Modest Style

Tanda Mata dari Masa Kecil

,

Membersihkan lemari bisa menjadi ajang memilah-milah masa lalu, namun juga bisa memberikan kesegaran yang mendalam, tulis Amal Awad.

Gambar: SXC
Gambar: SXC

Di Australia, cuaca berubah-ubah. Ketika musim dingin terasa aneh, silih berganti antara sepoi angin hangat musim panas dan suhu dingin yang menggigit, angin kencang yang menghantarkan musim semi datang mengejutkan saya. Namun saya kira pergantian musim adalah momentum untuk melakukan perubahan secara nyata dan bermakna.

Perubahan tak selalu berjalan mulus. Perubahan datang menyeruak tiba-tiba dan samar-samar, sebuah kesempatan untuk melepas masa lalu dan membuka jalan bagi kehidupan baru. Demikianlah sang musim semi dikenal: momen pembaruan. Tidak seperti layaknya sengatan musim panas, ia menyegarkan, membersihkan dan membawa serta matahari. Kita juga melakukan spring clean (masa bebersih) secara metaforis, membuang kayu mati  dari musim-musim sebelumnya.

Saya menyukainya. Sepertinya tepat bersamaan dengan dimulainya musim semi, saya merasa perlu memilah beberapa barang-barang lama. Sesuai permintaan ibu saya, saya pulang ke rumah untuk menyortir kotak-kotak berisi barang-barang yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun namun tak saya bawa serta saat saya pindah beberapa tahun silam.

Ada saat-saat muncul pikiran kenapa-dulu-bisa-terpikir-begini: tas tangan yang saat itu rasanya cocok buat saya; berkotak-kotak CD, DVD dan kaset VHS dengan beragam rekaman tayangan yang saya nikmati saat remaja. Jangan tanya soal pakaian, kebanyakan berukuran jauh lebih besar untuk gadis yang saat itu seringkali berpakaian gombrong.

Sesaat, semua memori lama itu datang kembali, dan saya memahami diri saya waktu muda dulu.

Saya tak memerlukan barang-barang itu saat ini. Kenyataannya, seiring waktu, saya berubah jauh lebih praktis dalam hal memiliki barang-barang. Saya mahfum perihal menyimpan potongan tiket dari acara-acara spesial, atau kiriman kartu dari orang-orang yang mencintai kita. Namun kebanyakan barang yang kita beli dan kita pakai hanyalah sekadar objek – nilai barang itu tidak terletak di dalamnya, namun ada bersama apa yang kita kaitkan dengannya (seringkali, berupa kenangan). Barang-barang itu punya masa-pakai, namun tak demikian dengan orang-orang dan emosi yang melekat bersamanya.

Oleh karenanya saya mencoba bersikap praktis dan tak menjadi gemar-menyimpan. Saya pergi ke rumah orangtua saya dengan sebuah misi, siap untuk tega membuang banyak barang, menjualnya beberapa, dan membungkus kantong-kantong berisi pakaian untuk disumbangkan.

Namun ternyata ada beberapa barang yang membuat saya terhenti sejenak, dan sekelebat membawa saya ke ruang dan waktu yang berbeda dalam hidup saya. Sebuah kotak tertentu membuat saya merasakan sedikit sensasi ngilu di perut, dan tarikan tajam di dada. Dalam sekali tarikan napas, kenangan masa kanak-kanak menyeruak datang kembali dan saya merasa hati saya melompat.

Kotak itu berisi beberapa buku berseri yang setia saya baca dan saya koleksi saat saya terseok-seok menapaki masa peralihan remaja. Meski tak ada gadis muslim dengan orangtua yang galak dalam The Baby-Sitters Club, saya menyukai dan merasa dekat dengan gadis-gadis itu.

Di lain waktu, saya tenggelam dalam jatuh bangun si kembar Wakefield dalam serial Sweet Valey High yang sepertinya tak berujung, mungkin sebuah penggambaran yang paling tak-nyata dari kehidupan remaja Amerika yang pernah dituliskan.

Sesaat, semua memori lama itu datang kembali, dan saya memahami diri saya waktu muda dulu. Saya ingat pengharapan besar yang telah dijanjikan oleh buku-buku ini, gagasan bahwa kehidupan bisa berpihak padamu dan mimpi-mimpimu. Saya menyadari pentingnya memiliki jangkar serupa ini di masa remaja, tempat untuk kembali di saat kita merasa sedikit tersesat, ketakutan dan tak puas.

Buku-buku ini membawa kenangan itu kembali, namun saya sedikit terkejut oleh apa yang tidak terbawa –rasa keterikatan.

Hidup tidak dimulai saat kita dewasa, namun sebagai manusia matang kita melihat segala sesuatu tanpa kepolosan kanak-kanak yang membentengi kita. Rasanya ini menjadi pertanda baik bahwa saya tak lagi membutuhkan jangkar-jangkar itu. Saya tak melihat kotak-kotak itu dengan rasa takut untuk membuangnya, seperti yang mungkin saya rasakan di masa lalu. Sebelumnya, saya mungkin akan merasa terikat dengannya, seolah mereka menggenggam harapan dan impian saya, seolah tanpa mereka saya akan terlupa tentang siapa saya. Namun seiring kita bertumbuh, kita berevolusi; kita mereka-ulang diri kita lagi dan lagi, seperti sebuah film yang dicipta-ulang sehingga akhirnya mewujud menjadi sebuah kisah yang tepat.

Saya telah melampaui banyak introspeksi diri selama beberapa tahun belakangan ini, dan upaya ini termasuk hipnoterapi, meditasi terbimbing dan bahkan program neurolinguistik. Tak satu pun dari upaya ini akan bekerja karena perubahan ada di tangan kita. Semua itu hanyalah alat untuk menggembleng kita menyelami diri dan menemukan siapa diri kita dan apa yang sebenarnya kita cari. Ini adalah proses berkelanjutan dari evolusi.

Bagian dari merengkuh perubahan adalah membongkar sauh yang telah menancapkan kita pada pola dan perilaku negatif. Namun yang mencerahkan buat saya adalah bahwa jangkar-jangkar yang dulu menjadi pengingat pedih kehidupan itu telah mengubah kita menjadi diri kita saat ini.

Beberapa tahun lalu, kotak berisi buku-buku penyemangat itu sanggup membuat hati saya menciut dengan cara yang keliru. Namun kini tak ada lagi ketakutan dan kepedihan yang saya rasakan, yang ada adalah suka-duka yang membahagiakan, karena saya memandangnya dan melihat diri saya sebagai gadis belia. Saya merasa bersyukur atas masa kanak-kanak itu dan rasa aman yang diberikan oleh dunia yang saya tinggali, setiap kali saya membuka sebuah buku.

Dan saya juga melihat seberapa jauh yang telah saya capai. Saya melihat diri saya sekarang, dan saya bersyukur atas pengingat tentang seberapa banyak saya telah berubah.

Leave a Reply
<Modest Style