Modest Style

Terobsesi Pada Hijab? Beralihlah…

,

Fokus yang berlebihan pada hijab bertentangan dengan prinsip-prinsip kesederhanaan dan kesantunan, tulis Sya Taha.

Jajak pendapat di Facebook baru-baru ini mengungkap topik paling populer di kalangan muslimah saat ini: hijab, hijab, hijab. Saya sudah menyebut hijab, belum? (Gambar: Dreamstime)
Jajak pendapat di Facebook baru-baru ini mengungkap topik paling populer di kalangan muslimah saat ini: hijab, hijab, hijab. Saya sudah menyebut hijab, belum? (Gambar: Dreamstime)

Jajak pendapat di Facebook baru-baru ini mengungkap topik paling populer di kalangan muslimah saat ini: hijab, hijab, hijab. Saya sudah menyebut hijab, belum? (Gambar: Dreamstime)

Ketika saya masih menjadi mahasiswa studi gender dan pembangunan di Den Haag, saya berdiskusi dengan seorang teman muslim dari Rwanda. Selagi kami berbicara tentang norma-norma menutup tubuh dalam pakaian tradisional, fokus kami bergeser ke teman Palestina kami yang selalu terlihat mengenakan kerudung.

‘Tapi kau tahu, dia memiliki tonjolan di belakang kerudungnya. Itu haram,’ teman saya menyimpulkan, mengakhiri percakapan. Dia merujuk pada hadits yang mencemooh wanita yang memakai penutup kepala dengan gaya yang mirip punuk unta dan menuduh mereka tidak akan masuk surga.

Percakapan singkat ini, bagi saya, merangkum fenomena hijab kontemporer. Fokus pada penampilan dan peraturan legalistik mengaburkan konsumerisme massal dan konsumsi tak etis yang mengelilingi industri kecantikan.

Perempuan cantik

Carilah ‘hijab’ di YouTube dan Anda langsung menemukan sejumlah besar video tutorial berhijab. Di Internet, topik ini sedikit bergeser ke arah kebutuhan nyata untuk mengakurkan fashion dengan hijab. Sebagian orang meyakini hijab harus sesantun mungkin (dan ini termasuk cara berbicara dan perilaku seseorang), sementara yang lain tidak melihat alasan hijab sebagai aturan berpakaian harus menghentikan mereka dari hobi berbelanja dan mempersoalkan gaya.

Masing-masing kubu sering dikritik: kubu sederhana kadang-kadang dianggap terlalu kolot dan berpakaian yang tidak sesuai untuk kehidupan modern dan sekuler, sementara kubu bergaya sering menjadi incaran para pengutip hadits yang menghina dan merendahkan ‘punuk unta’. Respons terhadap citra perempuan muslim yang tertindas di media-media besar dan upaya-upaya untuk menunjukkan bahwa perempuan muslim adalah warga negara yang berharga sayangnya telah merosot menjadi sangat beraura kapitalis.

Meski berhasrat untuk mematuhi aturan berpakaian yang diterima sebagai kesantunan yang pantas dan ‘Islami’, banyak perempuan muslim masih terjebak dalam konsepsi feminitas yang memperlakukan perempuan sebagai objek. Secara umum, perempuan – baik muslim atau bukan – harus berkulit terang, ramping, cantik, dan sopan-pendiam. Teman-teman dan keluarga dengan niatan baik memperkuat persepsi ini dengan menyarankan penggunaan tabir surya dan melarang terlalu banyak olahraga (supaya jangan terlalu berotot) atau berbicara terlalu lantang. Ketika saya dulu memakai kerudung, saya sering dicela karena tidak mengenakan aksesori yang memadai, dan tidak memakai riasan wajah yang cukup – pendeknya, saya tidak tampak cukup cantik meskipun ini bukanlah tujuan saya ketika berpakaian santun.

