Modest Style

Tentang Menghakimi Orang Lain

,

Apa hubungannya papan ketik dengan menghindari menghakimi orang lain? Afia R Fitriati mempunyai jawabannya.

Jagalah agar lensanya selalu bebas noda
Jagalah agar lensanya selalu bebas noda

Bayangkan bila tombol jarak/spasi di papan ketik kita rusak.

Setiapkalimatyangkitaketikakankelihatansepertiini.

Kalimat di atas kelihatan aneh dan perlu sedikit perjuangan untuk membacanya. Kalau dipikir-pikir, begitulah cara pikiran kita bekerja ketika menilai dan menghakimi orang lain. Terlalu sering, kita bergantung pada kesan pertama atau bentuk informasi lain yang terbatas sebelum melompat ke kesimpulan tentang seseorang. Kadang-kadang, kita bahkan tidak memberikan ruang spasi dalam pikiran kita untuk kesan kedua.

Penilaian yang cepat dan membabi buta terutama terlihat pada jaringan media sosial. Sebuah status Facebook yang tampaknya sederhana atau ‘selfie‘ (potret diri sendiri) yang biasa saja bisa memicu komentar pedas yang keliru dan negatif.

‘Banyak orang yang ber-‘fa-twit’ sinis atas segala hal, mulai dari mantel yang saya pakai sampai perilaku saya yang konon tidak pantas,’ kata desainer hijab yang saya wawancarai beberapa waktu lalu. Saya yakin pengalamannya dirasakan oleh banyak desainer fesyen lainnya, hijabi, non-hijabi, atau siapa saja yang menonjol di antara orang banyak untuk hal itu.

Meskipun membuat penilaian dan bersikap menghakimi kedengarannya sama, saya pikir ada perbedaan besar antara dua tindakan tersebut. Mampu membuat penilaian pribadi adalah keterampilan yang kita butuhkan untuk membedakan yang benar dari yang salah dan tetap setia pada inti identitas kita, apa pun itu. Akan tetapi, bersikap menghakimi atau terlalu cepat memberikan penilaian, menggambarkan suatu proses berpikir yang tidak lengkap, tidak sabar, dan ketidakpekaan dari orang yang membuat penilaian.

Walaupun Islam mendorong kita untuk saling menasihati (103:1-3), kita hanya boleh melakukannya dengan ketulusan, cinta, dan kebaikan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad (saw) dan semua nabi sebelum beliau. Sebuah cerita yang sering terlintas dalam pikiran saya adalah kisah ketika seorang Badui buang air di masjid tempat Nabi dan para sahabat tengah berkumpul. Bukannya marah, Nabi diriwayatkan mengatakan kepada para sahabat untuk membiarkan pria itu dan untuk menuangkan air di atas area yang tercemar setelah ia selesai berhajat. Beliau lebih jauh diriwayatkan berkata, ‘Kalian telah diutus untuk membuat segalanya mudah dan tidak mempersulitnya.’ [i]

Seperti dicontohkan oleh Rasulullah (saw) dalam hadits di atas, mampu membuat penilaian tentang benar atau salah tidak sama dengan menghakimi orang lain. Bagaimanapun, Allah adalah Hakim sejati yang akan memutuskan semua hal.

Kita hanyalah manusia biasa yang melakukan kesalahan, bahkan ketika kita berpikir kita benar, karena itu sebaiknya kita berpikir dua-tiga kali sebelum menilai orang lain.

Mungkin itulah sebabnya spasi merupakan tombol terbesar pada papan ketik – hingga sejauh ini.

 

________

 

[i] Dituturkan oleh Abu Hurairah, dalam Bukhari, dapat dibaca di sini

 

Leave a Reply
<Modest Style