperti hidangan laut dan kangkung untuk dimasak saat larut malam dan dimakan bersama-sama—makan di rumah adalah tanda pemberontakan—atau memberikan nama Muslim kepada bayi-bayi mereka yang baru lahir serta mengumandangkan azan dan syahadat ke telinga mereka setiap malam.

Bab 5 juga menggambarkan bagaimana kaum Muslimah Cham menggunakan berbagai strategi untuk menghindari siksaan, pemerkosaan atau hukuman penjara. Banyak cerita mereka yang mengasyikkan berhubungan dengan tingkat kengerian dan ketakutan yang dihadapi para perempuan ini; para pembaca bahkan akan kesulitan untuk membayangkan diri mereka berada dalam situasi seperti itu.

Melawan dengan mempraktikkan ajaran Islam

Sebagian besar dari 60 perempuan Muslim Cham yang diwawancarai mencoba berpegang pada prinsip-prinsip agama mereka dengan memodifikasi beberapa praktik ibadah. Ritual bersuci menjadi isu yang sangat sensitif, karena dapur umum sering menyediakan daging dan sup babi. Sementara itu, beberapa pekerjaan bercocok tanam pun melibatkan kegiatan memberi makan dan memandikan babi. Beberapa perempuan akan berusaha untuk tidak makan babi sesering mungkin—tidak mudah, karena memang tidak tersedia cukup banyak makanan untuk disantap. Yang lain akan secara diam-diam menyiapkan dan memakan apa pun yang dapat mereka temukan.

“Setiap kali saya memikirkan shalat dan praktik ibadah selama rezim Khmer Merah, saya ingin menangis karena kami sangat tertekan dalam semua aspek kehidupan,” kenang Halimah, salah seorang dari 12 perempuan yang memberikan wawancara mendalam untuk The Hijab of Cambodia.

Bab 4 menggambarkan kesulitan tertentu yang dihadapi para perempuan ini untuk melaksanakan shalat dalam situasi di mana mereka terus-menerus diawasi, mencoba berpuasa selama musim paceklik, dan bagi sebagian perempuan, menutupi rambut mereka. Beberapa mencoba shalat dengan duduk, secepat kilat, dan tanpa mengenakan mukena (seragam standar mereka adalah blus hitam). Walau demikian, kebanyakan dari mereka terhibur dengan fakta bahwa mereka dapat mengucapkan syahadat (pengakuan keimanan) tanpa pernah diperhatikan siapa pun. Mereka pun menghargai prinsip-prinsip bersabar dalam Islam; berharap kesabaran mereka dalam menanggung semua kesulitan tersebut suatu hari nanti akan mendapat balasannya.

Keragaman Islam

Salah satu hal paling menarik dari buku ini adalah mengetahui betapa beragamnya pelaksanaan ajaran Islam di antara para pengikutnya di seluruh dunia. Banyak dari apa yang dianggap “Islami” sering kali amat dikontekstualisasikan serta dipengaruhi oleh struktur sejarah, politik, dan sosial-budaya setempat. Misalnya, di antara umat Muslim Cham, anak-anak perempuan menerima warisan lebih banyak di bawah hukum Syariah mereka. Ada pula pengelompokan luas pengikut ortodoks dan tradisional, di mana golongan yang terakhir memiliki sejumlah praktik yang berbeda, seperti shalat hanya di hari Jumat.[ii]

Para Muslimah Cham di buku ini pun kelihatannya cukup dogmatis dalam mengikuti apa yang mereka anggap sebagai aspek penting dalam Islam. Maka dari itu, terciptalah dilema berupa perasaan terjebak antara “ketaaan beragama dan kelangsungan hidup” (h. 60). Saya menemukan hal menarik ketika tidak ada dari para perempuan ini yang membenarkan praktik modifikasi mereka sebagai akibat dari kondisi yang luar biasa genting. Padahal, Quran memberikan banyak contoh tentang keringanan maupun pengurangan pelaksanaan ibadah sebab agama memang tidak dimaksudkan untuk menyulitkan kehidupan umatnya (sebagai contoh, lihat 22:78).

Saya melihat ada sejumlah isu dengan banyak konsep yang kurang ditelaah, misalnya perempuan sebagai “pemelihara praktik Islam” (h. 57) atau “sistem keadilan Islam” (h. 102). Kedua hal ini seharusnya dapat diterangkan dan didekonstruksi dengan lebih seksama supaya lebih jelas; walau begitu, barangkali bukan itu yang menjadi tujuan eksplisit dari buku ini. Selain itu, karena bahasa Cham mirip dengan bahasa Melayu, menurut saya menarik bila lebih banyak kutipan wawancara yang disajikan dalam bahasa asli narasumber. Langkah ini pun akan membantu menghindari sejumlah ekspresi dalam bahasa Inggris yang agak aneh.

The Hijab of Cambodia membuka mata saya—tidak hanya tentang kekejaman rezim Khmer Merah, tetapi juga tentang betapa perempuan, terutama para Muslimah Cham, mengalami penderitaan yang spesifik. Karya Farina ini sangat berharga sebagai bukti abadi dari cerita-cerita mereka, untuk mendidik generasi berikutnya, dan untuk menyampaikan informasi ini ke penjuru dunia.

[i] Stuart Alan Becker, Heroic Cham women used emotional power to help save their people, The Phnom Penh Post, 4 Nov 2011, bisa dilihat di sini

[ii] Ibid.

Leave a Reply
<Modest Style