Obsesi terhadap perempuan ideal ini ditunjukkan oleh marginalisasi visual perempuan berukuran plus dan perempuan dengan kulit berwarna di industri fashion secara umum (termasuk industri ‘muslimah’) serta aktivis dan atlet perempuan di media besar. Dalam setiap majalah komersial yang ditargetkan untuk perempuan Muslim, bandingkan jumlah halaman yang menampilkan gaya atau makeup berhijab dengan halaman untuk olahraga, seni, musik, karya kemanusiaan, atau ilmu pengetahuan.

Sebaliknya, perempuan Muslim yang tidak memakai hijab sering terjebak seolah-olah mereka harus menyesuaikan diri dan berdamai dengan gambaran bagaimana perempuan muslim seharusnya dikenali. Hijab yang dimaknai secara wujudiah oleh World Hijab Day – Hari Hijab Sedunia – yang mendorong perempuan non-muslim untuk mencoba berhijab selama satu hari – menggambarkan betapa pengalaman perempuan muslim yang beragam direduksi menjadi sekadar masalah berkerudung.

Dalam komunitas muslim saya di Singapura, ada juga stigma perawan-pelacur yang hitam putih: perempuan muslim yang berkerudung berarti beriman dan salehah, sementara yang tidak berkerudung pasti perempuan gila pesta atau sedikit banyak kurang beriman.

Konsumerisme

Fokus kita pada penampilan cukup problematik. Namun, ini juga menutupi masalah konsumerisme massal yang lebih besar di industri fashion muslimah. Sosialita Amerika Wallis Simpson pernah berkata, ‘Anda tidak pernah bisa terlalu kaya atau terlalu kurus’, kalimat sakti yang tampaknya diamini oleh beberapa perempuan muslim dalam bentuk memiliki terlalu banyak hijab dan pakaian ‘paling trendi namun santun’. Hal ini sebagian disebabkan oleh norma-norma kewanitaan yang berlaku di setiap masyarakat – termasuk muslim – dengan kelas menengah yang signifikan. Muslimah tidak bisa hanya mengenakan kerudung katun, mereka berada di bawah tekanan sosial yang hampir universal untuk mengenakan busana berlapis-lapis, menyerasikan warna hijab mereka, dan memakai riasan wajah.

Semua norma ini mengharuskan perempuan muslim untuk menginvestasikan banyak waktu dan uang. Tanpa kesadaran dan aktivisme dalam hal berbelanja secara etis, maka prinsip kesantunan dan hubungannya dengan semua jenis kesederhanaan pun hilang. Tanpa pengertian luas tentang etika di balik semua tindakan kita (di luar kewajiban ‘menutupi aurat’), termasuk etika mengkonsumsi, saya percaya bahwa tujuan kita berpakaian sederhana sia-sia belaka.

Dalam Al Quran, Allah menganjurkan kita untuk mengonsumsi tanpa berlebihan (2:60) atau menindas orang lain (20:81). Sebuah aturan tentang berpakaian sederhana perlu secara langsung dihubungkan dengan berbelanja secara etis terkait robohnya pabrik garmen Rana Plaza di Bangladesh yang menewaskan sedikitnya 1.129 orang baru-baru ini. Pabrik-pabrik garmen, tidak hanya di negara berkembang tetapi juga di negara maju, cenderung diisi dengan perempuan kulit berwarna. Zara, H&M, dan banyak pengecer pakaian besar lainnya juga bergantung pada buruh berupah rendah di seluruh dunia (meskipun mereka baru-baru ini berkomitmen untuk meningkatkan standar keselamatan kerja). Ini berarti bahwa banyak pakaian yang sangat disukai oleh perempuan muda muslim dibuat oleh perempuan (dan laki-laki) yang terpinggirkan di seluruh dunia – banyak dari mereka adalah muslim juga.

Di luar hijab

Kedua kubu perempuan muslim harus menuntaskan masalah seputar hijab ini. Silahkan pakai kerudung atau tidak. Silahkan memakai make up atau tidak.  Berpakaianlah seperti yang Anda sukai, tetapi jangan sampai kita melupakan bahwa konsumsi kita memiliki konsekuensi besar bagi perempuan muslim lain dan komunitas terpinggirkan di seluruh dunia.

Leave a Reply
<Modest Style