Modest Style

Sutradara Perempuan Saudi Pertama ‘Membangun Jembatan’ melalui Film

,

Dengan perhatian dunia tertuju padanya, sutradara perempuan pertama Arab Saudi Haifaa Al-Mansour menceritakan misi yang diemban oleh filmnya pada Amal Awad.

Gambar milik Hopscotch
Gambar milik Hopscotch

Mudah mungkin meremehkan sambutan yang diterima Wadjda, film pertama dari Arab Saudi yang disutradarai oleh seorang perempuan, sebagai suatu hal yang tidak benar-benar memahami pentingnya kemunculan film itu sendiri. Lagipula, filmnya hanya bercerita tentang sesuatu yang amat sederhana: Seorang perempuan muda (diperankan dengan baik oleh pendatang baru Waad Mohammed) yang sedang mendekati masa pubertas, bermimpi membeli sepeda di sebuah negara di mana anak perempuan tidak bersepeda.

Seperti halnya film Iran Children of Heaven yang banyak dibicarakan, Wadjda merupakan fabel modern serupa dan sebuah pembuka jalan kebangkitan kelas feminis Arab Saudi. Meski begitu, dengan menonton film ini Anda akan mengetahui bahwa sambutan tersebut memang pantas diterima oleh film ini.

Sementara ini film Wadjda mendapat 99 persen rating di situs Rotten Tomatoes. Sutradara Haifaa Al-Mansour memukau dalam sebuah wawancara dengan Jon Stewart dalam acara Daily Show, dan bahkan telah mendapat restu dari kerajaan Arab Saudi yang keras untuk mengikutsertakan film tersebut ke dalam nominasi Oscar kategori film asing. Meski gagal masuk ke dalam daftar nominasi, hal ini jelas merupakan indikasi sebuah kemajuan, tidak peduli sekecil apapun.

“Menurut saya, penting mendorong negara ini untuk maju dan menerima adanya hak azasi perempuan. [Mewujudkannya] perlu kerja keras [dan] tidak akan terjadi begitu saja dalam semalam,” sebut Haifaa.

Penekanan pada status perempuan di masyarakat Arab Saudi merupakan elemen yang turut dibahas Wadjda. Haifaa menyebutkan sebagai contoh bahwa aksi perempuan Arab Saudi mengemudikan mobil merupakan hal yang tidak ingin disaksikan oleh banyak orang.

“Namun sangat penting untuk bergerak di dalam sistem dan mendorong batas sedikit demi sedikit, dan membuat ruang yang sedikit lebih luas.”

Hal ini mencakup pencapaian seni, sebuah jalan yang diharapkan Haifaa telah ia bukakan untuk calon pekerja kreatif perempuan.

“Saya merasa seakan saya telah membukakan jalan untuk pembuat film lain, dan mungkin para perempuan akan terdorong untuk menempati posisi-posisi penting. Perempuan di Arab Saudi merasa sangat rendah diri dalam hal ini. Mereka ingin selalu tertutup – karena muncul di koran maupun berbicara setegas ini [dianggap] tidak terhormat.”

Lebih banyak film

Bukan masalah bagi Haifaa – ia selalu sibuk. Ia telah menandatangani kontrak untuk menyutradarai A Storm in the Stars, sebuah film tentang novelis Inggris Mary Shelly, dalam film yang akan menjadi karya perdananya di AS. Berbasis di Bahrain, di mana suaminya ditugaskan sebagai diplomat, Haifaa juga sedang membuat karya kedua yang bertempat di tanah airnya.

“Sekarang saya berusaha membuat sesuatu tentang lelaki. Menurut saya, Arab Saudi merupakan tempat yang konservatif baik bagi lelaki dan perempuan, jadi kini saya mengeksplorasi bagian lainnya, yang dipersulit oleh segrerasi Arab Saudi,” jelasnya.

