Modest Style

Ulasan Buku: ‘Children’s Letters to God’

,

Zinah Nur Sharif menemukan kiat untuk terhubung kembali dengan Tuhan dalam cara yang paling tulus.

2301-WP-Zinah-Review-sm

Saat beranjak dewasa, kita mengalami banyak pelajaran dalam perjalanan hidup kita. Ketika pandangan kita terbentuk dan terbina selama perjalanan itu, kita pun membangun kesadaran serta memiliki pemahaman lebih baik akan kehidupan—sifat terpuji yang perlu diwujudkan. Meski demikian, saat seseorang bertambah usia, kepolosan masa kecil cenderung memudar, sisi ceria kita terkunci di dalam, rasa ingin tahu menghilang dan yang paling buruk, kita lupa untuk berkomunikasi secara tulus dengan Allah.

Ramadahan adalah waktu yang sempurna untuk melakukan refleksi diri, melihat ke belakang dan menemukan kembali ketulusan, melakukan segala sesuatu dengan pandangan optimistis, berpikiran terbuka, dan yang paling penting dari semua itu, lebih mendekat kepada Allah.

Tidak ada batasan mengenai bagaimana cara lebih dekat dengan Allah: mulai dari berdoa hingga mengingat-Nya, mulai dari memohon ampunan hingga bersyukur kepada Allah atas semua berkah-Nya. Sebagian orang memilih berbicara kepada Allah, sementara yang lain senang menggunakan kekuatan doa.

Bagi saya, ada satu cara yang kelihatannya agak tidak lazim dan benar-benar polos: menulis surat kepada Allah. Baru-baru ini saya menemukan buku berjudul Children’s Letters to God karya Stuart Hample dan Eric Marshall, buku mungil bergambar yang langsung menarik perhatian saya.

Buku ini terdiri dari 60 surat yang ditulis anak-anak yang agamanya tidak ditentukan secara spesifik. Isi surat-suratnya bervariasi, tapi dibagi dalam sembilan kategori berbeda seperti dilema, harapan, keluh kesah dan ucapan terima kasih. Buku yang merupakan reproduksi dari tulisan tangan asli anak-anak ini terbilang ‘hidup’ berkat ilustrasi Tom Bloom yang khas kanak-kanak.

Membacanya membuat saya sadar betapa murninya pikiran anak-anak. Amatlah menarik melihat bagaimana mereka memandang keberadaan Tuhan dan bagaimana sejumlah anak tampak lebih bersyukur dari orang dewasa dalam usia sedemikian muda. Harus saya akui, beberapa surat sangat menyentuh dan menjadi peringatan yang baik bagi orang dewasa.

Satu contoh adalah surat dari bocah laki-laki bernama Elliott. Dia menulis, ‘Ya Tuhan, kadang-kadang saya memikirkan-Mu, bahkan saat saya tidak sedang berdoa.’ Ketika saya membacanya, saya berpikir sendiri, kapan kita memikirkan Allah selain dalam shalat? Seberapa sering? Dan apa yang membuat kita kadang melupakan Sang Pencipta?

Kecerdasan anak-anak ini mungkin jauh di atas rata-rata, karena saya lihat pada umumnya anak berusia 8-12 tahun tidak benar-benar memiliki pikiran yang sama tentang Pencipta kita. Sementara surat yang ditulis para keponakan saya (dan anak-anak lain yang saya minta menulisnya) menunjukkan rasa syukur mereka lebih dari apa pun.

Walau begitu, salah satu dari mereka berkata, ‘Tapi Allah mendengar doa-doa dan tidak punya alamat pos untuk membaca surat.’ Hal ini membuat saya mempertanyakan asal-usul buku ini, terutama karena usia anak-anak ini tidak disebutkan. Sejumlah surat tidak seperti ditulis oleh anak-anak karena susunan kalimat, tata bahasa, dan isinya. Tanpa bermaksud terlihat terlalu skeptis, saya tidak begitu yakin berapa banyak dari buku ini yang jujur dan berapa banyak yang rekaan.

Menurut pendapat saya, buku mungil ini boleh saja dibeli, tapi tidak wajib dikoleksi.

[Not a valid template]
Leave a Reply
<Modest Style