Untuk saat ini, kita dapat melihat cara pandang Haifaa yang mengejutkan tentang hidup sebagai perempuan di Arab Saudi. Dalan Wadjda, jelas bahwa ketidakseimbangan jender di negara tersebut merupakan hal kunci, namun Haifaa tampak membicarakan masyarakatnya tanpa menjelek-jelekkan.

Haifaa menerima pujian ini, dan menyebutkan bahwa ia menyatakan hal-hal yang ingin ia ungkapkan di dalam film.

“Arab Saudi merupakan tempat yang keras bagi perempuan. Setiap hari mereka didiskriminasi, mereka menjadi warga kelas dua, dan sebagainya. Bagi saya, saya juga ingin membuat film yang emosional, yang memikat. Bukan hanya untuk menyampaikan kritik namun juga untuk menyampaikan cerita, dan berharap bahkan orang-orang di tanah air akan menyukai kisahnya sekaligus tidak menerimanya begitu saja.”

Bagi Haifaa, membuat film yang sensitif lebih penting daripada film yang “berlebihan”, sebuah pendekatan yang dapat menyinggung dan mengisolasi orang, dan menjauhkan mereka dari Wadjda.

“Saya pikir inti dari film dan seni pada akhirnya adalah untuk menjembatani.”

Perempuan Arab

Lagipula, Haifaa ingin perhatian yang ditujukan kepadanya berpindah pada ketangguhan perempuan Arab, banyak di antaranya yang menerima hidup mereka apa adanya. Di dalam film, ibunda Wadjda yang diperankan dengan manis oleh Reem Abdullah merupakan potret ibu Arab yang terjebak – dan setidaknya pada awalnya – tidak dapat membiarkan putrinya melawan standar yang telah ditetapkan oleh masyarakat.

Haifaa tidak ingin menekankan hal tersebut, namun ia menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan cerita umum. Setiap perempuan Arab ingin memasak, terlihat cantik, dan mengikuti peraturan masyarakat, ujarnya.

“Dan pada akhirnya, mereka tidak mendapat penghargaan apapun untuk segala pengorbanan yang telah mereka buat, padahal mereka berkorban banyak kebahagiaan dan kemandirian dan berbagai hal lain, hanya untuk dapat diterima [masyarakat].”

“Bagi saya, bagi tokoh [ibu] hal ini hampir merupakan revolusi. Ia ingin memberi putrinya apa yang tidak mampu ia dapatkan, bersikap tegas pada masyarakat. Saya ingin perempuan mempercayai diri mereka dan tidak terlalu mengikuti tuntutan.”

Haifaa menekankan bahwa pendidikan merupakan kontributor penting dalam membuat kemajuan. Arab Saudi baru-baru ini menindaklanjuti kampanye anti kekerasan rumah tangga mereka dengan mengizinkan perempuan untuk memberi suara mulai 2015, dan secara umum meningkatkan upaya pemberitahuan kepada warga perempuan mereka tentang pentingnya kesehatan dan kesejahteraan (contohnya, kampanye kesadaran terhadap kanker payudara, yang sayangnya menggunakan model lelaki). Namun seperti yang diucapkan Haifaa, tidak setiap orang menggunakan media sosial.

“Dan mayoritas warga Arab Saudi tidak menggunakan Twitter maupun Facebook, dan mereka adalah bagian dari orang-orang yang sangat konservatif dan tidak ingin melihat perempuan mengemudi maupun berubah, karena itulah yang mereka tahu. Sangat penting bagi pendidikan untuk memiliki gerakan akar rumput. Hal ini membutuhkan waktu.”

Meski begitu, hampir seperti Wadjda yang berkeinginan kuat, Haifaa bersedia memberikan usaha terbaik dan waktunya untuk menciptakan perubahan.

“Pada waktu dan masa ini, berbagai hal berubah dengan cepat dan saya sangat mengharapkan perempuan dapat mulai memberi suara tahun depan, dan banyak perubahan yang akan terjadi. Pun begitu, menurut saya pendidikan akan benar-benar mengubah pola pikir sebelum terjadi perubahan lain, dan perubahan membutuhkan waktu.”

Leave a Reply
<Modest Style